Tampilkan postingan dengan label memek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 November 2010

Dina, montoknya Istri Kakakku

Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina.
Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost.
Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.

Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah.
Sering kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku.
Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda.
Lama-lama Terkesan kalau Dina lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni.
Karena Kak Deni jarang pulang akhirnya kami sering keluar jalan-jalan.
Dan terkadang kami nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina.
Sering Dina dikira pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya.
Seluk beluk di dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik.
Keesokan harinya sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan kemana Dina.
Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV.
Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam,
terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang,
sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku.
“Maaf Mbak!” sahutku dengan tidak enak.

Lalu kututup pintu kamar dan keluar.
Sekilas teringat yang sekilas kulihat tadi.
Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar
dan daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya.
Sesaat beberapa lama di dalam kamar.
Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan di kamarku.
Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya.
Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal.
Akhirnya seiring adegan film aku berkhayal bercinta.
Kukeluarkan penisku dan kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku.
Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku.
Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.

“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.
“Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.
“Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.
“Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.
“Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
“I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
“Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.
“Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.
“Mau minjem Mbak.. apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.
“Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.

Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film.
Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang berhubungan di film bokep.
Mungkin karena kami sering berdua dan bicara dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan.
Kami tidak canggung lagi.
Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami sadari Dina milik kakakku.
Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama.
Kami akhirnya mulai sering melirik dan bertatapan mata.
Sesaat saat film berputar tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan.
Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak mengikuti iringan gairah dan birahi.
Aku pikir ciuman tak apalah, akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing.
Nafsu membuat kami terus berebutan air liur.

Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan berhenti.
Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup bertatapan. Rasanya bingung.
Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya kami duduk biasa lagi.
Kehangatan tubuh dan sikap Dina memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-kata.
Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya.
Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi.
Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan sentuhan dan kehangatan.
Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya.
Bibirnya terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan.
Sekilas kulihat buah dadanya yang besar.
Lalu kupeluk Dina dengan maksud ingin menyentuh dan merasakan miliknya.

Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar.
Perlahan tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus.
Sebagai penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya.
Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya.
Tanpa menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya.
Sesaat tanganku ia raih dan ia giring ke dadanya yang membusung.
Sungguh sangat menggairahkan, untuk ukuran buah dada mbak Dina.
besar, putih, kenyal, pokoknya sangat enak kalo dijilatin, dikulum, putingnya disedot.
Ahh, akhirnya kurasakan buah dada yang besar di dekapan tanganku.
Sesaat kurasakan milikku didekap tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya.
Perlahan tangannya memainkan, nikmat rasanya.
Perlahan kulepaskan tangan Dina dari milikku.
Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap.
Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku.
Sesaat tangannya mendekap milikku,
" Sshh..besar sekali Kontolmu De...Sshh.." lirihnya
Lalu ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke Kontolku dan ia hisap.
Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka menghisap Kontolku.
Kontolku keluar masuk di mulutnya secara perlahan seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.

Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup bra.
Kuraih kaitannya dan kulepas.
Perlahan tanganku menyusup di branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan lembut.
Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun mengeras.
Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama celana dalamnya.
Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat merangsang.
Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan, kulitnya putih bersih dan mulus.
Kuelus-elus bokongnya yang halus dan lembut.
Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya.
Seiring hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku masuk ke liang vaginanya.
Kurasakan lembut di jemariku, nikmat rasanya.
”Dede.. oouuhh.. Sshh.. teryuss... Aahh.. ”
ucapnya seiring jariku yang tertancap di liangnya.
Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah cepat.
Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.

Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan maniku.
“Mmmhh..” ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya.
Kurasakan mulutnya tetap menghisap Kontolku, lalu maniku dan terus sampai beberapa lama.
Kemudian bibirnya selesai bermain.
“Udah De?” sahutnya dengan isyarat apakah aku puas.
 Aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang memucat dan merangsang.
Rasanya milikku belum puas masuk di mulutnya.
Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih masuk di liangnya.
“Mbak yang ini belom, Kontolku pengen masuk mengaduk memekmu mbak ”
sahutku dengan isyarat jariku yang keluar masuk di liangnya.
”Emang kenapa?” tanyanya dengan isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku.
Kemudian kubuat posisi bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap bermain.
Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku.
Batang Kontolku yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang sudah basah.
Perlahan kumasukkan Batang Kontolku kememek Mbak Dina
dan akhirnya hilang tertelan di liang VaginaDina yang lembut dan sempit.

