Pagi hari. Aku baru saja bangun tidur. Udara terasa segar setelah Jakarta diguyur hujan deras semalaman. Kukenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat yang menampakkan lekuk-lekuk pantatku yang begitu menggiurkan. Aku berjalan ke halaman depan.
“Aha.. Koran baru sudah datang”, kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di dekat pintu pagar. Kuambil surat kabar itu. Langsung aku duduk di kursi di teras sambil membacanya. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi aku sangat menyukai berita-berita tentang perekonomian Indonesia termasuk krisis ekonomi berkepanjangan yang tengah melanda Indonesia. Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar. Mataku tertumbuk pada sebuah iklan satu kolom yang cukup mencolok.
“Dicari, gadis berusia 17 sampai 25 tahun. Wajah dan penampilan menarik. Bertubuh ramping. Tinggi minimal 165 cm dengan berat yang sesuai. Dapat bergaya. Berminat untuk menjadi foto model. Peminat diharapkan datang sendiri ke **** Agency, Jl. Cempaka Putih **** , Jakarta Pusat.”
“Aku bisa diterima apa nggak ya?” Aku bertanya dalam hati. Memang sih, kupikir-pikir aku memenuhi syarat-syarat yang diminta. Usiaku baru menginjak 20 tahun. Tubuhku ramping dengan tinggi 170 cm, seimbang dengan ukuran dadaku yang di atas rata-rata wanita seusiaku. Wajahku cantik. Teman-temanku bilang aku perpaduan antara Desy Ratnasari dan Maudy Kusnadi. Tapi menurutku sih mereka terlalu memujiku berlebih-lebihan.
Ah, coba-coba saja aku melamar. Siapa tahu aku diterima jadi foto model. Kan lumayan buat menambah penghasilan. Aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku. “Pakai baju apa ya enaknya?” batinku. Ah ini saja. Kukenakan blus biru muda dan celana panjang jeans belel yang cukup ketat yang baru saja beberapa hari yang silam kubeli di Cihampelas, Bandung.
Mobil Feroza yang kukendarai memasuki jalan yang disebut dalam iklan. Ah, mana ya nomor **** ? Nah ini dia. Rumahnya sih cukup mentereng. Di halamannya terpampang papan nama “**** Agency Photo Studio & Modelling. Menerima anggota baru.” Wah benar ini tempatnya. Kuparkir mobilku di pinggir jalan. Di sana sudah banyak bertengger mobil-mobil lain. Aku masuk ke dalam. Astaga! Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik. Pasti mereka juga adalah pelamar sepertiku. Sejenak mereka memandangku ketika aku masuk. Mungkin mereka kagum melihat kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku. Kucari tempat duduk yang kosong setelah sebelumnya mendaftarkan diriku di meja pendaftaran.
Gila, hampir semua tempat duduk terisi. Nah, itu dia ada satu yang kosong di sebelah seorang cewek yang cantik sekali, keturunan Indo. Wajahnya mirip Cindy Crawford. Kelihatannya ia sebaya denganku. Tapi astaga, ia memakai baju yang berdada rendah alias “you can see,” dan rok jeans mini yang cukup ketat, sehingga menampakkan pangkal payudaranya yang berukuran cukup besar. Ia nampak memandangku dan tersenyum. Melihatnya aku menjadi minder. Wah, sainganku ini top sekali. Apakah mungkin aku terpilih menjadi foto model di sini? Satu persatu para pelamar dipanggil ke ruang pengetesan, sampai si Indo di sampingku tadi dipanggil juga. Semua pelamar yang sudah dites keluar lewat pintu lain. Akhirnya namaku dipanggil juga.
“Hanny K**** (edited) dipersilakan masuk ke dalam.”
Aku pun masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria bertubuh agak gemuk.
“Kenalkan aku Adolf, direktur sekaligus pemilik agensi ini. Siapa nama kamu tadi? Oh ya, Hanny, nama yang bagus, sebagus orangnya. Sekarang giliran kamu dites. Coba kamu berdiri di sana.”
Aku pun menurut saja dan menuju tempat yang ditunjuk oleh Adolf, di bawah lampu sorot yang cukup terang dan di depan sebuah kamera foto.
“Coba kamu lihat-lihat contoh-contoh foto ini. Pilih lima gaya di antaranya. Aku akan mengetes apakah kamu bisa bergaya. Jangan malu-malu, don’t be shy!” kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto. Aku melihat foto-foto di dalamnya. Ah ini sih seperti gaya foto model di majalah-majalah! Mudah amat! Lalu aku memilih lima gaya yang menurutku bagus. Setelah itu, jepret sana, jepret sini, lima gaya sudah aku berpose dan dipotret. Tapi Adolf belum mempersilakan aku keluar ruangan. Dia kelihatannya seperti berpikir sejenak.
“Nah, sekarang, Han. Coba kamu buka kancing-kancing bagian atas blus kamu. Nggak usah malu. Biasa-biasa aja lah!”
Kupikir tak apa-apa lah kali ini. Kubuka beberapa kancing atas blusku sehingga terlihat BH yang kupakai. Mata Adolf sekilas berubah saat melihat pangkal payudaraku yang montok. Lalu aku dipotret lagi dengan pose-pose yang sensual.
“Nah, begitu kan yahud. Sekarang coba buka baju kamu semuanya.”
Wah! Ini sih mulai kelewatan!
“Ayolah, jangan malu-malu!”
Sebenarnya dalam hati aku menolak. Akan tetapi biarlah, karena aku sejak kecil selalu mengidam-idamkan ingin menjadi foto model.
Dengan perlahan-lahan kutanggalkan blus dan celana panjangku. Mata Adolf tanpa berkedip memandangi tubuh mulusku yang hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam. Aku sedikit menggigil kedinginan hanya berpakaian dalam di ruangan yang ber-AC ini. Namun Adolf tidak mengindahkannya. Ia malah menyuruhku menanggalkan busana yang masih tersisa di tubuhku. Ah, gila ini! Tapi cueklah, hanya berdua ini! Lalu dengan membelakangi Adolf, kulepas BH-ku. Kusilangkan tanganku di dada menutupi payudaraku.
“Han, masak kamu balik badan begitu. Bagaimana aku bisa mengetesmu.”
Aku membalikkan tubuh menghadap Adolf. Adolf menyuruhku menurunkan tangan yang menutupi payudaraku. Adolf terpana menyaksikan payudaraku yang montok dan berisi dengan puting susunya yang tinggi menantang berwarna kecoklatan segar, tanpa tertutup oleh selembar benang pun. Aku menjadi risih pada pandangan matanya. Adolf menyuruhku melepas celana dalamku. Ia semakin melotot melihat bagian kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang masih tipis. Sekilas kulihat kemaluan di balik celana panjangnya menegang.
“Nah, sekarang kamu diam di situ. Akan kuukur tubuhmu, apakah memenuhi syarat”, kata Adolf sambil mengambil meteran untuk menjahit. Pertama kali dia mengukur ukuran vital dadaku. Ia melingkarkan meterannya melalui payudaraku. Dengan sengaja tangan Adolf menyentil puting susuku sebelah kanan sehingga membuatku meringis kesakitan. Tapi aku diam merengut saja.
“Kamu beruntung memiliki payudara yang indah seperti ini”, kata Adolf sambil mencolek belahan payudaraku.
“Nah, sudah selesai sekarang.” Aku merasa lega. Akhirnya selesailah pelecehan seksual yang terpaksa kuterima ini.
“Jadi saya sudah boleh keluar?” tanyaku.
“Eit! Siapa bilang kamu sudah boleh keluar?! Nanti dulu, manis!”
Wah, kacau! Apa gerangan yang ia inginkan lagi?
“Susan!” Adolf memanggil seseorang.
Seorang gadis cantik keluar dari ruangan lain, telanjang bulat. Ya ampun, ternyata ia adalah cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu. Payudaranya yang montok bergantung indah di dadanya, seimbang dengan pinggulnya yang montok pula. Aku bertanya-tanya apa arti dari semua ini.
“Nah, sekarang coba kamu lihat, Hanny. Susan ini adalah satu-satunya pelamar yang berhasil terpilih. Mengapa? Sebab ia cocok dengan profil foto model yang saya inginkan untuk proyek kalender bugil yang akan saya edarkan di luar negeri. Kalo kamu ingin berhasil seperti Susan, kamu harus berani seperti dia, Han”, kata Adolf sambil menunjuk ke arah gadis cantik yang bugil itu. Astaga! Batinku. Aku harus dipotret bugil. Bagaimana pandangan orang-orang terhadapku nanti apabila foto-foto telanjangku sampai dilihat orang-orang banyak?! Tapi kan cuma diedarkan di luar negeri?!
“Baiklah, tapi kali ini aja ya”, aku menyanggupinya. Akhirnya aku dipotret dalam beberapa pose. Pose yang pertama, aku disuruh berbaring tertelentang dengan pose memanjang di atas ranjang, dengan membuka pahaku lebar-lebar, sehingga menampakkan kemaluanku dengan jelas. Pose kedua, aku duduk mengangkang di tepi ranjang sementara Susan menjilati liang kemaluanku. Pose ketiga, aku dalam keadaan berdiri, sedangkan Susan dengan lidahnya yang mahir mempermainkan puting susuku. Pose keempat, aku masih berdiri, sementara Susan berdiri di belakangku dan berbuat seolah-oleh kami berdua sedang bersenggama. Susan berperan sebagai seorang pria yang sedang menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku yang indah. Dan aku diminta memejamkan mataku, seakan-akan aku sedang terbuai oleh kenikmatan yang tiada taranya. Semua itu adalah pose-pose yang membangkitkan nafsu birahi bagi kaum pria namun amat memuakkan bagi diriku.
Tiba-tiba kurasakan kedua belah payudaraku diremas-remas dengan lebih keras, bahkan lebih kasar. Aku meronta-ronta kesakitan. Aku menoleh ke belakang. Astaga! Ternyata yang di belakangku sudah bukan Susan lagi, melainkan Adolf yang sekarang tengah mempermainkan payudaraku dengan seenaknya! Entah Susan sudah ke mana perginya.
“Jangan, Pak! Jangan!” Aku memberontak-berontak sebisa-bisanya. Tapi semua itu tidak ada hasilnya. Tangan Adolf lebih kuat mendekapku kencang-kencang sampai aku hampir tidak bisa bernafas.
“Kamu memang benar-benar cantik, Hanny”, kata Adolf sambil mencium tengkukku sementara tangannya masih terus merambah kedua bukit yang membusung di dadaku.
Tiba-tiba dengan kasar, Adolf mendorongku, sehingga aku jatuh tertelentang di sofa. Melihat tubuh mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan. Matanya melotot seperti mau meloncat keluar melihat keindahan tubuh di depannya. Kututup payudaraku dengan tanganku, tapi Adolf menepiskannya. Betapa belahan payudaraku sangat lembut dan merangsang ketika mulut Adolf mulai menjamahnya. Payudaraku yang putih bersih itu memang menggiurkan. Mulut Adolf dengan buas menjilat dan melumat bagian puncak payudaraku, lalu mengisap puting susuku bergantian, sehingga aku menggelinjang kegelian. Nafasku ikut memburu kala tangan Adolf mulai merayap ke selangkanganku, meraba-raba pahaku dari pangkal sampai lutut. Lalu betisku yang mulus itu.
Aku hampir-hampir tak bisa bernafas lagi ketika mulut Adolf terus mengisap dan menyedot puting susuku. Aku meronta-ronta. Tapi Adolf terus mendesak dan melumat puting susuku yang runcing kemerahan itu. Seumur hidupku, belum pernah aku diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini aku harus menyerahkan diriku pada Adolf.
Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam liang senggamaku yang sempit. Ia sudah tak kuat lagi membendung nafsunya yang memuncak ketika batang kemaluannya bergesekan dengan liang kewanitaanku yang merah terbuka. Batang kemaluan Adolf akhirnya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku. Aku menjerit ketika liang kewanitaanku diterobos oleh batang kemaluan Adolf yang tegang dan panjang. Betapa perih ketika “kepala meriam” itu terus masuk ke dalam liang kewanitaanku, yang belum pernah sekalipun merasakan jamahan laki-laki.
Aku mencoba memberontak sekuat tenaga lagi. Tapi apa daya, Adolf lebih kuat. Lagipula aku sudah lemas, tenagaku sudah hampir habis. Terpaksa aku hanya dapat menerima dengan pasrah digagahi oleh Adolf. Dan akhirnya, aku merasa tak kuat lagi. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tak sadarkan diri.
