Tampilkan postingan dengan label ngentot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngentot. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Ngentotin Gadis Kampus

Aku masih berada di ruang komputer kampus sendirian. Pegal rasanya seharian menulis tugas yang harus diserahkan besok pagi. Untunglah akhirnya selesai juga. Sambil melepas lelah iseng-iseng aku buka internet dan masuk ke situs-situs porno. Aku membuka gambar-gambar orang bersenggama lewat anus. Mula-mula terasa aneh, tapi makin lama aku merasakan fantasi lain. Aku merasakan erangan perempuan yang kesakitan karena lubang duburnya yang sempit ditembus dengan kemaluan yang mengeras. Ah.. khayalanku semakin jauh.


Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pintu ruangan membuka dan menutup. Hii.. aku lihat sudah jam 22:30, malam-malam begini pikiranku jadi membayangkan hal-hal menakutkan. Tapi kemudian aku dikagetkan lagi ketika melihat seorang perempuan membawa map berisi beberapa lembar kertas dan dua buah buku tipis masuk kemudian menaruhnya di sebelah komputer, lalu menyalakan komputer dan mengetik. Komputernya terhalang tiga meja komputer di sebelahku. Aku jadi lega, sekarang ada teman, walaupun dia tidak memperhatikan aku sama sekali. Aku perhatikan dari samping, wajahnya manis dengan hidung yang kecil dan mancung. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi mulus dengan jaket jeans lengan pendek yang dikenakannya, dia tampak cantik.
Tapi, akh peduli amat. Aku melanjutkan buka-buka situs tadi, anganku semakin menerawang, kemaluanku agak menegang. Dan akhirnya aku melirik pada perempuan di ruangan itu, dan langsung aku melirik pantatnya. Besar! pikirku. Tiba-tiba saja aku membayang kalau kemaluanku merobek-robek pantatnya yang menggiurkan itu. Aku jadi deg-degan, semakin dibayangkan semakin menjadi-jadi kemaluanku menegang. Sampai akhirnya aku nekat mendekati dia. Aku mencoba menenangkan diriku agar tampak normal.
“Ma’af.. sedang mengerjakan tugas?” suaraku sedikit bergetar.
Dia melirikku sebentar lalu matanya tertuju lagi ke layar komputer, sambil menjawab,
“Iya.. Mas.. aku kelupaan menuliskan beberapa judul buku dalam daftar kepustakaan, cuma dikit kok.”
“Rumahnya deket sini?”
“Iya di asrama, dan saya biasa kerja malam-malam begini,” jawabnya.
“Nah.. selesai deh,” dia membereskan kertas-kertas, lalu terdengar suara mesin printer bekerja.
Dia mengambil hasilnya dan kelihatan puas.
“Bisa pulang sama-sama?” aku bertanya sambil mataku sebentar-sebentar mencuri pandang ke arah pantatnya yang kelihatan besar membayang dibalik celana trainning kain parasitnya. Aduh, dadaku mendesir.
“Sebentar aku tutup dulu komputerku ya..”
Aku bergegas pergi ke komputerku.
“Mas sedang ngerjakan apaan?”
Aku kaget tidak menyangka kalau dia mengikuti aku.
“Ah.. ini.. iseng-iseng aja buka-buka internet, capek sih ngetik serius terus dari tadi.”
“Eh.. gambar-gambar gituan yaa? Hi ih!” dia mengangkat bahunya, tapi mulutnya tersenyum.
“Ah.. iseng-iseng aja.. Mau ikutan liat-liat?” tiba-tiba keberanianku muncul. Dan di luar dugaan dia tidak menolak.
“Tapi bentar aja yaa.. entar keburu malam!” dia langsung duduk di kursi sebelahku.
Makin lama kami makin asyik buka-buka gambar porno, sampai akhirnya,
“Aku mau pulang deh Mas. Udah malem.. Aku bisa pulang sedirian.. deket kok.”
Dia siap berdiri. Tapi dengan reflek tanganku cepat memegang pergelangannya. Dia terkejut. Aku sudah tidak memperdulikan apa-apa lagi, kecuali mempraktekkan gambar-gambar yang dilihat tadi. Kemaluanku sudah menegang.
Tanpa basa basi aku langsung menduduki pahanya dan langsung melumat bibirnya. “Umh.. mh..” dia berusaha meronta dan menarik kepalanya ke belakang, tapi tangan kiriku cepat menahan belakang kepalanya, sementara tangan kananku sudah memegang buah dadanya, memutar-mutar, dan meremas-remas putingnya. Gerakan perempuan itu makin lama makin lemah, akhirnya aku berani melepaskan ciumanku, dan beralih menciumi bagian-bagian tubuh lain, leher, belakang telinga, kembali ke leher, lalu turun ke bagian belahan buah dadanya. Aku melihat dia juga menikmatinya. Matanya mulai sayu, bibirnya terbuka merekah.