“Mmhh..Ahhh...Sshh...Aahh..” desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat
dan telapak kakinya memeluk pinggulku.
Batang Kontolkuku keluar-masuk diliangnya
dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhanku.
“Ooouuhh..Aahh..puasin aku De..Sshh.. oouuhh..
genjot memekku...Sshh.. dengan Kontol besarmu.. ituu..”
berulang desahan itu Dina keluarkan.
Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina.
Perlahan kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan Batang Kontolku dan liang Vaginanya.
Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang.
“Dede..akhuu.. mau... Aah...” ucapnya dengan getaran kenikmatan.
Aahh Kurasakan penisku didekap kuat liang  Dina.
“Ooouuhh.. SSshh...Aahh...nikk..matt.. ” desah nikmat Dina.
Kulihat Dina mulai melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku.
Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh,
puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina.
Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina.
“Ooouuhh..” desah Dina mengiringi setiap semburanku.
Milikku kubiarkan tertancap terus. Tampaknya Dina tak menolaknya.
Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya.
Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya.
Dan beberapa kali kami berciuman lagi.
Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan maniku karena benar-benar nikmat.

Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak mengering basah lagi.
Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan.
Esoknya kami tersadar dan kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin.
Rasa bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan hubungan ini.
Dan terus hubungan ini berlanjut...
TAMAT

Jumat, 29 Oktober 2010

Jebakan Pak Dhe

Ceritaku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya,
meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang
namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.

Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya
namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku
dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe,
hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.

Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di Malang,
Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan
dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan
aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.

Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik,
tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan susu yang gede
tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis.
Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang,
mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat
sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku,
meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!

Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit,
aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi,
padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi.

“He..eh” aku pun cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.

“Hallo!” suara perempuan mengagetkanku dari lamunan.

“Ya !” jawabku sambil berdiri.

Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!

“Nona Rinelda?” dia bertanya sambil mengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.

Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda,
dia memakai jam gede di tangan kanannya,
dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkanku pada teman SMP ku di Malang,
ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model,
setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu modelnya.
Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja,
aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.

Sesampainya di jalan sebelum rumahku,
sekedar Anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari ibuku.
Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya,
mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-temanku
memang mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.

“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !”
ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.

“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.

Sampai di rumah pukul 18.30.
aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.

“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” kudengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.

“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.

”Kerja yang benar jangan melawan sama atasan
terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit
dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan”
kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku.

Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok
apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahunan,
cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS,
dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya.
Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar.

Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek.
Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti
di dorong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis,
sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.

Sedikit kubuka pintu kamarku,
betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya
sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantatnya bergerak maju mundur.

“Ougghh...Aagghh..sstthh..” suara yang keluar dari mulut BuDhe.

Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya,
badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana
karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku.
Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk
akhirnya PakDhe menarik Batang Kontolnya dari dalam tempik BuDhe,
ya ampun ternyata Batang Kontolnya lumayan gede
lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku,
akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja,
pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku,
namun ternyata PakDhe tidak peduli
dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku,
namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya
yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.

Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangannya memegang kursi di hadapannya.

“Ayo mas cepet keburu tempiknya kering”
pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar
dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat.

Kulihat kali ini PakDhe mengeloco tongkolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.

“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut.

Akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka membelakangi kamarku.
Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tanganku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai,
ku tekan pada itilnya.

“Ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini.

Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.

“Tempikmu… uenak..Tik pe… res… Batang Kontolku sampe keenakan...”
kata-kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.

“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.

“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.

Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat
kali ini tangannya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu
dan akhirnya laki-laki itupun menekan tongkolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut.
Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada tongkol
dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot
BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum,

“Hek” aku kaget setengah mati segera kututup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku,
beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi.

Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.

Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi,
“yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.

Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno.
Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar
dan memiliki Batang Kontol yang kokoh tegak berdiri
dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan Batang Kontol laki-laki,
tapi terkadang aku merasa ada yang kurang
dan memang aku butuh Kontol yang sebenarnya,
Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu.
Kulihat jam di dinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besok aku kan mulai kerja!

Sialan gara-gara Kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa?

“Aah sialan!” umpatku dalam hati.

Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam,
pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar,
aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi,
terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan aktivitasku sendiri,
aku merasa adalah suatu yang lumrah karena aku menumpang disini.

Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar,
sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali,
kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.

Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku
“terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat Batang Kontol yang gede milik PakDhe.

“Aahh” rupanya tanganku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus
dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya,
tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya,

“Sialan!” pikirku dalam hati.

Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiranku.
Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku,
kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.

“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,

“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk.

Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lututnya,
wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.

“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.

“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.

“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan”
katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.

“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.

Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,

“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,

“Ada yang bisa saya bantu mbak?” tanyanya dengan sopan.

Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang
dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.

“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.

“Bu Rifda Miranti? Pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan.
Aku cuma mengangguk.

“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya,
ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling.

“Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.

“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu”
katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar.

Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini,
tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran,
kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku,
tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita.

“Rinelda?”

“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kearah datangnya suara tadi,

“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.

“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kembali bertanya.

“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!”
sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.

“Tunggu sebentar ya” kata Agatha.

Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik,
berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.

“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar.

Ternyata di dalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya .

”Nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda”
kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.

“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka”
aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda.

Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,

“Rif, kami perlu kerja di dalam studio”
kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera.

Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.

“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha.

Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut,
ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis
dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya,
kucoba untuk mendekat pada ruangan itu,
aku semakin penasaran kerja macam apa kok suaranya seperti…
Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi…

“Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.

“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya,
tertulis didepan pintu ruangan tersebut.

“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati.

Di dalam ruangan itu terdapat banyak foto diatas meja.

“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.

“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku.

“Ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya.

Aku langsung bergerak ke sana,
masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….
” Suara khas air yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samar-samar suara laki-laki.

“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa,
segera ku ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi.

Setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu Rifda
sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini,
saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian,
kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih
cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.

“Maaf bu” kataku,

“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya,

“Ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri.

“Ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF.

Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.

“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin
karena target penjualan kita adalah kaum Pria” katanya sambil membenahi pakaiannya,

“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi”,
aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya.

“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,

“Kenapa?” dia balik bertanya,

“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,

“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya”
katanya sambil menunjuk sebuah televisi berukuran raksasa di belakangku.

Betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku,
ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di sebuah ruangan kosong
yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu,
setengah tak percaya kembali kulihat kearah bu Rifda,
dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut,
aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar,
tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci!
Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha
dan laki-laki itu dihadapannya.

“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau
tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.

“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu
atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam.

Aku pun telah paham bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa,
saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu
dan tanpa kusadari dia telah menarik tanganku ke belakang dan mengikatnya dengan tangkas,
aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.

“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya,
sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku.

Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang,
dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak,
dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,

“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.

Dari layar raksasa dihadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.

‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?”
tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menaikan volume pada remote controlnya.

“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya.

Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu,
tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.

“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.

“Tapi Batang Kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.

“Jangan munafik Rin kamu pasti terangsang kan?”
lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…

“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.

Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak

“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!”
kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha.

Kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya
sementara laki-laki itu menekan-nekan tongkolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha
yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu,
cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…

“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!”
nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah
namun si lelaki itu terus mengocok KOntolnya yang masih menegang itu sambil tangannya
memegang bongkahan pantat Agatha,
aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku,
seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.

“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha.

Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata

“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.

“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.

“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!”
lalu dia menekan kembali remote di tangannya kearah layar raksasa dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!

Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda,
dia sedang sibuk mengulum KOntol seorang laki-laki disebuah ruangan
yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus,
ku lihat pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya,
sementara tangan kiri BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.

“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati tongkol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.

“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.

“Maksudmu?” tanyaku,

“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu,
belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain
seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.

“Kontolmu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !”
kali ini BuDhe nampak gemas memegang Batang Kontol besar itu dengan kedua tangannya,
Batang Kontol pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe seperti yang kulihat tadi malam.

“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang”
katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.

“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya”
aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini,
Rifda mengosok-gosokkan Batang Kontol mainan itu ke arah selakanganku,
aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar!

Dia membuka resleting celanaku,
sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu.
Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai,
diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layar didepanku.

“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!”
kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengangkang
memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak.

Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya.
Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.

“Wah ternyata jembut kamu tebal juga Rin”
kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya,
kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya,
sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,

Saat Rifda sedang sibuk mengemek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan menjadi sangat terang,
dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini.
Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.

“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini”
ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe!
tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.

“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini”
kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang.

Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.

Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitarku saat ini,
saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku
dengan menggerakkan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe,
laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.

“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !”
kata Rifda sambil melihatku,
tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut Batang Kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang,
sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang cuma terbuka pada putingnya
sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.

“U… uh” kata Rifda gemas mengocok Batang Kontol di tangannya.

“Sudah, langsung aja masukin Kontolmu pak!”

“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?”
Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda.

Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya membelakangi tubuh PakDhe,
dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang tongkol yang dipegangnya kearah tempik Rifda
yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda
yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya
sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.

“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!”
kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan tongkolnya lebih dalam.

Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak
karena gerakan tubuhnya sementara Batang Kontoll PakDhe yang sedang berusaha
memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.

“Ah….” Batang Kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe
kemudian menarik Batang Kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir Kontol itu menggelantung.

“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kearahku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.

”Tunggu giliranmu”.

“Betapa nikmat kalau Batang Kontol itu bersarang pada tempikku”
kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol.
Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka,
andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!

“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!”
teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri–kanan mengimbangi sentakan PakDhe.

“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda
yang diterjang tongkol gede itu seolah bersorak senang.

Saat kusedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit
kutarik tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan,
namun diluar kesadaranku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri
lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan menghentikanku,
yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu.
Aku butuh keperluan biologis itu!
Aku butuh Batang Kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya
bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi!
Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dan Rifda didepanku,
Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.

‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”

“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si tongkol menerobos tempik Rifda.

Kulihat tongkat mainan persis tongkol yang diletakkan dimeja oleh Rifda,
tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda,
kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!

Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini,
kali ini aku bermaksud memasukkan tongkol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…

“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda
setiap PakDhe menarik Batang Kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.

Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka
dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum,
sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya.
Kukeluarkan pelan-pelan tongkol mainan dari dalam tempikku.

Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah Batang Kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi,
yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan Kontol besar dan panjang itu,
kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku,
aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan,
aku tak pedulikan itu aku cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan!
Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang Batang Kontol laki-laki itu.

“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… tongkolmu… auh… Rudi… say… ang… eh…”
Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe.

Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan Batang Kontolnya kemulut Rifda.

“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ”
tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah pisang yang besar,
aku segera bangkit dan menghampiri mereka,
yaah aku tak rela jika Kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda
dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.

“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!”
Rifda tertawa setelah Batang Kontol dimulutnya terlepas setelah
laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak Kontol besar setengah mengacung itu mengarah padaku.

“Wao…” tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.

“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !”
kata Rifda seolah senang dengan apa yang kuperbuat,
kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur,
kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,

“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermainkan kontolku dengan mulutmu.

“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.

Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu
bahwa mulutku sangat hebat dalam hal ciuman bibir
dan mengulum Batang Kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.

“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini!

“Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala Kontolnya,
sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.

“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda,
matanya merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya.

Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan Batang Kontolnya
dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe,
Rudi pelan-pelan menarik Batang Kontolnya dari mulutku,
yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda,
aku ragu apakah aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini,
namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku
hingga tubuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan Batang Kontolnya berada tepat didepan tempikku,
mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan Kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit.