Saat aku siuman, aku menyadari diriku masih tergeletak telanjang bulat di sofa dengan cairan-cairan kenikmatan yang ditembakkan dari batang kemaluan Adolf berhamburan di sekujur perut dan dadaku. Sementara kulihat ruangan itu telah kosong. Segera kukenakan pakaianku kembali dan bergegas ke luar ruangan. Kukebut Feroza-ku pulang ke rumah dan bersumpah tak akan pernah kembali lagi ke tempat terkutuk itu!
Cerita Sex Dewasa 17++ DiJamin Horny !!! Cerita Ngentot Memek, Perkosaan, Incest, Setengah Baya, Daun Muda, dan sebagainya semua ada disini...
Tampilkan postingan dengan label perkosaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkosaan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 November 2011
Jumat, 04 Maret 2011
Perkosaanku dikereta
Sebut saja namanya Intan, seorang gadis berusia 24 tahun, tingginya 165cm dengan berat badan yang cukup ideal, 53kg, dengan ukuran payudara 34C. Dia bekerja di salah satu stasiun televisi swasta sebagai reporter. Intan beparas cantik dan berkulit putih mulus sehingga dia dapat diterima bekerja sebagai reporter di XXX tv sejak dua tahun yang lalu. Sebagai seorang reporter yang pastinya sering muncul menyapa pemirsa di layar kaca, tentunya membuat Intan meraih popularitas sehingga banyak orang mengenalinya. Banyak hal yang dirasa menyenangkan bagi Intan karena popularitas yang didapatnya, diantaranya pada waktu keluar berjalan-jalan, banyak orang yang mengenalinya dan tersenyum kepadanya serta menyapanya, bahkan hingga meminta tandatangannya.
Namun, jika ada hal-hal yang positif tentu saja ada pula yang negatif, diantaranya banyak lelaki yang suka bersiul (suit-suit) ketika ia lewat, seringkali hampir dicolek oleh tangan jahil lelaki iseng dan mupeng (untungnya hanya hampir), hingga yang baru saja terjadi, ada yang nekad mencari kesempatan untuk mengintip Intan kala sedang berganti pakaian di dalam kamar pas di sebuah department store di dalam sebuahpusat perbelanjaan, sialnya pelakunya tidak berhasil tertangkap tangan.
Sebagai seorang reporter, tentunya Intan sering meliput berita di sana-sini, lumayanlah itung-itung sekalian jalan-jalan sembari shopping, begitu pikirnya. Terhitung hampir semua daerah, dari Sabang sampai Merauke sudah pernah disinggahinya kala melakukan rutinitasnya sebagai seorang reporter televisi. Walaupun begitu, ia jarang mendapatkan kesempatan untuk melakukan liputan ke luar negeri sehingga suatu saat, ketika atasannya memberikan kesempatan kepadanya untuk meliput berita di Jepang, Intan girang sekali dan langsung memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut. Walaupun tahu bahwa harga-harga di Jepang sangat mahal, ia juga telah menyiapkan anggaran untuk belanja. Di Jepang nanti, Intan ditugaskan untuk meliput sebuah festival adat di Jepang beserta segala keunikannya.Namun, jika ada hal-hal yang positif tentu saja ada pula yang negatif, diantaranya banyak lelaki yang suka bersiul (suit-suit) ketika ia lewat, seringkali hampir dicolek oleh tangan jahil lelaki iseng dan mupeng (untungnya hanya hampir), hingga yang baru saja terjadi, ada yang nekad mencari kesempatan untuk mengintip Intan kala sedang berganti pakaian di dalam kamar pas di sebuah department store di dalam sebuahpusat perbelanjaan, sialnya pelakunya tidak berhasil tertangkap tangan.
Hari yang dinanti-nantikan tibalah juga. Ima berangkat ditemani oleh Nina, seorang camera person dari XX tv ke Jepang. Nina berusia dua tahun lebih muda dari Intan, tinggi badannya sepantaran dengan Intan namun sedikit lebih kurus dengan payudara yang lebih kecil 34A, gayanya modis, dan rambutnya seringkali bergonta-ganti warna, kali ini ia mengecat rambutnya dengan warna cokelat kemerahan, menambah cantik penampilannya yang juga berkulit putih. Mereka menggunakan jasa salah satu maskapai penerbangan dalam negeri karena memang maskapai dalam negeri tidak dicekal di Jepang seperti halnya yang dilakukan oleh negara-negara Uni-Eropa.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, tibalah Intan dan rekannya di bandara internasional Narita.
“Lo kenapa Nin?”, tanya Intan pada kawannya. “Kok kelihatannya lesu gitu?”
“Ya ialah, lama banget tuh perjalanan tadi, lo sih enak, molor terus!”
Ucapan temannya tersebut hanya ditanggapi dengan tawa oleh Intan, karena memang selama perjalanan menuju Jepang, ia lebih banyak tidur, bukan karena fasilitas pesawat yang nyaman, namun lebih dikarenakan balas dendam, balas dendam? Lho? Memang, seminggu terakhir sebelum berangkat ke Jepang, ia terus melakukan liputan berpindah-pindah kota untuk sebuah program wisata belanja, hal itu dilakukannya untuk mengejar deadline dari pimpinan redaksi.
Selama di Jepang, rencananya Intan dan Nina akan tinggal di rumah Wiwin, kawan akrab Intan kala masih duduk di bangku SMU, Wiwin sekarang bekerja sebagai seorang designer dan tinggal dekat kawasan Shibuya. Hal ini juga merupakan suatu kebetulan bagi Intan karena Shibuya memang terkenal dengan wisata belanja, kegemaran utama Intan.
Setibanya di kediaman Wiwin, Intan dan Nina langsung memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu seusai perjalanan panjang dari Indonesia, malam harinya Intan mengajak wiwin untuk mengantarnya berbelanja keesokan harinya.
“Win, besok selesai liputan, lo anterin gue shopping yuk, gue kan disini cuman dua hari”.
“Aduuuh, sorry tan, gue besok ada meeting sama klien, enggak bisa ditinggalin. Plus sorenya gue ketemuan sama cowok gue. Emm, lo ditemenin sama si Nina aja ya? Ntar gue kasih tahu tempat-tempat yang barangnya bagus dan murah.”
“Yah, si Nina kan sama aja kaya gue, awam sama daerah sini, lo gimana sih?”
“Iya, iya, soriii banget tapi gue betul-betul nggak bisa, lagian transportnya gampang kok, naik KRL sekali juga nyampe.”
“Mmm….. ya sudah deh engga apa-apa kalau begitu.” Jawab Intan dengan muka masam. “Eh, omong-omong cowok lo cakep ga?”
“Yaa, itu khan relatif, tapi umurnya udah jauh lebih tua, ada terpaut limabelas tahunan sama gue, lumayan tajir lagi.”
“Gila lo, sekarang kok seleranya berubah, seneng sama om-om, hahahaha.” Merekapun bercanda hingga merasa mengantuk dan beristirahat kemudian.
Keesokan harinya, Intan dan Nina menyelesaikan liputan berita untuk XX tv dengan lancar, merekapun kembali terlebih dahulu ke tempat Wiwin untuk meletakkan kamera dan berganti pakaian. Intan dan Nina sepakat kompakan memakai rok span berwarna senada, hitam, sehingga tampak kontras dengan paha keduanya yang putih mulus. Nina memadukan roknya dengan blouse putih, sedangkan Intan memilih mengenakan kemeja berwarna krem, mereka berdua mengenakan mantel bulu karena udara yang lebih dingin dibanding di tanah air.
Berdua, mereka berangkat naik taksi ke stasiun dan kemudian membeli tiket kereta rel listrik, tak lama menunggu, keretapun datang dan mereka segera naik.
Sementara itu, di tempat kerjanya, Wiwin tampak teringat sesuatu dan mengangkat ponselnya, hendak menelepon Intan, namun, “astaga, dia belum ganti nomor lokal, enggak bisa dihubungi deh.” Kata Wiwin dalam hati dengan wajah yang tampak kebingungan karena hendak memberitahukan sesuatu pada Intan namun tidak bisa dilakukan.
Di dalam kereta, Intan dan Nina ternyata tidak dapat menemukan tempat duduk yang kosong, sehingga keduanyapun memutuskan untuk berdiri sambil berpegang pada pegangan yang sengaja dibuat untuk penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. Lima menit berlalu, sambil berdiri, Nina dan Intan baru menyadari bahwa hampir seluruh penumpang di gerbong tersebut adalah laki-laki, hanya ada dua wanita tua yang sedang terlelap duduk di ujung gerbong. Perhentian berikutnya, beberapa penumpang turun, Intan dan Nina mencoba mengambil kesempatan untuk duduk, namun keduluan oleh beberapa penumpang lain yang sedari tadi juga berdiri. Segerombolan penumpang baru juga masuk, dan seluruhnya pria. Space untuk berdiri pun kian sempit, sehingga Intan dan Nina hampir dikelilingi oleh gerombolan pria yang bau naik tadi.
“Yah, sial, berdiri lagi deh.” Ujar Intan yang diamini oleh Nina.
“Liat deh, penumpangnya laki semua tapi nggak ada yang gentleman, ngasih tempat duduk kek buat makhluk-makhluk cantik, ha2.” Canda Nina yang disambut tawa renyah Intan
Sesaat setelah itu, terdengar suara seseorang dibelakang mereka, dari nada bicaranya nampaknya bertanya sesuatu kepada mereka. Merekapun menoleh mencari si sumber suara. Tampak dihadapan mereka seorang bapak berwajah ramah, jika ditaksir, kira-kira umurnya empatpuluhan. Ternyata orang tersebut yang memanggil tadi.
“Ima nanji desu ka?”
Intan dan Nina sama-sama bengong karena sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan pria tersebut.
Seolah mengerti bahwa yang diajak bicara tidak mengerti bahasanya, bapak tersebut mengulangi pertanyaannya.
“Ano, What is da time?” Ujarnya dengan bahasa Inggris sekenanya sambil menunjuk pergelangan tangannya sendiri.
Intan dan Nina baru mengerti apa yang ditanyakan tadi ketika si bapak berwajah ramah mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Inggris, walaupun tata bahasanya salah (yang benar what time is it?).
Untungnya Intan sudah mencocokkan jam tangannya dengan waktu setempat. Ia pun memperlihatkan jam tangannya kehadapan bapak itu agar dapat melihat sendiri pukul berapa sekarang. Bapak itupun manggut-manggut setelah melihat jam. “Domo arigato gozaimasu” Ucapnya sambil tersenyum. Kalau yang ini Intan mengerti bahwa artinya terima kasih, ia pun membalas senyuman bapak itu, sementara Nina hanya memperhatikan dari tadi.
Sebelum sempat membalikkan badan, Intan merasakan ada tangan yang menyenggol paha bagian belakangnya. Ia pun berbisik kepada Nina, “Nin, tadi kayak ada yang nyolek gue deh.”
“Masa? Kok sama, tadi juga kayak ada yang nyenggol pantat gue.” bisik Nina.
“Ya udahlah, mungkin kebetulan saja, kereta ini kan bergerak terus jadi mungkin ada yang badannya jadi gak seimbang dan gak sengaja nyenggol.” tukas Intan. Nina pun mengiyakan ucapan temannya itu dan bersikap santai saja sambil menunggu kereta sampai di tujuan.
Belum ada lima detik dari senggolan pertama tadi, kembali Intan merasakan rabaan pada pantatnya, kali ini bukan lagi menyenggol, namun terasa sedikit meremas. Terkejut, Intan pun berusaha menepis tangan itu.
Merasakan gelagat yang tidak baik, Intan mengajak Nina menjauh dari tempat berdiri mereka sekarang. Namun belum sempat mereka bergerak, ada tangan-tangan yang mencengkeram lengan mereka berdua sehingga mereka tidak dapat bergerak kemana-mana. Disaat bersamaan, kedua wanita cantik itu merasakan tangan yang menjamah tubuh mereka kian banyak. Ada yang meremas-remas pantat mereka dan ada yang naik meraba payudara mereka. Merekapun berusaha meronta melepaskan diri dari situasi tersebut, tangan keduanya bergerak menepis tangan-tangan jahil itu. Namun apa daya dua pasang tangan melawan tangan-tangan sebanyak itu.
“Ehh, apa-apaan ini!” teriak Intan. Namun ia menyadari tidak ada yang paham ucapannya. Ia pun berusah menggunakan bahasa Jepang sebisanya. “Ieee, bageroooo! Emph….” Sebelum sempat meneruskan teriakannya, ada tangan kokoh membekap mulutnya dari belakang sehingga ia tak lagi mampu berkata-kata. Semakin lama, jamahan dari tangan-tangan itu kian mengarah ke paha bagian dalam Intan. Ia pun berusaha mengatupkan kedua kakinya sehingga tangan-tangan itu tidak dapat menjangkau bagian vitalnya. Namun usaha itu sia-sia karena tangan-tangan lain sudah mencengkeram dan merenggangkan kakinya sehingga posisinya terbuka dan tangan-tangan jahanam itu dapat leluasa bergerak menuju vagina Intan yang masih tertutup g-string seksi warna hitam.