“Namamu siapa?” aku tampaknya agak bisa mengendalikan keadaan. Dia tidak menjawab. Hanya matanya yang sayu itu memandang kepadaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi ah tidak perduli aku mengangkat berdiri tubuhnya, lalu aku duduk di kursi, kutarik badannya dan dia duduk di pangkuanku. “Ehh.. hh..” dia berdesah ketika kepalaku menyeruduk buah dada yang masih terhalang T-shirt merah muda di balik jaket jeans yang terbuka kancingnya. Tanganku segera menaikkan kaosnya, sehingga tampak bagian bawah dadanya yang masih berada di balik BH. Kunaikkan BH-nya tanpa melepas, dan kembali mulutku beraksi pada putingnya, sementara tanganku meremas-remas pantatnya dan pahanya.
“Oohh.. Mas.. Mas.. Aoohh..” aku semakin menggila mendengar desahnya. Lalu aku ingin melaksanakan niatku untuk menembuskan batang kemaluanku ke pantatnya. Kubalikkan badannya sehingga dia membelakangiku. Aku pun berdiri dan menurunkan celana trainingnya dengan mudah. Dengan tidak sabar celana dalamnya pun segera kuturunkan. Aku duduk dan kutarik badannya sehingga pantatnya menduduki kemaluanku. “Aghh.. Uhh” aku terkejut karena kemaluanku yang sedang menegang itu rasanya mau patah diduduki pantatnya. Tapi nafsuku menghilangkan rasa sakit itu. Aku genggam kemaluanku dan kutempelkan ke lubang duburnya, lalu kutekan. “Aaah..” dia menjerit, tubuhnya mengejang ke belakang. Tapi kemaluanku tidak bisa masuk. Terlalu sempit lubangnya. Keberingasanku makin menjadi. Aku dorong tubuhnya sehingga posisi badannya membungkuk pada meja komputer. Pantatnya kelihatan jelas, bulat. Pelukanku dari belakang tubuhnya membuat dia tertindih di meja. Kutempelkan kemaluanku pada lubang pantatnya. Sementara tangan kiriku meremas buah dada kirinya. Mulutku pun tidak henti-hentinya menggerayangi bagian belakang leher dan punggungnya. Dengan sekali hentak paksa, kudorong masuk kemaluanku. “Aih.. ah uh aoowww..” aku pun mersa sedikit kesakitan, tapi kenikmatan yang tiada taranya kurasakan. “Jangan.. aduh aahh sakiit, tidak deh.. ahh..” Aku semakin bernafsu mendengar rintihannya. Sambil memeluk buah dadanya., kutarik dia berdiri. Lalu aku pun menggerakan kemaluanku maju mundur, mulutku menciumi pipinya dari samping belakang, sementara tanganku meremas buah dadanya, seolah-olah ingin menghancur lumatkan tubuh perempuan yang sintal itu.
Perempuan itu tidak henti-hentinya merintih, terutama ketika kemaluanku kudorong masuk. Beberapa tetes air mata menggelinding di pipinya. Mungkin kesakitan, aku tidak tahu. Tapi apa daya aku pun sudah tidak kuat menahan keluar air maniku lagi dan tubuhku mengejang, perempuan itupun mengejang dan merintih, karena tanganku dengan sangat keras meremas buah dadanya. Badannya ikut tertarik ke belakang, dan mulutku tanpa terasa menggigit lehernya. “Ouhh.. hh..” kenikmatan luar biasa ketika kemaluanku menyemburkan air maniku ke pantatnya. Hangat sekali. Aku terduduk dia pun terduduk di atas kemaluanku yang masih menancap di pantatnya. Kepalaku terkulai di punggungnya. Perempuan itu memandang ke arah layar komputer dengan pandangan kosong. Sementara tetes air matanya masih terus membasahi pipinya.
“Ma’afkan aku.. Aku tidak kuat nahan diri,” aku mencoba menghiburnya. Tapi dia tidak menjawab.
“Siapa namamu?” tanyaku dengan lembut. Kembali dia membisu.
“Aku mau pulang.. kamu tidak perlu nganter aku.. biar orang-orang tidak tanya macem-macem,” katanya dengan suara perlahan.
“Aku sebenarnya tau siapa kamu.. Mas,” dia berbicara tanpa menoleh ke arahku.
“Ha.. aku..” aku tekejut.
“Ya.. karena aku temen baru pacarmu, Yuni, aku pernah liat foto-fotomu di tempat dia.”
Kali ini dia menatapku dengan tajam.
“Tapi.. aku sama sekali tidak nyangka kelakuanmu seperti ini,” selesai dia menaikkan celana dan membetulkan BH dan T-shirtnya.
“Tapi tidak usah khawatir aku tidak bakalan cerita kejadian ini, aku takut ini akan melukai hatinya. Dia setia sama kamu,” lanjutnya.
“Kamu tidak.. kasian ama dia?”
Aku terdiam, termangu, bahkan tidak menyadari kalau dia sudah berlalu.
Akhir-akhir ini aku tahu nama gadis itu Rani, memang dia teman pacarku, Yuni. Aku menyesali perbuatanku. Rani tetap baik pada kami berdua. Kami bahkan menjadi kawan akrab.