“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.

“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..”
kata PakDhe sambil menarik Batang Kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.

“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot Batang Kontolnya itu keluar masuk.

Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat.

“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol luar dalam namun ennaak sekali,
sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini,
aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku.

Saat sibuk menikmati sodokan Kontol di tempikku,
sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat
yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat
sehingga memudahkan Kontol  gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya,
tak berapa lama Rifda sudah menggelepar keenakan…

“Sudah Rud… Aahh.. aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya.
sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu.

“Rin… memek… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah”
PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan Kontol nya ke milikku yang memang masih peret,
dia menarik tongkolnya dan mengeluarkan pejunya pada susuku dan wajahku.

“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala Kontol nya.

“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme!

Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan Kontol nya yang mulai mengecil,
saat kupandang Rudi yang mengocok Kontol nya sendiri dia tersenyum padaku
dan akhirnya Kontol  yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku,
aku tahu dia ingin posisi anjing nungging,
kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi,
tak berapa lama tongkol Rudi sudah digesek-gesekkan pada pantatku yang putih mulus,

“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal,
aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini,
akhirnya Rudi pun memasukan batang Kontolnya ke dalam tempikku.

“A… euh… ah… em… ya… ”
Kontol  yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku.

Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.

“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur Kontolnya
sementara tangannya meremas payudaraku yang menggelantung terlihat tambah besar dan bibirnya mencium punggungku,
cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang,
kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya
dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan Kontol nya dari depan.

“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ”
nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah kulakukan dengan mantan suamiku dulu.

Sensasi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini,
sentakannya sangat mantab dan sodokkan Kontolnya sangat luar biasa.

“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… dengan kontol besarmu itu… Ter… us… sh… Aagghh”
kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa
dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini.

Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…

“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas!
Jeritku dalam hati ini penis yang aku harapkan setiap masturbasi,
sementara Rudi tetap mengocok Kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,

“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach”
akhirnya Rudi menarik Kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan spermanya ke mukaku.

“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.

Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up mukaku yang tampak ceria!

Akhirnya, aku menikmati semua ini,
semua kulakukan dengan senang hati.
Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah teman SMPku,
sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.

Andi ngentot mama tirinya

Aku memang punya ‘kelainan’ yaitu Oedipus Complex,
senang dan terangsang bila melihat wanita lebih tua (STW) yang cantik.
Nafsuku akan menggebu-gebu.
Semua itu berpengaruh di tempat tidur karena akan lebih hot karena dasarnya aku suka sekali.
Pengalaman berikut adalah yang aku alamin saat remaja.
Mungkin pula pengalaman ini yang membekas di pikiranku secara psikologis
sehingga aku menjadi lelaki yang suka wanita lebih tua.
Pengalaman di bawah ini nggak akan pernah aku lupa.

Saat usia 10 tahun,
Papa dan Mama bercerai karena alasan tidak cocok.
Aku sebagai anak-anak sih nerima aja tanpa bisa protes.
Saat aku berusia 15 tahun, Papa kawin lagi.
Papa yang saat itu berusia 37 tahun kawin dengan Tante Nuna yang berusia 35 tahun.
Tante Nuna orangnya cantik,
setidaknya pikiranku sebagai lelaki di usia ke 15 tahun
yang sudah mulai merasakan getaran terhadap wanita.
Tubuhnya tinggi, putih, pantatnya berisi dan buah dadanya padat.
Saat menikah dengan Papa, Tante Nuna juga seorang janda tapi nggak punya anak.

Sejak kawin, Papa jadi semangat hidup berimbas ke kerjanya yang gila-gilaan.
Sebagai pengusaha, Papa sering keluar kota.
Tinggallah aku dan ibu tiriku di rumah.
Lama-lama aku jadi deket dengan Tante Nuna yang sejak bersama Papa aku panggil Mama Nuna.
Aku jadi akrab dengan Mama Nuna karena kemana-mana Mama minta tolong aku temenin.
Di rumah pun kalo Papa nggak ada aku yang nemenin nonton TV atau nonton film VCD.
Aku senang sekali dimanja sama Mama baruku ini.