“Mmh…. hhhh” Intan hanya bisa sedikit mendesah, dalam keadaan mulutnya disumpal telapak tangan seseorang dibelakangnya. Intan mencoba melihat dimana posisi Nina, tapi ia tidak dapat melihat temannya itu, di sekitarnya hanya ada segerombolan laki-laki.
Perlahan, tangan-tangan tersebut mulai membuka kancing kemeja krem Intan. Intan pun berusaha meronta sebisanya, namun hal tersebut hanya membuat pertahanannya lebih longgar karena berikutnya, mantel bulu yang dikenakannya berhasil direnggut oleh seorang laki-laki anggota gerombolan itu. Kini, Intan masih berpakaian lengkap minus mantel bulunya, namun kancing kemejanya sudah terbuka seluruhnya, memperlihatkan payudara Intan yang sekal dan hanya ditutupi oleh bra berwarna putih. Tangan-tangan yang menjamahnya seolah semakin menggila dengan keadaan tersebut.
“Mmm…!”, terdengar suara teriakan tertahan Intan. Rupanya ada yang meremas-remas payudara Intan dengan keras sehingga ia berteriak tertahan. Berikutnya, dengan sekali hentakan, robeklah bra putih yang dikenakan Intan memperlihatkan dua gundukan indah dengan puting berwarna kecokelatan. Kini, tubuh bagian atas intan sudah terbuka dan hanya menyisakan kemejanya yang seluruh kancingnya sudah terbuka. Melihat pemandangan tersebut, seorang diantara gerombolan tersebut bergerak maju dan mulai memainkan puting payudara sebelah kanan Intan, sementara mulutnya mulai ‘menyusu’ ke payudara sebelah kiri Intan. Yang lebih membuat Intan terkejut adalah, orang tersebut ternyata si bapak berwajah ramah yang bertanya jam tadi. Dalam hatinya Intan berkata “dasar tua cabul, tahu begini udah gue tonjok dari tadi”. Sementara itu, tangan-tangan yang ‘beroperasi’ di bagian bawah tubuh intan semakin berani, ada yang menarik roknya keatas sebatas pinggang, sehingga kini rabaan dan sentuhan mereka dapat langsung bersinggungan dengan kulit telanjang Intan, sebuah tangan meraba naik paha bagian dalamnya dan bersentulah dengan liang vagina Intan yang masih terbungkus g-string hitam. Tangan itu menggesek-gesek kemaluan Intan dengan gerakan maju-mundur. Mendapat rangsangan yang demikian hebat, Intan pun mulai terangsang diluar kemauannya sendiri. Seolah mengetahui hal tersebut, tangan yang membekap mulutnya mulai mengendurkan pegangan dan perlahan melepaskan bekapannya. Intan tak lagi berteriak-teriak, mungkin karena sudah terlampau lelah meronta, disamping itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ia menjadi sangat terangsang dengan keadaan ini.
Tanpa disadari oleh intan, ternyata G-String-nya sudah tidak berada ditempatnya semula, entah kemana, memperlihatkan vaginanya yang dihiasi bulu-bulu kemaluan yang dicukur rapi, sehingga tangan yang tadinya hanya menggesek-gesek kemaluannya, perlahan mulai memainkan jari-jarinya diatas klitoris Intan. Intan terangsang hebat diperlakukan seperti ini, namun ia tidak ingin semua laki-laki dihadapannya tahu bahwa ia terangsang, karena hal tersebut pasti akan membuat mereka merasa senang dan puas. Iapun mencoba menutupinya dengan mengatupkan bibir mungilnya rapat-rapat dan mencoba untuk tidak bersuara, apalagi mendesah. Namun cobaan terasa semakin sulit bagi Intan, selanjutnya, jari tengah si bapak berwajah ramah digerakkan keluar-masuk di dalam liang vagina Intan, didalam vaginanya, jari itu sedikit ditekukkan sehingga mengenai g-spot milik Intan. Intan semakin tidak kuasa menahan gejolak birahi yang dahsyat, mulutnya tetap ditutup rapat-rapat, namun sesekali terdengar desahan tertahan. “Emmh… hhh”.
Gerakan jari itu kian lama kian cepat sehingga pertahanan Intan yang mati-matian berusaha tidak menunjukkan ekspresi kenikmatan akhirnya bobol juga.
“Mmhh… aa… aaaaaahh!!” Teriakan itu disertai getaran hebat, ia menggelinjang menerima orgasme pertamanya. Cengkeraman tangan dari para lelaki yang sedari tadi memegangnya kuat-kuat, akhirnya dilepaskan. Intan terduduk lemas, tubuhnya terasa panas terbakar gejolak birahi. Perasaannya bercampur aduk, antara malu, terhina, marah dan nikmat. Hanya sekitar lima-enam detik kemudian, tubuh Intan kembali diangkat oleh para lelaki Jepang tersebut, namun kali ini beberapa orang diantara mereka sudah melorotkan celana masing-masing, memperlihatkan penis masing-masing yang sudah tegak mengacung. Mengetahui apa yang akan dilakukan gerombolan lelaki itu, Intan coba berontak dengan menggunakan tenaganya yang tersisa, namun seorang diantara gerombolan itu, tubuhnya kurus dan agak tonggos, meremas kedua payudaranya kuat-kuat sehingga intan merintih kesakitan dan mencoba menepis tangan itu dari atas payudaranya. Disaat bersamaan, pinggang Intan ditarik kebelakang oleh si bapak berwajah ramah yang langsung menancapkan penis 15cm-nya kedalam vagina Intan dengan sekali hentakan keras. Bless, masuklah penis itu disertai teriakan panjang Intan yang baru pertama kali dimasuki oleh penis laki-laki. Bapak itu memompa tubuh Intan dengan cepat. “Plok…plok”, begitu bunyi yang terdengar ketika paha bapak itu beradu dengan paha bagian belakang Intan. Para lelaki yang lain tidak hanya diam saja, sebagian menjamah bagian-bagian sensitif Intan dengan leluasa, sebagian lagi terlihat mengocok penisnya sendiri, dan ada pula yang meraih tangan Intan, dan memaksa Intan untuk mengocok penisnya. Ada seorang lagi yang berperawakan pendek memasukkan penisnya kedalam mulut Intan dan menggerakkannya maju-mundur. Sehingga sekarang, Intan dalam posisi setengah membungkuk dan disetubuhi dari arah depan dan belakang tubuhnya.
Lima belas menit berlalu, lelaki yang penisnya dikocok oleh tangan mungil Intan, tampak tidak kuat lagi menahan gelombang orgasme dan berejakulasi sesaat kemudian, crott!! spermanya muncrat dengan deras dan sebagian mengenai wajah Intan.
“Ah…. ahhh”, Intan mendesah seriap kali penis si bapak masuk dengan dalam di vaginanya. Lima menit kemudian, tubuh Intan bergetar hebat, ia mendapatkan orgasme keduanya. “Aaaa.. aaahh!!” Desahnya.
Tidak berapa lama, penis didalam mulut Intan menyemburkan spermanya. Membuat Intan gelagapan dan tersedak sehingga sebagian sperma itu tertelan olehnya, sementara sebagian lagi meleleh keluar dari bibit indahnya. Si bapak yang memompa vagina Intan rupanya kuat juga, masih belum menampakkan tanda-tanda akan keluar. Bapak itu rupanya pandai memainkan tempo, terkadang kocokan penisnya dipelankan dan terkadang cepat. Tampaknya ia benar-benar ingin menikmati jepitan vagina Intan sepuasnya. Sepuluh menit kemudian, cengkeraman tangan bapak itu di pinggang Intan tiba-tiba mengeras, bapak itupun mulai setengah mendesah. “Hhhh…. ah..” Intan tahu bahwa orang dibelakangnya ini akan segera berejakulasi, iapun mencoba menarik badannya ke arah depan sehingga rahimnya dapat diloloskan dari semburan sperma bapak brengsek itu, namun sia-sia, baru setengah penis yang bisa dikeluarkan dan “Aaaaaahh” Crott, crott, crott! Sperma bapak itu keburu keluar membanjiri bagian dalam vagina Intan. “Aah, sial, damn..” gerutu Intan dalam hati karena bapak itu keluar didalam vaginanya.
Tubuh Intanpun digeletakkan di atas lantai kereta dan dikelilingi tiga orang lelaki lagi yang dengan irama cepat mengocok sendiri penis masing-masing di depan wajah Intan, dan beberapa saat kemudian berejakulasi dan menyemburkan sperma masing-masing di wajah Intan. Para lelaki itupun meninggalkan Intan terkulai diatas lantai kereta dalam keadaan telanjang bulat dengan hanya mengenakan kemeja warna krem yang sudah kusut dan basah oleh peluh dan sperma. Payudaranya dipenuhi bekas-bekas remasan dan cupangan yang berwarna kemerahan. Dalam keadaan lemas, ia mencoba mencari Nina yang sejak tadi tidak terlihat. Rupanya, Nina mengalami hal yang sama dan ditinggalkan tergeletak lemas bermandikan keringat dan sperma. Tidak ingin berlama-lama dalam keadaan demikian, Intan segera berdiri, mengelap keringat dan sperma disekujur tubuhnya dengan bra putihnya yang sudah robek, kemudian mengancingkan kembali kemejanya dan menurunkan roknya kembali, Intan kemudian mengajak Nina yang juga sudah merapikan diri, untuk keluar dari kereta dan mengajaknya untuk kembali saja ke tempat Wiwin. Kejadian barusan membuat hasrat belanjanya hilang.
Setibanya mereka di rumah Wiwin, merekapun mandi membersihkan tubuh masing-masing dari sisa-sisa persetubuhan yang baru saja dialami. Kemudian mengistirahatkan tubuh masing-masing. Sorenya, bel depan berbunyi, rupanya Wiwin sudah pulang. Nina yang membukakan pintu. setelah masuk kedalam rumah, Wiwin menanyakan keadaan kedua temannya itu. Intan dan Nina pun menceritakan hal yang tadi mereka alami di kereta sehingga mereka berdua membatalkan niat belanjanya.
“Waduh, gue minta maaf bener. gue lupa kasih tahu kalian, sebenarnya ada kereta khusus untuk penumpang wanita di sini, karena emang banyak kejadian begini sebelumnya.”
“Yah, lo kok enggak kasih tahu kita dari kemarin sih Win? Kalau tahu, kan kita enggak bakal diperkosa begini.”
“Iya, iya, gue bener-bener mohon maaf.” Ucap wiwin. “Eh iya, kalian mau enggak, gue kenalin sama cowok gue? Kebetulan tuh, sebentar lagi kesini.”
Intan dan Nina mengiyakan tawaran itu karena memang penasaran seperti apa muka pacar si Wiwin.
Beberapa saat kemudian, kembali terdengar bunyi bel. Wiwin beranjak keluar. Saat kembali kedalam rumah, ia berjalan bersama sesosok pria. Intan terkesiap. Astaga, ternyata si bapak berwajah ramah…..!
Senin, 15 November 2010
Kunikmati Perkosaan Itu
Aku adalah wanita berumur 25 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di salah satu komplek
yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah janda tanpa anak,
suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan.
Saat itu usia perkawinan kami baru menginjak tahun kedua.
Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkawinan untukku,
suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.
Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas.
Hidup di Jakarta menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku.
Kami masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.
Sering aku merasa kesepian tinggal sendiri di rumah ini, tapi aku tidak mau menggunakan jasa pramuwisma,
aku ingin mengerjakan pekerjaan rumahku sendiri. Alasanku pada mama sih biar aku ada kesibukan di rumah,
rasanya lebih enjoy kalau semua dikerjakan sendiri.
Malam itu aku pulang agak larut karena baru pulang dari acara ulang tahun temanku.
Setelah mengunci pintu depan aku mencari-cari kontak lampu karena suasana rumahku masih gelap.
Aku berangkat dari tadi siang untuk bantu-bantu di acara ulang tahun tersebut.
Begitu lampu menyala, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti baju yang kotor.
Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu menyimpan baju kotorku di keranjang yang memang kusediakan di kamar
untuk pakaian kotor. Sungguh aku sekarang telanjang bulat.
Aku merasa sendiri di rumahku sehingga aku merasa bebas walaupun ke ruang tengah atau ke dapur dalam keadaan telanjang.
Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Selesai mandi rasanya badanku terasa segar.
Kemudian duduk santai menonton TV di ruang tengah sambil minum susu hangat.
Aku hanya melilitkan handuk pada badanku,
sambil mengeringkan rambutku dengan kipas angin aku buka channel TV sana-sini.
Acaranya tidak ada yang menarik hatiku.