Setahun sudah Papa kawin dengan Mama Nuna tapi belom ada tanda-tanda kalo aku bakalan punya adik baru.
Bahkan Papa semakin getol cari duit dan sering banget keluar kota.
Aku dan Mama Nuna semakin akrab aja.
Sampai-sampai kami seperti tidak ada batasan sebagai anak tiri dan ibu tiri.
Kami mulai sering tidur di satu tempat tidur bersama.
Mama Nuna mulai nggak risih untuk mengganti pakaian di depanku walaupun tidak bener-bener telanjang.
Tapi terkadang aku suka menangkap basah Mama Nuna lagi berpolos ria mematut di depan kaca sehabis mandi.
Beberapa kali kejadian aku jadi hapal kalo setiap habis mandi
Mama pasti masuk kamarnya dengan hanya melilitkan handuk dan sesampai di kamar handuk pasti ditanggalkan.

Beberapa kali kejadian aku membuka kamar Mama yang nggak dikunci
aku kepergok Mama Nuna masih dalam keadaan tanpa sehelai benang sedang bengong di depan cermin.
Lama-lama aku sengajain aja setiap selesai Mama mandi beberapa menit kemudian
aku pasti pura-pura nggak sengaja buka pintu dan pemandangan indah terhampar di mata mudaku.
Sampai suatu ketika,
mungkin karena terdorong nafsu laki-laki yang mulai menggeliat di usia 16 tahun,
aku menjadi bernafsu besar ketika melihat Mama sedang tiduran di kasur tanpa pakaian.
Matanya terpejam sementara tangannya menggerayang tubuhnya sendiri sambil sedikit merintih.
Aku terpana di depan pintu yang sedikit terbuka dan menikmati pemandangan itu.
Lama aku menikmati pemandangan itu.
Kontolku berdiri tegak di balik celana pendekku.
Ah, inikah pertanda kalo anak laki-laki sedang birahi? batinku.
Aku terlena dengan pemandangan Mama Nuna yang semakin hot menggeliat-geliat dan melolong.
Tanpa sadar tanganku memegang dan memijit-mijit si otong kecil yang sedari tadi tegang.
Tiba-tiba aku seperti pengen pipis dan ahh koq pipisnya enak ya.
Akupun bergegas ke kamar mandi seiring Mama Nuna yang lemas tertidur.

Kejadian seperti jadi pemandanganku setiap hari.
Lama-lama aku jadi bertanya-tanya.
Mungkinkah ini disengaja sama Mama?
Dari keseringan melihat pemandangan ini rupanya terekam di otakku
kalau wanita cantik itu adalah wanita yang lebih dewasa.
Wanita berumur yang cantik di mataku terlihat sangat sexy dan sangat menggairahkan.

Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku.
Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama.
Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas.
Kuberanikan untuk mendekat.
Mumpung perempuan cantik ini lagi tidur, batinku.
Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu
kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada di depanku.
Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama.
Aahh.., si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas.
Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa dibendung,
kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna… pelan… pelan.
Mama diam aja, aku semakin berani.
Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama tiriku.
Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF.
Aku bertindak lebih lanjut dengan mengisap puting susu Mama. Mama masih diam, aku makin berani.
Terinspirasi film blue yang kutonton bersama temen-temen,
aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk.
Aku tiduran di samping Mama sambil memeluk erat.

Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba-tiba bergerak dan membuka mata.
Mama Nuna menatapku tajam.

“Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?” tanya Mama.

“Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu” jawabku takut-takut.

“Kamu mulai nakal ya” kata Mama sambil tangannya memelukku erat.
“Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah lama Mama nggak dipeluk papamu.
Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk” jelas Mama.

Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku.
Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam.
Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu.
Aku membalas ciuman Mama tiriku yang cantik.
Semuanya berjalan begitu saja tanpa direncanakan.
Lidah Mama kemudian berpindah menelusuri tubuhku.

“Kamu sudah dewasa ya Ndy, gak apa-apa kan kamu Mama perlakukan seperti papamu”
gumam Mama disela telusuran lidahnya.
“Punya kamu juga sudah besar, sebesar punya papamu tapi lebih keras dan tegang”, cerocos Mama lagi.

Aku hanya diam menahan geli dan nikmat.
Mama lebih banyak aktif menuntun (atau mengajariku).
Kontolku kemudian dijilatin Mama.
Ini membuat aku nggak tahan karena kegelian.
Lalu punyaku dikulum Mama. Oh indah sekali rasanya.
Lama aku dikerjain Mama cantik ini seperti ini.

Mama kemudian tidur telentang,
mengangkangkan kaki dan menarik tubuhku agar tiduran di atas tubuh indahnya.
Mama kemudian memegang KONTOLku,
mengocoknya sebentar dan mengarahkan ke selangkangan Mama.ke lubang memek Mama.
Aku hanya diam saja.
Terasa punyaku sepertinya masuk ke vagina Mama
tapi aku tetep diam aja sampai kemudian Mama menarik pantatku dan menekan.
Berasa banget punyaku masuk ke dalam punya Mama.
Pergesekan itu membuat merinding.
Secara naluri aku kemudian melakukan gerakan maju mundur biar terjadi lagi gesekan.
Mama juga menggoyangkan pinggulnya.
Mama yang kulihat sangat menikmati bahkan mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya
sehingga aku seperti sedang naik kuda di atas pinggul Mama.

Tiba-tiba Mama berteriak kencang sambil memelukku erat-erat,
“Andyy..,aahh... Mama enak Ndy...sshh.. aahh..Kontol kamu enak ..banget..sshh..” teriak Mama.

“Ma, Andy juga enak nih mau muncrat. memek Mama seret banget kek perawan...Aahh.....”
dan aku ngerasain sensasi yang lebih gila dari sekedar menonton Mama kemarin-kemarin.

Aku lemes banget, dan tersandar layu di tubuh mulus Mama tiriku.
Aku nggak tau berapa lama, rupanya aku tertidur, Mama juga.
Aku tersadar ketika Mama mengecup bibirku dan menggeser tubuhku dari atas tubuhnya.
Mama kemudian keluar kamar dengan melilitkan handuk, mungkin mau mandi.
Akupun menyusul Mama dalam keadaan telanjang.
Kuraba punyaku, lengket sekali, aku pengen mencucinya.
Aku melihat Mama lagi mandi, pintu kamar mandi terbuka lebar.
Uhh, tubuh Mama tiriku itu memang indah sekali.
Nggak terasa punyaku bergerak bangkit lagi.
Dengan posisi punyaku menunjuk aku berjalan ke kamar mandi menghampiri Mama.

“Ma, mau lagi dong kayak tadi, enak” kini aku yang meminta.

Mama memnandangku dan tersenyum manis, manis sekali. Kamipun melanjutkan kejadian seperti di kamar.

Kali ini Mama berjongkok di kloset lalu kontolku yang sedari tadi mengacung
aku masukkan ke vagina Mama yang memerah.
Kudorong keluar masuk seperti tadi.
Mama membantu dengan menarik pantatku dalam-dalam.
Nggak berapa lama Mama mengajak berdiri
dan dalam posisi berdiri kami saling memeluk dan batang Kontolku menancap erat di vagina Mama.
Aku menikmati ini, karena punyaku seperti dijepit.
Mama menciumku erat.
"Ouugghh..Ndy, Kontol kamu sshh.. enak banget...aahh...Memek Mama kenakan sayang,..sshh..."
racau Mama sejadi jadinya.
"Terruuss.. Ndy, sodok yg kencang, puasin Mama sayang..sshh..Ouugghh..."
Mama terus teriak terik keenakan akibat sodokan Kontol besarku di memeknya.
Baru kusadari kalau badanku ternyata sama tinggi dengan mamaku.
Dalam posisi berdiri...
"..Aahh..Mammaa...Memekk..kamu eennaaaakkk banget...Ma...Ougghh..."
aku kemudian merasakan kenikmatan ketika cairan kental kembali muncrat dari punyaku
sementara Mama mengerang dan mengejang sambil memelukku erat,
"..sshh.. AAaahhh...Kontol kamu Ndy..aahh..lebih enak punya..kamu dari pada Papamu...sshh..
berasa banget di lubang memek mama...aahh..aku mau ..sshh..keluarrrr...Shit !!.. "
teriak Mama histerisnya, sambil tersengal sengal tanda mencapai klimaksnya yang kedua...
Akhirnya Kami sama–sama lunglai.