Iseng-iseng aku menonton film BF koleksi suamiku. Aku pernah protes padanya karena dia menonton film begituan.
Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia mencari style bercinta untukku.
Di film itu pria bule sedang mencumbu seorang wanita asia yang kelihatannya begitu menikmati cumbuan dari pri bule.
Aku sedikit terangsang melihat adegan itu, seandainya suamiku masih ada….
Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, lalu mengelus-elus payudaraku sendiri dengan lembut.
Payudaraku memang tidak begitu besar, tapi suamiku selalu memujiku dengan sebutan montok.
Untuk urusan mengurus badan, aku memang agak telaten.
Karena bagiku kecantikan wanita dan kemulusan badan itu adalah harga mati.
Aku tidak menyadari sama sekali kalau ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatanku
Kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku.
Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama,
matakupun tak terasa mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.
Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai melakukan remasan ke buah dadaku.
Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya.
Tanganku perlahan-lahan turun mengelus-elus selangkanganku.
Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku,
aku pun merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.
Aku terangsang sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang keluar membasahi bibir vaginaku.
Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri
hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang semakin menggebu.
Badanku melengkung merasakan kenikmatan, kukangkangkan pahaku semakin lebar.
Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya.
Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku.
Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku,
kusorongkan sedikit masuk ke dalam.
Liang vaginaku sudah benar-benar basah oleh lendir yang licin hingga dengan mudahnya
menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.
Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya
untuk menggesek-gesek klitorisku.
Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku.
Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot,
punggung dan kepalaku jadi tersandar kuat pada sofa di ruang tengah,
seakan-akan tubuhku melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.
Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yang rasanya
akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme.
Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi,
demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula.
Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba,
kurasakan kedutan bibir vaginaku yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku
yang masih berada di dalam liang senggamaku.
Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding vaginaku.
Aku serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan maniku yang mengalir deras.
“AGGHH.....” aku terpekik, lalu tubuhku bergetar hebat.
Setelah beberapa detik baru terasa badanku seperti lemas sekali.
Mataku terpejam sambil menikmati rasa indah yang menjalar di sekujur badanku,
tiba-tiba terasa ada benda dingin menempel di leherku. Mataku sedikit terbuka, lalu…..
“ Diam atau lehermu akan terluka.” Suara seorang laki-laki terdengar mengejutkanku.
Jantungku rasanya hampir berhenti menyadari ada pria yang menempelkan pisau ke leherku,
dan aku dalam keadaan telanjang....
Aku terdiam tak berdaya ketika dia berusaha mengikat tanganku.
Aku takut kalau dia merasa terancam, maka dia akan membunuhku.
Matanya jelalatan melihat tubuhku yang tidak tertutup sehelai kain.
Terbersit penyesalan dalam hatiku, kenapa aku sangat gegabah.
Bagaimana dia masuk ke dalam rumah ini, dan apa yang akan mereka lakukan.
Segala macam perasaan dalam diriku saat itu.
“He.. he.. he… cantik, ijinkan aku untuk membantumu menyelesaikan hasrat terpendam dalam dirimu.”
Lelaki itu duduk disampingku.
“Nah cantik…. Sekarang Abang akan memuaskanmu, dengan KONTOL besarku ini cantik..”
Laki-laki yang memanggil dirinya Abang kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku.
Antara takut dan marah, aku masih berontak dan berusaha melawan.
Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku.
Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku,
dan usianya yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan otot-otot lengannya
yang nampak gempal saat menahan tubuhku yang terus berontak.
Dia lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku.
Aku setengah dibantingkannya ke ranjang. Dan aku benar-benar terbanting.
Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu.
Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya,
tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena mereka membekap mulutku.
hingga akhirnya, sehingga aku menyadari tidak ada gunanya lagi berontak maupun berteriak.
Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya.
Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku.
Dia berbisik dalam desahnya,
"Ayolah cantik, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar rumah di komplek ini cukup berjauhan.
Lagian kalaupun ada yang tahu mereka tidak akan berani menggangu".
Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir.
Laki-laki ini seakan-akan sengaja memperhitungkan keadaan.
Kemudian dengan tersenyum dia benamkan wajahnya ke ketiakku.
Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku.
Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri.
Menimbulkan rasa geli sekaligus membangkitkan gairah.
Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku.
Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku.
Disini dia melakukannya mulai dengan lembut dan demikian penuh perasaan.
Bajingan! Dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu.
Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagaikan mangsa yang siap diterkam.
Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal.
Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar.
Aku merasa sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku.
Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,
"Kamu cantik banget, kamu sangat mengairahkan sekali manis, tubuhmu, susumu agghh... sungguh indah... "
dia berusaha menenangkanku.
Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal.
Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya.
Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut.
Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat.
Hanya suamiku yang melihat auratku selama ini,
tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.
Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya.
Pemberontakanku sia-sia.
Wajahnya semakin turun mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku.
Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.
“ Agghhh... ssttt....” Bukan main rasanya. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku.
Juga tidak begini suamiku selama ini. Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas.
Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku.
Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Darahku berdesir.
Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan
dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan.
Aku merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah.
Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku.
Seribu lidah lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam.
Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam..
Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku.
Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku yang telah enam bulan tidak terlampiaskan semenjak suamiku meninggal.
Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku
dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku,
aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku.
Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku.
Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku,
desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi.
Laki-laki itu tiba-tiba merenggut sumpal mulutku. Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku.
"Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. kamu budak sexku sekarang...."
Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku.
Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris.
Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku.
Aku meronta menjemput nikmat.
Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.
Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkat pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah lelaki ini membuatku seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.
"Masukin... bang.. aughh… aku gak tahan... masukin kontol besarku kedalam memekku...sstt...aahh..."
aku mendesah tidak karuan. Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.
Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya.
Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya.
Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar dilanda gelombang syahwatku.
Aku betul-betul tidak sabar menunggu dia melepas pakaiannya.
Aku masih berkelojotan diranjang.
Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula.
Aku benar-benar berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian
melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku.
Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya.
Batang Kontol lelaki ini demikian gede dan panjangnya.
Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini.
Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu.
Ampuunn.. Sungguh mengerikan.
Rasanya ada pisang ambon gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku.
"Arrgghh..." Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya.
Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku.
Dia kini berusaha menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar batang kontol di gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah demikian dilanda birahi dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku. Cairan-cairan kewanitaanku membantu batang kontol itu memasuki kemaluanku.
“Blesek……..Blesek………. Ohh…... Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh aku sangat merindukan kenikmatan ini…..”
Aku semakin meracau.
Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol lelaki ini
sungguh menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku selama ini.
Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat,
meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan....
Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak terhingga..
Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam
dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.
“Aagghh..sstt..aahh...Bang !!! Arrgghh... aku kenakann...Shit !!“ aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik kenikmatan
menjalar di sekujur tubuhku.
Kami langsung roboh. Hening sesaat.
Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut.
Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar.
Aku merasakan seakan menerima sesuatu yang sangat aku rindukan selama ini.
Apakah aku memang hipersex atau memang karena lelaki ini memang tangguh dan pandai bercinta.
Ah aku tidak mau berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan.
Besok pagi aku terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal.
Tidak ada tanda-tanda dia masih ada di rumah.
Dan kuperiksa tidak ada barang yang hilang. Apakah dia memang datang untuk memperkosaku?....
kadang-kadang aku masih ingin melakukan hal yang sama.
Aku merindukan kontolnya yang telah membuatku mencapai kenikmatan tertinggi dalam bercinta.
Dimanakah kamu...Si Abang Kontol besarku sekarang, aku butuh kamu...
TAMMAT
yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah janda tanpa anak,
suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan.
Saat itu usia perkawinan kami baru menginjak tahun kedua.
Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkawinan untukku,
suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.
Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas.
Hidup di Jakarta menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku.
Kami masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.
Sering aku merasa kesepian tinggal sendiri di rumah ini, tapi aku tidak mau menggunakan jasa pramuwisma,
aku ingin mengerjakan pekerjaan rumahku sendiri. Alasanku pada mama sih biar aku ada kesibukan di rumah,
rasanya lebih enjoy kalau semua dikerjakan sendiri.
Malam itu aku pulang agak larut karena baru pulang dari acara ulang tahun temanku.
Setelah mengunci pintu depan aku mencari-cari kontak lampu karena suasana rumahku masih gelap.
Aku berangkat dari tadi siang untuk bantu-bantu di acara ulang tahun tersebut.
Begitu lampu menyala, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti baju yang kotor.
Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu menyimpan baju kotorku di keranjang yang memang kusediakan di kamar
untuk pakaian kotor. Sungguh aku sekarang telanjang bulat.
Aku merasa sendiri di rumahku sehingga aku merasa bebas walaupun ke ruang tengah atau ke dapur dalam keadaan telanjang.
Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Selesai mandi rasanya badanku terasa segar.
Kemudian duduk santai menonton TV di ruang tengah sambil minum susu hangat.
Aku hanya melilitkan handuk pada badanku,
sambil mengeringkan rambutku dengan kipas angin aku buka channel TV sana-sini.
Acaranya tidak ada yang menarik hatiku.
Iseng-iseng aku menonton film BF koleksi suamiku. Aku pernah protes padanya karena dia menonton film begituan.
Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia mencari style bercinta untukku.
Di film itu pria bule sedang mencumbu seorang wanita asia yang kelihatannya begitu menikmati cumbuan dari pri bule.
Aku sedikit terangsang melihat adegan itu, seandainya suamiku masih ada….
Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, lalu mengelus-elus payudaraku sendiri dengan lembut.
Payudaraku memang tidak begitu besar, tapi suamiku selalu memujiku dengan sebutan montok.
Untuk urusan mengurus badan, aku memang agak telaten.
Karena bagiku kecantikan wanita dan kemulusan badan itu adalah harga mati.
Aku tidak menyadari sama sekali kalau ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatanku
Kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku.
Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama,
matakupun tak terasa mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.
Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai melakukan remasan ke buah dadaku.
Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya.
Tanganku perlahan-lahan turun mengelus-elus selangkanganku.
Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku,
aku pun merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.
Aku terangsang sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang keluar membasahi bibir vaginaku.
Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri
hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang semakin menggebu.
Badanku melengkung merasakan kenikmatan, kukangkangkan pahaku semakin lebar.
Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya.
Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku.
Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku,
kusorongkan sedikit masuk ke dalam.
Liang vaginaku sudah benar-benar basah oleh lendir yang licin hingga dengan mudahnya
menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.
Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya
untuk menggesek-gesek klitorisku.
Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku.
Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot,
punggung dan kepalaku jadi tersandar kuat pada sofa di ruang tengah,
seakan-akan tubuhku melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.
Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yang rasanya
akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme.
Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi,
demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula.
Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba,
kurasakan kedutan bibir vaginaku yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku
yang masih berada di dalam liang senggamaku.
Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding vaginaku.
Aku serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan maniku yang mengalir deras.
“AGGHH.....” aku terpekik, lalu tubuhku bergetar hebat.
Setelah beberapa detik baru terasa badanku seperti lemas sekali.
Mataku terpejam sambil menikmati rasa indah yang menjalar di sekujur badanku,
tiba-tiba terasa ada benda dingin menempel di leherku. Mataku sedikit terbuka, lalu…..
“ Diam atau lehermu akan terluka.” Suara seorang laki-laki terdengar mengejutkanku.
Jantungku rasanya hampir berhenti menyadari ada pria yang menempelkan pisau ke leherku,
dan aku dalam keadaan telanjang....
Aku terdiam tak berdaya ketika dia berusaha mengikat tanganku.
Aku takut kalau dia merasa terancam, maka dia akan membunuhku.
Matanya jelalatan melihat tubuhku yang tidak tertutup sehelai kain.
Terbersit penyesalan dalam hatiku, kenapa aku sangat gegabah.
Bagaimana dia masuk ke dalam rumah ini, dan apa yang akan mereka lakukan.
Segala macam perasaan dalam diriku saat itu.
“He.. he.. he… cantik, ijinkan aku untuk membantumu menyelesaikan hasrat terpendam dalam dirimu.”
Lelaki itu duduk disampingku.
“Nah cantik…. Sekarang Abang akan memuaskanmu, dengan KONTOL besarku ini cantik..”
Laki-laki yang memanggil dirinya Abang kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku.
Antara takut dan marah, aku masih berontak dan berusaha melawan.
Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku.
Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku,
dan usianya yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan otot-otot lengannya
yang nampak gempal saat menahan tubuhku yang terus berontak.
Dia lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku.
Aku setengah dibantingkannya ke ranjang. Dan aku benar-benar terbanting.
Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu.
Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya,
tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena mereka membekap mulutku.
hingga akhirnya, sehingga aku menyadari tidak ada gunanya lagi berontak maupun berteriak.
Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya.
Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku.
Dia berbisik dalam desahnya,
"Ayolah cantik, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar rumah di komplek ini cukup berjauhan.
Lagian kalaupun ada yang tahu mereka tidak akan berani menggangu".
Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir.
Laki-laki ini seakan-akan sengaja memperhitungkan keadaan.
Kemudian dengan tersenyum dia benamkan wajahnya ke ketiakku.
Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku.
Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri.
Menimbulkan rasa geli sekaligus membangkitkan gairah.
Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku.
Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku.
Disini dia melakukannya mulai dengan lembut dan demikian penuh perasaan.
Bajingan! Dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu.
Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagaikan mangsa yang siap diterkam.
Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal.
Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar.
Aku merasa sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku.
Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,
"Kamu cantik banget, kamu sangat mengairahkan sekali manis, tubuhmu, susumu agghh... sungguh indah... "
dia berusaha menenangkanku.
Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal.
Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya.
Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut.
Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat.
Hanya suamiku yang melihat auratku selama ini,
tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.
Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya.
Pemberontakanku sia-sia.
Wajahnya semakin turun mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku.
Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.
“ Agghhh... ssttt....” Bukan main rasanya. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku.
Juga tidak begini suamiku selama ini. Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas.
Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku.
Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Darahku berdesir.
Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan
dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan.
Aku merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah.
Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku.
Seribu lidah lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam.
Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam..
Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku.
Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku yang telah enam bulan tidak terlampiaskan semenjak suamiku meninggal.
Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku
dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku,
aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku.
Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku.
Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku,
desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi.
Laki-laki itu tiba-tiba merenggut sumpal mulutku. Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku.
"Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. kamu budak sexku sekarang...."
Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku.
Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris.
Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku.
Aku meronta menjemput nikmat.
Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.
Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkat pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah lelaki ini membuatku seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.
"Masukin... bang.. aughh… aku gak tahan... masukin kontol besarku kedalam memekku...sstt...aahh..."
aku mendesah tidak karuan. Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.
Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya.
Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya.
Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar dilanda gelombang syahwatku.
Aku betul-betul tidak sabar menunggu dia melepas pakaiannya.
Aku masih berkelojotan diranjang.
Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula.
Aku benar-benar berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian
melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku.
Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya.
Batang Kontol lelaki ini demikian gede dan panjangnya.
Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini.
Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu.
Ampuunn.. Sungguh mengerikan.
Rasanya ada pisang ambon gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku.
"Arrgghh..." Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya.
Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku.
Dia kini berusaha menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar batang kontol di gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah demikian dilanda birahi dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku. Cairan-cairan kewanitaanku membantu batang kontol itu memasuki kemaluanku.
“Blesek……..Blesek………. Ohh…... Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh aku sangat merindukan kenikmatan ini…..”
Aku semakin meracau.
Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol lelaki ini
sungguh menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku selama ini.
Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat,
meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan....
Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak terhingga..
Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam
dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.
“Aagghh..sstt..aahh...Bang !!! Arrgghh... aku kenakann...Shit !!“ aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik kenikmatan
menjalar di sekujur tubuhku.
Kami langsung roboh. Hening sesaat.
Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut.
Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar.
Aku merasakan seakan menerima sesuatu yang sangat aku rindukan selama ini.
Apakah aku memang hipersex atau memang karena lelaki ini memang tangguh dan pandai bercinta.
Ah aku tidak mau berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan.
Besok pagi aku terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal.
Tidak ada tanda-tanda dia masih ada di rumah.
Dan kuperiksa tidak ada barang yang hilang. Apakah dia memang datang untuk memperkosaku?....
kadang-kadang aku masih ingin melakukan hal yang sama.
Aku merindukan kontolnya yang telah membuatku mencapai kenikmatan tertinggi dalam bercinta.
Dimanakah kamu...Si Abang Kontol besarku sekarang, aku butuh kamu...
TAMMAT
Selasa, 09 November 2010
Gang Bang
Namaku Ratih, umurku 18 tahun. Tinggiku hanya 158cm tidak begitu tinggi dan cukup langsing.
Menurut orang-orang sekitarku aku memiliki paras yang cantik dan menarik,
selain itu dadaku cukup padat dan montok dengan ukuran 36A.
Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani yang belum memiliki pekerjaan tetap.
Meski demikian, aku sangat menyayangi Deden apa adanya.
Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling,
di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah.
Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri,
sehingga dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah.
Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan.
Tapi apa mau dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.
Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat.
Deden pun semakin perhatian,
ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan kujual.
Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu
karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat.
Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit.
Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku.
Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku.
Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar
dan aku masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.
“Wah, rajin sekali istriku.” Deden menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku.
Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.
“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” tanyaku.
“Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen.
Mungkin nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai terlambat.”
jawab suamiku.
“Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita.”
Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.
“Tapi nanti hati-hati Ratih, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.”
“Iya, suamiku.” jawabku mengakhiri obrolan kami.
Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo.
Tak lupa aku memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan.
Setelah sedikit berbenah, akhirnya semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku.
Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu.
Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut.
Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu,
aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara dua payudaraku.
Sehingga dadaku nampak menonjol sekali,
belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang membuatku sedikit membusung
hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku. Setelah semuanya siap,
aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu,
tak lupa aku mengunci pintu depan dan belakang rumah warisan ayah Deden.
Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama,
aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku.
Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku.
“Jamu, Jamuuu.”
Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk.
“Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.” teriak seorang wanita.
“Mau jamu apa mbak?” tanyaku.
“Kunir Asem satu gelas saja mbak.” pintanya.
Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah.
Setelah itu aku berkeliling menjajakan jamu kembali. Siang itu begitu terik,
hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan.
Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli.
Aku melangkah menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning.
Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani.
Sehingga mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.
Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah
dimana para buruh tani sedang beristirahat karena sudah tengah hari.
Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka sudah memanggil.
”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka.
“Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.”
jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.
”Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya. Mereka semua ada bertiga,
salah satu dari mereka sepertinya masih smp.
Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari.
Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku.
“Wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam.
“Kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.
“Wah sama dengan Dewo, dia juga rajin membantu orang tua.”
potong Abdul yang kurang lebih seumuran Aji,
sedangkan Dewo adalah yang paling muda diantara mereka.
“Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” jawabku lagi.
“Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya Dewo.
“Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.
”Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” jawab Dewo lagi.
Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku,
Aji dan Abdul mereka berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan Dewo masih 14-an tahun.
Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.
“Wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” tanya Aji.
“Wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” jawabku sambil sedikit senyum.
“Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh.
“Asik kenapa to mas?” tanyaku heran.
“Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.”
jawab Aji sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku kemudian duduk di sampingku.
Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku.
Rupanya Dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang,
memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat
dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk.
Tapi aku tidak tahu akan hal ini.
“Wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu.
Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak melihat,
dalam hati aku berpikir,
”Dasar orang kampung tidak tahu malu.”
Saat itu panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir,
tidak terasa aku pun mulai mengantuk.
Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum sempat untuk beristirahat.
Aji pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul,
tiduran di lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas,
mengeluh karena panas tak juga usai. Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan,
tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku.
”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?”
kata Abdul mengagetkanku.
”A.. anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” jawabku.
”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.”
kata Dewo dari belakangku.
“Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.”
jawabku sambil mengamati langit yang sangat terik.
“Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” hibur mas Aji.
Tidak terasa aku semakin mengantuk.
Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang sangat nyaman.
Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan disampingku.
Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku.
“Aaaaaw apa-apaan ini!!?”
Aku terbangun dan kaget ketika memplok.
Abdul menciumi leherku yang putih,
dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak.
“Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.”
kata Aji sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cengengesan.
Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku.
Tapi tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.
”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.”
Aku memelas dengan harapan mereka dapat berubah pikiran.
”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” bisik abdul sambil meniup telingaku.
Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,
”Bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.”
Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.
“Jangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.”
Aku mencoba untuk mengelabui mereka.
Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain.
“Yang bener kamu sedang haid? Wah sial bener aku hari ini!” jawab Abdul kesal.
“Iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.”
Aku memohon pada mereka.
“Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” kata Aji.
Namun Dewo yang masih berumur 14 tahun ini tidak mempedulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-remas pantatku.
“Sudah Wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” kata Aji pada dewo.
Dewo tetap tidak menghiraukannya.
Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin ke bawah menuju selangkanganku.
Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalam putihku terlihat.
Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas,
“Mana? Tidak ada darah kok.” kata Dewo.
Sontak ucapan Dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul.
“Mana Wo, jangan bohong kamu.” kata mereka serempak.
Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.
“Kamu bohong!” dan
PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku.
“Aaa ampun mass, ampunn, aku sedang hamil mass.”
Aku semakin memelas dan ketakutan.
“Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku,
hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut.
Aji melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.
“Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?”
Dewo menantangku,
dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat.
Aku tersentak dan kaget,
juga kulihat penis Dewo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya.
Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar.
Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera menikmati tubuhku.
“Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.”
Aji senang sekali melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap.
“Mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.”
Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong.
“Wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu!
Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja! Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.”
kata Abdul sambil mendekatiku.
Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri.
Srakk, Abdul merobek rokku dan melemparnya ke arah Dewo.
“Itu Wo, buat kenang-kenangan.” kata Abdul.
“Haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” kata Dewo cengar-cengir.
Kini tubuhku sudah setengah bugil.
Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku.
“Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.”
Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding
dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku.
Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang Abdul dan diangkatnya keatas. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku.
“Aaaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.”
Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas.
Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas.
Aku sudah tidak bisa lari dari mereka,
kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku,
aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku.
Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak.
Air mata mulai menetes membasahi pipiku.
Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga.
Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu.
Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang
memperlihatkan paha dan payudaraku yang sudah sedikit terbuka.
Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan,
rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul.
Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku,
tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku.
“Mmmpff… mmpff.”
Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.
Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke Kontolnya yang sudah membesar.
Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit nungging.
Aku pun menurut saja,
aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang masih tertutup celana dalam yang sudah usang.
Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku.
Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya,
hingga dapat kurasakan Batang Kontolnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada pahaku yang mulus.
Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku.
“Nnggghhh uaamppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku.
“Nngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar.
Memang harus kuakui meski dari rohani aku menolak,
tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai basah oleh lendir kewanitaanku.
“Heh! Minggir-Minggir! Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” teriak Abdul.
“Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” tambahnya.
Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku,
dan kini Kontolnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.
“Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” kata Abdul di depan mukaku.
“Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.”
Ia semakin mendekat di wajahku. Seketika itu Aji melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan.
“Nnggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur.
Dewo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi,
lalu menyuruhku untuk mengocok-ocoknya.
Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti apa yang kulakukan pada Dewo.
Wajah Dewo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku,
dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam
sambil tangannya memainkan putingku. Aku semakin bernafsu,
tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih terasa.
Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang.
Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku.
Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya.
Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku
dan sesekali menghisap klitorisku dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku.
“Nnggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.”
Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga Abdul lebih leluasa memainkan vaginaku.
Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku.
Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini,
tapi tubuhku seolah-olah sudah menyatu dengan jiwa mereka.
“Mass ahhh, terus mass, enn… enak...perkosa aku mass...cepat puasin aku...mas...sshh..Ahh...,
sodok memekku dengan Kontolmu mass...Augghh...sshh...”
Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu.
Lidah Abdul semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan Dewo dan Aji.
“Aahhhh ahhh, mass. Lebih cepat mass...Kontolmu nikmat bangetss...Sshh..Aahhh..akkuu.. keluarr...Aahhsshh...”
aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme.
Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan kekiri.
Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki,
di depanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama,
aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka.
Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan.
”Ooohh....Aagghh....” Aji melenguh keenakan.
Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya.
Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan Batang Kontolnya yang besar itu.
“Mass...Sstthh...Ugghh...” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku.
Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk ke dalam liang kewanitaanku.
Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur.
Sedangkan Aji dan Dewo menjilat-jilat dan menghisap payudaraku.
Aku dikeroyok oleh 3 orang.
Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme.
Aku memegangi kepala Aji dan Dewo sambil terus melenguh keenakan.
“Uhhh.. ahhh..sodok memekku yang kencang Mas umm.. ahh.., perkosa aku Mas...Sshh..,
hajar memekku mas hajar !...Aahh...puasin aku mas...oohh..Kontolmu nikmat banget...sshh...”
kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka terhadapku.
Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku.
Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia.
Kini ia menyuruhku untuk nungging.
Aku hanya menuruti perkataannya.
“Dul, gantian aku yang naikin dia.”
Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku,
kini posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Dewo.
Penis Dewo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Aji dan Abdul.
Mungkin ini pertama kali baginya untuk merasakan liang vagina.
Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku.
“Uoogghh, uenakk tenann” kata Dewo.
Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku.