Setelah kejadian hari itu,
aku selalu melakukan persetubuhan dengan Mama tiriku.
Hampir setiap hari sepulang sekolah, bahkan sebelum berangkat sekolah.
Lebih gila lagi kadang kami melakukan walaupun Papa ada di rumah.
Sudah tentu dengan curi-curi kesempatan kalo Papa lagi tidur.
Kehadiran Papa di rumah seperti siksaan buatku karena aku nggak bisa melampiaskan nafsu terhadap Mama.
Aku sangat menikmati.
Aku senang kalo Papa keluar kota untuk waktu lama, Mama juga seneng.
Mama terus melatih aku dalam beradegan sex.
Banyak pelajaran yang dikasih Mama,
mulai dari cara menjilat vagina yang bener,
cara mengisap buah dada, cara menggenjot yang baik.
Pokoknya aku diajarkan bagaimana memperlakukan wanita dengan enak.
Aku sadar kalo aku menjadi hebat karena Mama tiriku.

Sekitar setahun lebih aku menjadi pemuas Mama tiriku menggantikan posisi ayah.
 Aku bahkan jatuh cinta dengan Mama tiriku ini.
Nggak sedetikpun aku mau berpisah dengan mamaku, kecuali sekolah.
Di kelas pun aku selalu memikirkan Mama di rumah, pengen cepet pulang.
Aku jadi nggak pernah bergaul lagi sama temen-temen.
Sebagai cowok yang ganteng, banyak temen cewek yang suka mengajak aku jalan tapi aku nggak tertarik.
Aku selalu teringat Mama.
Justru aku akan tertarik kalo melihat bu guru Ratna
yang umurnya setua Mama tiriku
 atau aku tertarik melihat bu Henny tetanggaku dan temen Mama.

Tapi percintaan dengan Mama hanya bertahan setahun lebih karena kejadian tragis menimpa Mama.
Mama meninggal dalam kecelakaan.
Ketika itu seorang diri Mama tiriku mengajak aku nemenin tapi aku nggak bisa karena aku ada les.
Mama akhirnya pergi sendiri ke mal.
Di jalan mobil Mama tabrakan hebat dan Mama meninggal di tempat.
Aku merasa sangat berdosa nggak bisa nemenin Mama tiriku tercinta.
Aku shock.
Aku ditenangkan Papa.

“Papa tau kamu deket sekali dengan Mama Nuna,
tapi nggak usah sedih ya Ndy, Papa juga sedih tapi mau bilang apa” kata papaku.

Selama ini papaku tau kalo aku sangat deket dengan Mama.
Papa senang karena Papa mengira aku senang dengan Mama Nuna dan menganggapnya sebagai Mama kandung.
Padahal kalau Papa tau apa yang terjadi selama ini.
Aku merasa berdosa terhadap Papa yang dibohongi selama ini.

Tapi semua apa yang diberikan Mama Nuna, kasih sayang, cinta dan pelajaran sex sangat membekas di pikiranku.
Sampai saat ini,
 aku terobsesi dengan apa semua yang dimiliki Mama Nuna dulu.
Aku mendambakan wanita seumur Mama, secantik Mama,
sebaik Mama dan hebat di ranjang seperti Mama tiriku itu.
Kusadari sekarang kalo aku sangat senang bercinta dengan wanita STW semuanya berawal dari sana.
Akhir kumulai perjalanku dengan bercinta dengan wanita wanita setangah baya...

Tammat.