Dewo cepat beradaptasi, meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat,
berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan. Aji berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju mundurkannya beriringan dengan genjotan Dewo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan putingku yang lumayan besar. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur.
”Ahhh, masss, aaa… aku keluaaarr….Laggii...aahh.. umm, mmpfff...sshh..”
Aku keluar untuk kedua kalinya.
Begitu juga dengan Dewo,
ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku,
seketika itu juga ia langsung lemas.
“Wah, Wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.
“Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” tambahnya.
“Maaf mas Aji, aku kelepasan.” ucap Dewo.
Tampaknya Dewo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur.
“Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” ucap Abdul.
Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku.
Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.
“Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” seringainya padaku.
Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku,
tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba masuk melalui anusku.
“Nggghhh masss, sakitt, aaampun mas...aakkhh..ampun...sshh..”
Aku merasa kesakitan saat batang Kontol Aji yang besar mencoba menerobos anusku.
“Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.”
Aku semakin tidak karuan merasakannya.
Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk ke dalam anusku.
”Nggg ahhh.”
Rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku,
karena baru kali ini anusku dijejali Kontol.
“Hhmmff sempit banget, uahh.” ucap aji keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku.
Aji sudah mulai terbiasa dengan ini,
sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan penisnya.
“Akkkkhh, uuahhhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan,
spermanya mengisi penuh seluruh isi anusku hingga meleleh keluar.
Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama.
“Oouughhh teleennnn, sseeemuaa.”
Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada batang Kontolnya.
Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan.
Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat,
namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Deden,
Mereka bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali,
tapi mas Deden mungkin bisa lebih,
bahkan hingga aku tidak mampu lagi untuk berdiri.
Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah.
Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun.
Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan.
“Itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu. Sekarang kamu pergi dari sini!” ucapnya sedikit membentak.
“Bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.
“Pikir saja sendiri” balas Abdul ketus.
Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku.
Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi,
aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup.
Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa keranjangku.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.
“Mas Deden pasti sudah pulang ini.” ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.
Sesampainya di rumah ternyata benar,
Mas Deden sudah menungguku pulang.
Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya
karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki.
Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget,
Ia justru memelukku dengan erat,
dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi.
Aku terharu dengan Mas Deden.
Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku,
namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa,
dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.
Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini,
Selamanya aku tetap mencintainya.
Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi.
Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari.
Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit,
tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu.
Kini anakku sudah besar,
peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau sejenisnya.
Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari,
yang tetap bersinar sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini,
esok,
dan seterusnya.
TAMMAT
Menurut orang-orang sekitarku aku memiliki paras yang cantik dan menarik,
selain itu dadaku cukup padat dan montok dengan ukuran 36A.
Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani yang belum memiliki pekerjaan tetap.
Meski demikian, aku sangat menyayangi Deden apa adanya.
Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling,
di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah.
Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri,
sehingga dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah.
Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan.
Tapi apa mau dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.
Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat.
Deden pun semakin perhatian,
ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan kujual.
Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu
karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat.
Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit.
Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku.
Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku.
Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar
dan aku masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.
“Wah, rajin sekali istriku.” Deden menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku.
Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.
“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” tanyaku.
“Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen.
Mungkin nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai terlambat.”
jawab suamiku.
“Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita.”
Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.
“Tapi nanti hati-hati Ratih, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.”
“Iya, suamiku.” jawabku mengakhiri obrolan kami.
Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo.
Tak lupa aku memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan.
Setelah sedikit berbenah, akhirnya semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku.
Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu.
Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut.
Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu,
aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara dua payudaraku.
Sehingga dadaku nampak menonjol sekali,
belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang membuatku sedikit membusung
hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku. Setelah semuanya siap,
aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu,
tak lupa aku mengunci pintu depan dan belakang rumah warisan ayah Deden.
Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama,
aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku.
Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku.
“Jamu, Jamuuu.”
Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk.
“Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.” teriak seorang wanita.
“Mau jamu apa mbak?” tanyaku.
“Kunir Asem satu gelas saja mbak.” pintanya.
Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah.
Setelah itu aku berkeliling menjajakan jamu kembali. Siang itu begitu terik,
hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan.
Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli.
Aku melangkah menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning.
Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani.
Sehingga mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.
Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah
dimana para buruh tani sedang beristirahat karena sudah tengah hari.
Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka sudah memanggil.
”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka.
“Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.”
jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.
”Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya. Mereka semua ada bertiga,
salah satu dari mereka sepertinya masih smp.
Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari.
Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku.
“Wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam.
“Kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.
“Wah sama dengan Dewo, dia juga rajin membantu orang tua.”
potong Abdul yang kurang lebih seumuran Aji,
sedangkan Dewo adalah yang paling muda diantara mereka.
“Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” jawabku lagi.
“Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya Dewo.
“Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.
”Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” jawab Dewo lagi.
Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku,
Aji dan Abdul mereka berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan Dewo masih 14-an tahun.
Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.
“Wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” tanya Aji.
“Wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” jawabku sambil sedikit senyum.
“Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh.
“Asik kenapa to mas?” tanyaku heran.
“Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.”
jawab Aji sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku kemudian duduk di sampingku.
Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku.
Rupanya Dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang,
memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat
dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk.
Tapi aku tidak tahu akan hal ini.
“Wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu.
Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak melihat,
dalam hati aku berpikir,
”Dasar orang kampung tidak tahu malu.”
Saat itu panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir,
tidak terasa aku pun mulai mengantuk.
Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum sempat untuk beristirahat.
Aji pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul,
tiduran di lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas,
mengeluh karena panas tak juga usai. Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan,
tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku.
”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?”
kata Abdul mengagetkanku.
”A.. anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” jawabku.
”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.”
kata Dewo dari belakangku.
“Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.”
jawabku sambil mengamati langit yang sangat terik.
“Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” hibur mas Aji.
Tidak terasa aku semakin mengantuk.
Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang sangat nyaman.
Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan disampingku.
Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku.
“Aaaaaw apa-apaan ini!!?”
Aku terbangun dan kaget ketika memplok.
Abdul menciumi leherku yang putih,
dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak.
“Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.”
kata Aji sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cengengesan.
Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku.
Tapi tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.
”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.”
Aku memelas dengan harapan mereka dapat berubah pikiran.
”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” bisik abdul sambil meniup telingaku.
Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,
”Bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.”
Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.
“Jangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.”
Aku mencoba untuk mengelabui mereka.
Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain.
“Yang bener kamu sedang haid? Wah sial bener aku hari ini!” jawab Abdul kesal.
“Iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.”
Aku memohon pada mereka.
“Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” kata Aji.
Namun Dewo yang masih berumur 14 tahun ini tidak mempedulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-remas pantatku.
“Sudah Wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” kata Aji pada dewo.
Dewo tetap tidak menghiraukannya.
Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin ke bawah menuju selangkanganku.
Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalam putihku terlihat.
Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas,
“Mana? Tidak ada darah kok.” kata Dewo.
Sontak ucapan Dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul.
“Mana Wo, jangan bohong kamu.” kata mereka serempak.
Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.
“Kamu bohong!” dan
PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku.
“Aaa ampun mass, ampunn, aku sedang hamil mass.”
Aku semakin memelas dan ketakutan.
“Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku,
hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut.
Aji melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.
“Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?”
Dewo menantangku,
dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat.
Aku tersentak dan kaget,
juga kulihat penis Dewo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya.
Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar.
Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera menikmati tubuhku.
“Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.”
Aji senang sekali melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap.
“Mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.”
Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong.
“Wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu!
Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja! Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.”
kata Abdul sambil mendekatiku.
Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri.
Srakk, Abdul merobek rokku dan melemparnya ke arah Dewo.
“Itu Wo, buat kenang-kenangan.” kata Abdul.
“Haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” kata Dewo cengar-cengir.
Kini tubuhku sudah setengah bugil.
Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku.
“Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.”
Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding
dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku.
Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang Abdul dan diangkatnya keatas. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku.
“Aaaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.”
Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas.
Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas.
Aku sudah tidak bisa lari dari mereka,
kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku,
aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku.
Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak.
Air mata mulai menetes membasahi pipiku.
Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga.
Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu.
Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang
memperlihatkan paha dan payudaraku yang sudah sedikit terbuka.
Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan,
rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul.
Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku,
tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku.
“Mmmpff… mmpff.”
Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.
Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke Kontolnya yang sudah membesar.
Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit nungging.
Aku pun menurut saja,
aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang masih tertutup celana dalam yang sudah usang.
Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku.
Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya,
hingga dapat kurasakan Batang Kontolnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada pahaku yang mulus.
Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku.
“Nnggghhh uaamppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku.
“Nngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar.
Memang harus kuakui meski dari rohani aku menolak,
tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai basah oleh lendir kewanitaanku.
“Heh! Minggir-Minggir! Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” teriak Abdul.
“Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” tambahnya.
Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku,
dan kini Kontolnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.
“Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” kata Abdul di depan mukaku.
“Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.”
Ia semakin mendekat di wajahku. Seketika itu Aji melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan.
“Nnggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur.
Dewo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi,
lalu menyuruhku untuk mengocok-ocoknya.
Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti apa yang kulakukan pada Dewo.
Wajah Dewo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku,
dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam
sambil tangannya memainkan putingku. Aku semakin bernafsu,
tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih terasa.
Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang.
Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku.
Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya.
Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku
dan sesekali menghisap klitorisku dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku.
“Nnggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.”
Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga Abdul lebih leluasa memainkan vaginaku.
Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku.
Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini,
tapi tubuhku seolah-olah sudah menyatu dengan jiwa mereka.
“Mass ahhh, terus mass, enn… enak...perkosa aku mass...cepat puasin aku...mas...sshh..Ahh...,
sodok memekku dengan Kontolmu mass...Augghh...sshh...”
Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu.
Lidah Abdul semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan Dewo dan Aji.
“Aahhhh ahhh, mass. Lebih cepat mass...Kontolmu nikmat bangetss...Sshh..Aahhh..akkuu.. keluarr...Aahhsshh...”
aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme.
Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan kekiri.
Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki,
di depanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama,
aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka.
Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan.
”Ooohh....Aagghh....” Aji melenguh keenakan.
Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya.
Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan Batang Kontolnya yang besar itu.
“Mass...Sstthh...Ugghh...” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku.
Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk ke dalam liang kewanitaanku.
Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur.
Sedangkan Aji dan Dewo menjilat-jilat dan menghisap payudaraku.
Aku dikeroyok oleh 3 orang.
Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme.
Aku memegangi kepala Aji dan Dewo sambil terus melenguh keenakan.
“Uhhh.. ahhh..sodok memekku yang kencang Mas umm.. ahh.., perkosa aku Mas...Sshh..,
hajar memekku mas hajar !...Aahh...puasin aku mas...oohh..Kontolmu nikmat banget...sshh...”
kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka terhadapku.
Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku.
Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia.
Kini ia menyuruhku untuk nungging.
Aku hanya menuruti perkataannya.
“Dul, gantian aku yang naikin dia.”
Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku,
kini posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Dewo.
Penis Dewo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Aji dan Abdul.
Mungkin ini pertama kali baginya untuk merasakan liang vagina.
Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku.
“Uoogghh, uenakk tenann” kata Dewo.
Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku.
Dewo cepat beradaptasi, meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat,
berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan. Aji berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju mundurkannya beriringan dengan genjotan Dewo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan putingku yang lumayan besar. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur.
”Ahhh, masss, aaa… aku keluaaarr….Laggii...aahh.. umm, mmpfff...sshh..”
Aku keluar untuk kedua kalinya.
Begitu juga dengan Dewo,
ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku,
seketika itu juga ia langsung lemas.
“Wah, Wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.
“Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” tambahnya.
“Maaf mas Aji, aku kelepasan.” ucap Dewo.
Tampaknya Dewo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur.
“Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” ucap Abdul.
Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku.
Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.
“Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” seringainya padaku.
Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku,
tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba masuk melalui anusku.
“Nggghhh masss, sakitt, aaampun mas...aakkhh..ampun...sshh..”
Aku merasa kesakitan saat batang Kontol Aji yang besar mencoba menerobos anusku.
“Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.”
Aku semakin tidak karuan merasakannya.
Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk ke dalam anusku.
”Nggg ahhh.”
Rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku,
karena baru kali ini anusku dijejali Kontol.
“Hhmmff sempit banget, uahh.” ucap aji keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku.
Aji sudah mulai terbiasa dengan ini,
sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan penisnya.
“Akkkkhh, uuahhhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan,
spermanya mengisi penuh seluruh isi anusku hingga meleleh keluar.
Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama.
“Oouughhh teleennnn, sseeemuaa.”
Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada batang Kontolnya.
Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan.
Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat,
namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Deden,
Mereka bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali,
tapi mas Deden mungkin bisa lebih,
bahkan hingga aku tidak mampu lagi untuk berdiri.
Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah.
Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun.
Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan.
“Itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu. Sekarang kamu pergi dari sini!” ucapnya sedikit membentak.
“Bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.
“Pikir saja sendiri” balas Abdul ketus.
Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku.
Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi,
aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup.
Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa keranjangku.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.
“Mas Deden pasti sudah pulang ini.” ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.
Sesampainya di rumah ternyata benar,
Mas Deden sudah menungguku pulang.
Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya
karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki.
Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget,
Ia justru memelukku dengan erat,
dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi.
Aku terharu dengan Mas Deden.
Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku,
namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa,
dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.
Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini,
Selamanya aku tetap mencintainya.
Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi.
Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari.
Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit,
tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu.
Kini anakku sudah besar,
peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau sejenisnya.
Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari,
yang tetap bersinar sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini,
esok,
dan seterusnya.
TAMMAT
Jumat, 29 Oktober 2010
Jebakan Pak Dhe
Ceritaku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya,
meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang
namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.
Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya
namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku
dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe,
hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.
Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di Malang,
Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan
dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan
aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.
Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik,
tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan susu yang gede
tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis.
Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang,
mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat
sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku,
meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!
Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit,
aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi,
padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi.
“He..eh” aku pun cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.
“Hallo!” suara perempuan mengagetkanku dari lamunan.
“Ya !” jawabku sambil berdiri.
Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!
“Nona Rinelda?” dia bertanya sambil mengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.
Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda,
dia memakai jam gede di tangan kanannya,
dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkanku pada teman SMP ku di Malang,
ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model,
setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu modelnya.
Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja,
aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.
Sesampainya di jalan sebelum rumahku,
sekedar Anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari ibuku.
Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya,
mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-temanku
memang mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.
“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !”
ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.
“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.
Sampai di rumah pukul 18.30.
aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.
“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” kudengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.
“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.
”Kerja yang benar jangan melawan sama atasan
terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit
dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan”
kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku.
Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok
apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahunan,
cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS,
dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya.
Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar.
Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek.
Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti
di dorong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis,
sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.
Sedikit kubuka pintu kamarku,
betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya
sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantatnya bergerak maju mundur.
“Ougghh...Aagghh..sstthh..” suara yang keluar dari mulut BuDhe.
Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya,
badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana
karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku.
Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk
akhirnya PakDhe menarik Batang Kontolnya dari dalam tempik BuDhe,
ya ampun ternyata Batang Kontolnya lumayan gede
lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku,
akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja,
pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku,
namun ternyata PakDhe tidak peduli
dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku,
namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya
yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.
Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangannya memegang kursi di hadapannya.
“Ayo mas cepet keburu tempiknya kering”
pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar
dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat.
Kulihat kali ini PakDhe mengeloco tongkolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.
“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut.
Akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka membelakangi kamarku.
Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tanganku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai,
ku tekan pada itilnya.
“Ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini.
Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.
“Tempikmu… uenak..Tik pe… res… Batang Kontolku sampe keenakan...”
kata-kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.
“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.
“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.
Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat
kali ini tangannya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu
dan akhirnya laki-laki itupun menekan tongkolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut.
Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada tongkol
dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot
BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum,
“Hek” aku kaget setengah mati segera kututup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku,
beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi.
Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.
Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi,
“yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.
Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno.
Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar
dan memiliki Batang Kontol yang kokoh tegak berdiri
dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan Batang Kontol laki-laki,
tapi terkadang aku merasa ada yang kurang
dan memang aku butuh Kontol yang sebenarnya,
Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu.
Kulihat jam di dinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besok aku kan mulai kerja!
Sialan gara-gara Kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa?
“Aah sialan!” umpatku dalam hati.
Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam,
pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar,
aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi,
terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan aktivitasku sendiri,
aku merasa adalah suatu yang lumrah karena aku menumpang disini.
Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar,
sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali,
kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.
Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku
“terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat Batang Kontol yang gede milik PakDhe.
“Aahh” rupanya tanganku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus
dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya,
tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya,
“Sialan!” pikirku dalam hati.
Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiranku.
Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku,
kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.
“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,
“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk.
Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lututnya,
wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.
“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.
“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.
“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan”
katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.
“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.
Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,
“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,
“Ada yang bisa saya bantu mbak?” tanyanya dengan sopan.
Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang
dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.
“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.
“Bu Rifda Miranti? Pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan.
Aku cuma mengangguk.
“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya,
ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling.
“Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.
“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu”
katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar.
Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini,
tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran,
kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku,
tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita.
“Rinelda?”
“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kearah datangnya suara tadi,
“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.
“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kembali bertanya.
“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!”
sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.
“Tunggu sebentar ya” kata Agatha.
Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik,
berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.
“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar.
Ternyata di dalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya .
”Nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda”
kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.
“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka”
aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda.
Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,
“Rif, kami perlu kerja di dalam studio”
kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera.
Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.
“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha.
Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut,
ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis
dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya,
kucoba untuk mendekat pada ruangan itu,
aku semakin penasaran kerja macam apa kok suaranya seperti…
Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi…
“Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.
“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya,
tertulis didepan pintu ruangan tersebut.
“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati.
Di dalam ruangan itu terdapat banyak foto diatas meja.
“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.
“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku.
“Ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya.
Aku langsung bergerak ke sana,
masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….
” Suara khas air yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samar-samar suara laki-laki.
“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa,
segera ku ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi.
Setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu Rifda
sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini,
saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian,
kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih
cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.
“Maaf bu” kataku,
“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya,
“Ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri.
“Ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF.
Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.
“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin
karena target penjualan kita adalah kaum Pria” katanya sambil membenahi pakaiannya,
“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi”,
aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya.
“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,
“Kenapa?” dia balik bertanya,
“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,
“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya”
katanya sambil menunjuk sebuah televisi berukuran raksasa di belakangku.
Betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku,
ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di sebuah ruangan kosong
yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu,
setengah tak percaya kembali kulihat kearah bu Rifda,
dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut,
aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar,
tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci!
Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha
dan laki-laki itu dihadapannya.
“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau
tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.
“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu
atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam.
Aku pun telah paham bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa,
saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu
dan tanpa kusadari dia telah menarik tanganku ke belakang dan mengikatnya dengan tangkas,
aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.
“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya,
sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku.
Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang,
dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak,
dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,
“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.
Dari layar raksasa dihadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.
‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?”
tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menaikan volume pada remote controlnya.
“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya.
Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu,
tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.
“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.
“Tapi Batang Kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.
“Jangan munafik Rin kamu pasti terangsang kan?”
lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…
“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.
Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak
“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!”
kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha.
Kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya
sementara laki-laki itu menekan-nekan tongkolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha
yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu,
cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…
“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!”
nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah
namun si lelaki itu terus mengocok KOntolnya yang masih menegang itu sambil tangannya
memegang bongkahan pantat Agatha,
aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku,
seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.
“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha.
Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata
“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.
“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.
“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!”
lalu dia menekan kembali remote di tangannya kearah layar raksasa dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!
Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda,
dia sedang sibuk mengulum KOntol seorang laki-laki disebuah ruangan
yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus,
ku lihat pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya,
sementara tangan kiri BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.
“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati tongkol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.
“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.
“Maksudmu?” tanyaku,
“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu,
belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain
seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.
“Kontolmu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !”
kali ini BuDhe nampak gemas memegang Batang Kontol besar itu dengan kedua tangannya,
Batang Kontol pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe seperti yang kulihat tadi malam.
“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang”
katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.
“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya”
aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini,
Rifda mengosok-gosokkan Batang Kontol mainan itu ke arah selakanganku,
aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar!
Dia membuka resleting celanaku,
sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu.
Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai,
diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layar didepanku.
“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!”
kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengangkang
memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak.
Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya.
Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.
“Wah ternyata jembut kamu tebal juga Rin”
kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya,
kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya,
sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,
Saat Rifda sedang sibuk mengemek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan menjadi sangat terang,
dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini.
Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.
“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini”
ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe!
tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.
“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini”
kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang.
Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.
Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitarku saat ini,
saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku
dengan menggerakkan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe,
laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.
“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !”
kata Rifda sambil melihatku,
tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut Batang Kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang,
sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang cuma terbuka pada putingnya
sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.
“U… uh” kata Rifda gemas mengocok Batang Kontol di tangannya.
“Sudah, langsung aja masukin Kontolmu pak!”
“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?”
Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda.
Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya membelakangi tubuh PakDhe,
dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang tongkol yang dipegangnya kearah tempik Rifda
yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda
yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya
sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.
“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!”
kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan tongkolnya lebih dalam.
Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak
karena gerakan tubuhnya sementara Batang Kontoll PakDhe yang sedang berusaha
memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.
“Ah….” Batang Kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe
kemudian menarik Batang Kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir Kontol itu menggelantung.
“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kearahku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.
”Tunggu giliranmu”.
“Betapa nikmat kalau Batang Kontol itu bersarang pada tempikku”
kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol.
Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka,
andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!
“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!”
teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri–kanan mengimbangi sentakan PakDhe.
“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda
yang diterjang tongkol gede itu seolah bersorak senang.
Saat kusedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit
kutarik tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan,
namun diluar kesadaranku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri
lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan menghentikanku,
yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu.
Aku butuh keperluan biologis itu!
Aku butuh Batang Kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya
bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi!
Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dan Rifda didepanku,
Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.
‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”
“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si tongkol menerobos tempik Rifda.
Kulihat tongkat mainan persis tongkol yang diletakkan dimeja oleh Rifda,
tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda,
kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!
Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini,
kali ini aku bermaksud memasukkan tongkol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…
“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda
setiap PakDhe menarik Batang Kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.
Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka
dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum,
sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya.
Kukeluarkan pelan-pelan tongkol mainan dari dalam tempikku.
Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah Batang Kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi,
yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan Kontol besar dan panjang itu,
kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku,
aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan,
aku tak pedulikan itu aku cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan!
Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang Batang Kontol laki-laki itu.
“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… tongkolmu… auh… Rudi… say… ang… eh…”
Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe.
Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan Batang Kontolnya kemulut Rifda.
“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ”
tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah pisang yang besar,
aku segera bangkit dan menghampiri mereka,
yaah aku tak rela jika Kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda
dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.
“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!”
Rifda tertawa setelah Batang Kontol dimulutnya terlepas setelah
laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak Kontol besar setengah mengacung itu mengarah padaku.
“Wao…” tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.
“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !”
kata Rifda seolah senang dengan apa yang kuperbuat,
kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur,
kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,
“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermainkan kontolku dengan mulutmu.
“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.
Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu
bahwa mulutku sangat hebat dalam hal ciuman bibir
dan mengulum Batang Kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.
“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini!
“Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala Kontolnya,
sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.
“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda,
matanya merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya.
Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan Batang Kontolnya
dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe,
Rudi pelan-pelan menarik Batang Kontolnya dari mulutku,
yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda,
aku ragu apakah aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini,
namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku
hingga tubuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan Batang Kontolnya berada tepat didepan tempikku,
mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan Kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit.
“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.
“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..”
kata PakDhe sambil menarik Batang Kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.
“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot Batang Kontolnya itu keluar masuk.
Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat.
“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol luar dalam namun ennaak sekali,
sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini,
aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku.
Saat sibuk menikmati sodokan Kontol di tempikku,
sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat
yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat
sehingga memudahkan Kontol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya,
tak berapa lama Rifda sudah menggelepar keenakan…
“Sudah Rud… Aahh.. aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya.
sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu.
“Rin… memek… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah”
PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan Kontol nya ke milikku yang memang masih peret,
dia menarik tongkolnya dan mengeluarkan pejunya pada susuku dan wajahku.
“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala Kontol nya.
“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme!
Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan Kontol nya yang mulai mengecil,
saat kupandang Rudi yang mengocok Kontol nya sendiri dia tersenyum padaku
dan akhirnya Kontol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku,
aku tahu dia ingin posisi anjing nungging,
kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi,
tak berapa lama tongkol Rudi sudah digesek-gesekkan pada pantatku yang putih mulus,
“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal,
aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini,
akhirnya Rudi pun memasukan batang Kontolnya ke dalam tempikku.
“A… euh… ah… em… ya… ”
Kontol yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku.
Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.
“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur Kontolnya
sementara tangannya meremas payudaraku yang menggelantung terlihat tambah besar dan bibirnya mencium punggungku,
cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang,
kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya
dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan Kontol nya dari depan.
“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ”
nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah kulakukan dengan mantan suamiku dulu.
Sensasi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini,
sentakannya sangat mantab dan sodokkan Kontolnya sangat luar biasa.
“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… dengan kontol besarmu itu… Ter… us… sh… Aagghh”
kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa
dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini.
Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…
“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas!
Jeritku dalam hati ini penis yang aku harapkan setiap masturbasi,
sementara Rudi tetap mengocok Kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,
“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach”
akhirnya Rudi menarik Kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan spermanya ke mukaku.
“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.
Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up mukaku yang tampak ceria!
Akhirnya, aku menikmati semua ini,
semua kulakukan dengan senang hati.
Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah teman SMPku,
sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.
meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang
namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.
Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya
namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku
dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe,
hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.
Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di Malang,
Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan
dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan
aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.
Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik,
tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan susu yang gede
tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis.
Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang,
mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat
sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku,
meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!
Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit,
aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi,
padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi.
“He..eh” aku pun cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.
“Hallo!” suara perempuan mengagetkanku dari lamunan.
“Ya !” jawabku sambil berdiri.
Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!
“Nona Rinelda?” dia bertanya sambil mengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.
Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda,
dia memakai jam gede di tangan kanannya,
dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkanku pada teman SMP ku di Malang,
ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model,
setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu modelnya.
Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja,
aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.
Sesampainya di jalan sebelum rumahku,
sekedar Anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari ibuku.
Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya,
mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-temanku
memang mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.
“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !”
ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.
“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.
Sampai di rumah pukul 18.30.
aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.
“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” kudengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.
“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.
”Kerja yang benar jangan melawan sama atasan
terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit
dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan”
kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku.
Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok
apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahunan,
cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS,
dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya.
Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar.
Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek.
Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti
di dorong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis,
sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.
Sedikit kubuka pintu kamarku,
betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya
sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantatnya bergerak maju mundur.
“Ougghh...Aagghh..sstthh..” suara yang keluar dari mulut BuDhe.
Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya,
badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana
karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku.
Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk
akhirnya PakDhe menarik Batang Kontolnya dari dalam tempik BuDhe,
ya ampun ternyata Batang Kontolnya lumayan gede
lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku,
akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja,
pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku,
namun ternyata PakDhe tidak peduli
dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku,
namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya
yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.
Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangannya memegang kursi di hadapannya.
“Ayo mas cepet keburu tempiknya kering”
pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar
dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat.
Kulihat kali ini PakDhe mengeloco tongkolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.
“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut.
Akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka membelakangi kamarku.
Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tanganku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai,
ku tekan pada itilnya.
“Ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini.
Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.
“Tempikmu… uenak..Tik pe… res… Batang Kontolku sampe keenakan...”
kata-kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.
“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.
“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.
Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat
kali ini tangannya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu
dan akhirnya laki-laki itupun menekan tongkolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut.
Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada tongkol
dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot
BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum,
“Hek” aku kaget setengah mati segera kututup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku,
beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi.
Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.
Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi,
“yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.
Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno.
Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar
dan memiliki Batang Kontol yang kokoh tegak berdiri
dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan Batang Kontol laki-laki,
tapi terkadang aku merasa ada yang kurang
dan memang aku butuh Kontol yang sebenarnya,
Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu.
Kulihat jam di dinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besok aku kan mulai kerja!
Sialan gara-gara Kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa?
“Aah sialan!” umpatku dalam hati.
Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam,
pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar,
aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi,
terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan aktivitasku sendiri,
aku merasa adalah suatu yang lumrah karena aku menumpang disini.
Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar,
sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali,
kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.
Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku
“terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat Batang Kontol yang gede milik PakDhe.
“Aahh” rupanya tanganku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus
dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya,
tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya,
“Sialan!” pikirku dalam hati.
Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiranku.
Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku,
kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.
“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,
“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk.
Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lututnya,
wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.
“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.
“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.
“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan”
katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.
“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.
Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,
“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,
“Ada yang bisa saya bantu mbak?” tanyanya dengan sopan.
Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang
dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.
“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.
“Bu Rifda Miranti? Pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan.
Aku cuma mengangguk.
“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya,
ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling.
“Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.
“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu”
katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar.
Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini,
tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran,
kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku,
tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita.
“Rinelda?”
“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kearah datangnya suara tadi,
“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.
“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kembali bertanya.
“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!”
sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.
“Tunggu sebentar ya” kata Agatha.
Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik,
berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.
“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar.
Ternyata di dalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya .
”Nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda”
kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.
“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka”
aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda.
Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,
“Rif, kami perlu kerja di dalam studio”
kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera.
Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.
“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha.
Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut,
ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis
dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya,
kucoba untuk mendekat pada ruangan itu,
aku semakin penasaran kerja macam apa kok suaranya seperti…
Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi…
“Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.
“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya,
tertulis didepan pintu ruangan tersebut.
“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati.
Di dalam ruangan itu terdapat banyak foto diatas meja.
“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.
“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku.
“Ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya.
Aku langsung bergerak ke sana,
masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….
” Suara khas air yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samar-samar suara laki-laki.
“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa,
segera ku ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi.
Setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu Rifda
sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini,
saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian,
kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih
cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.
“Maaf bu” kataku,
“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya,
“Ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri.
“Ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF.
Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.
“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin
karena target penjualan kita adalah kaum Pria” katanya sambil membenahi pakaiannya,
“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi”,
aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya.
“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,
“Kenapa?” dia balik bertanya,
“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,
“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya”
katanya sambil menunjuk sebuah televisi berukuran raksasa di belakangku.
Betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku,
ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di sebuah ruangan kosong
yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu,
setengah tak percaya kembali kulihat kearah bu Rifda,
dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut,
aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar,
tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci!
Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha
dan laki-laki itu dihadapannya.
“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau
tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.
“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu
atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam.
Aku pun telah paham bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa,
saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu
dan tanpa kusadari dia telah menarik tanganku ke belakang dan mengikatnya dengan tangkas,
aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.
“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya,
sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku.
Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang,
dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak,
dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,
“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.
Dari layar raksasa dihadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.
‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?”
tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menaikan volume pada remote controlnya.
“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya.
Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu,
tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.
“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.
“Tapi Batang Kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.
“Jangan munafik Rin kamu pasti terangsang kan?”
lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…
“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.
Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak
“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!”
kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha.
Kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya
sementara laki-laki itu menekan-nekan tongkolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha
yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu,
cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…
“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!”
nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah
namun si lelaki itu terus mengocok KOntolnya yang masih menegang itu sambil tangannya
memegang bongkahan pantat Agatha,
aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku,
seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.
“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha.
Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata
“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.
“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.
“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!”
lalu dia menekan kembali remote di tangannya kearah layar raksasa dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!
Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda,
dia sedang sibuk mengulum KOntol seorang laki-laki disebuah ruangan
yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus,
ku lihat pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya,
sementara tangan kiri BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.
“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati tongkol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.
“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.
“Maksudmu?” tanyaku,
“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu,
belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain
seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.
“Kontolmu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !”
kali ini BuDhe nampak gemas memegang Batang Kontol besar itu dengan kedua tangannya,
Batang Kontol pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe seperti yang kulihat tadi malam.
“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang”
katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.
“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya”
aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini,
Rifda mengosok-gosokkan Batang Kontol mainan itu ke arah selakanganku,
aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar!
Dia membuka resleting celanaku,
sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu.
Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai,
diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layar didepanku.
“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!”
kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengangkang
memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak.
Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya.
Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.
“Wah ternyata jembut kamu tebal juga Rin”
kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya,
kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya,
sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,
Saat Rifda sedang sibuk mengemek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan menjadi sangat terang,
dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini.
Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.
“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini”
ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe!
tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.
“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini”
kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang.
Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.
Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitarku saat ini,
saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku
dengan menggerakkan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe,
laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.
“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !”
kata Rifda sambil melihatku,
tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut Batang Kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang,
sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang cuma terbuka pada putingnya
sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.
“U… uh” kata Rifda gemas mengocok Batang Kontol di tangannya.
“Sudah, langsung aja masukin Kontolmu pak!”
“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?”
Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda.
Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya membelakangi tubuh PakDhe,
dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang tongkol yang dipegangnya kearah tempik Rifda
yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda
yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya
sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.
“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!”
kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan tongkolnya lebih dalam.
Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak
karena gerakan tubuhnya sementara Batang Kontoll PakDhe yang sedang berusaha
memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.
“Ah….” Batang Kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe
kemudian menarik Batang Kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir Kontol itu menggelantung.
“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kearahku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.
”Tunggu giliranmu”.
“Betapa nikmat kalau Batang Kontol itu bersarang pada tempikku”
kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol.
Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka,
andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!
“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!”
teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri–kanan mengimbangi sentakan PakDhe.
“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda
yang diterjang tongkol gede itu seolah bersorak senang.
Saat kusedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit
kutarik tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan,
namun diluar kesadaranku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri
lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan menghentikanku,
yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu.
Aku butuh keperluan biologis itu!
Aku butuh Batang Kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya
bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi!
Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dan Rifda didepanku,
Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.
‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”
“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si tongkol menerobos tempik Rifda.
Kulihat tongkat mainan persis tongkol yang diletakkan dimeja oleh Rifda,
tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda,
kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!
Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini,
kali ini aku bermaksud memasukkan tongkol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…
“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda
setiap PakDhe menarik Batang Kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.
Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka
dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum,
sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya.
Kukeluarkan pelan-pelan tongkol mainan dari dalam tempikku.
Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah Batang Kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi,
yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan Kontol besar dan panjang itu,
kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku,
aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan,
aku tak pedulikan itu aku cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan!
Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang Batang Kontol laki-laki itu.
“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… tongkolmu… auh… Rudi… say… ang… eh…”
Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe.
Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan Batang Kontolnya kemulut Rifda.
“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ”
tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah pisang yang besar,
aku segera bangkit dan menghampiri mereka,
yaah aku tak rela jika Kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda
dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.
“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!”
Rifda tertawa setelah Batang Kontol dimulutnya terlepas setelah
laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak Kontol besar setengah mengacung itu mengarah padaku.
“Wao…” tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.
“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !”
kata Rifda seolah senang dengan apa yang kuperbuat,
kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur,
kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,
“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermainkan kontolku dengan mulutmu.
“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.
Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu
bahwa mulutku sangat hebat dalam hal ciuman bibir
dan mengulum Batang Kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.
“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini!
“Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala Kontolnya,
sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.
“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda,
matanya merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya.
Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan Batang Kontolnya
dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe,
Rudi pelan-pelan menarik Batang Kontolnya dari mulutku,
yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda,
aku ragu apakah aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini,
namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku
hingga tubuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan Batang Kontolnya berada tepat didepan tempikku,
mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan Kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit.
“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.
“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..”
kata PakDhe sambil menarik Batang Kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.
“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot Batang Kontolnya itu keluar masuk.
Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat.
“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol luar dalam namun ennaak sekali,
sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini,
aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku.
Saat sibuk menikmati sodokan Kontol di tempikku,
sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat
yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat
sehingga memudahkan Kontol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya,
tak berapa lama Rifda sudah menggelepar keenakan…
“Sudah Rud… Aahh.. aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya.
sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu.
“Rin… memek… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah”
PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan Kontol nya ke milikku yang memang masih peret,
dia menarik tongkolnya dan mengeluarkan pejunya pada susuku dan wajahku.
“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala Kontol nya.
“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme!
Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan Kontol nya yang mulai mengecil,
saat kupandang Rudi yang mengocok Kontol nya sendiri dia tersenyum padaku
dan akhirnya Kontol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku,
aku tahu dia ingin posisi anjing nungging,
kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi,
tak berapa lama tongkol Rudi sudah digesek-gesekkan pada pantatku yang putih mulus,
“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal,
aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini,
akhirnya Rudi pun memasukan batang Kontolnya ke dalam tempikku.
“A… euh… ah… em… ya… ”
Kontol yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku.
Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.
“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur Kontolnya
sementara tangannya meremas payudaraku yang menggelantung terlihat tambah besar dan bibirnya mencium punggungku,
cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang,
kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya
dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan Kontol nya dari depan.
“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ”
nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah kulakukan dengan mantan suamiku dulu.
Sensasi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini,
sentakannya sangat mantab dan sodokkan Kontolnya sangat luar biasa.
“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… dengan kontol besarmu itu… Ter… us… sh… Aagghh”
kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa
dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini.
Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…
“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas!
Jeritku dalam hati ini penis yang aku harapkan setiap masturbasi,
sementara Rudi tetap mengocok Kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,
“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach”
akhirnya Rudi menarik Kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan spermanya ke mukaku.
“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.
Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up mukaku yang tampak ceria!
Akhirnya, aku menikmati semua ini,
semua kulakukan dengan senang hati.
Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah teman SMPku,
sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.
Langganan:
Postingan (Atom)