Jumat, 29 Oktober 2010

[Fun Fiction] Sarah Azhari

“Oom Henry! Oom harus tanggung jawab dong.. Masa hasilnya jadi kacau begini?!” teriak Sarah dengan keras ke arah Henry Yosodiningrat, pengacaranya yang sedang berusaha keras untuk menenangkan Sarah Azhari yang sedang kesetanan.

Mereka berdua sedang sewot menyusul hasil persidangan Sarah Azhari yang berakhir buruk, dan Sarah sebagai terdakwa dinyatakan bersalah oleh hakim dalam dakwaannya melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Navis Qustubi, seorang wartawan infotainment.

“Saya ngerti Sar.. kamu lagi kalut. Kamu harus tenang dulu, karena saya jamin semuanya akan beres kalo kamu bisa tenang terlebih dahulu.” ujar Henry sabar sambil berusaha menenangkan Sarah yang dari 2 jam yang lalu tak kuasa menahan tangisnya.

“Sekarang saya musti ngapain lagi, Om! Coba jawab?! Semua permintaan Om udah saya penuhin. Duit berpuluh-puluh juta buat bungkem si hakim brengsek itu udah saya kasih.. Tapi masa hasilnya jadi kaya gini..”, Sarah mulai bernada pasrah, namun masih belum juga merendahkan nada suaranya.

Sudah dari siang ia bersembunyi di apartemen Henry Yosodiningat dan menghilang dari kejaran wartawan infotainment yang bagai lalat ketiban sampah, tak henti-hentinya mengelilinginya dan mengurung rumahnya mengharap sepatah dua patah kata berharga penuh makna keluar dari bibirnya.

Ia kini duduk lemas sambil menahan tangisnya, disampingnya Henry Yosodiningrat duduk sambil melingkarkan tangannya ke pundak Sarah, tetap berusaha menenangkan kliennya yang nampak makin histeris.

“Om tahu, hasilnya agak mengecewakan. Tapi itu semua diluar kuasa Om. Percaya deh, Om juga tidak mengira kita bisa ditipu dengan lihay oleh si bangsat itu.” Henry masih dengan suara beratnya memberi penghiburan bagi Sarah, layaknya seorang bapak kepada anaknya.

“Tapi Om.. saya ga boleh masuk penjara! Saya ga mau masuk penjara busuk itu!” Sarah mulai histeris lagi.

“Oke, oke.. gini aja. Oom masih punya satu peluru lagi. Kamu jangan nangis terus dong.. ” Henry pun akhirnya tampak mulai kehilangan kesabarannya menghadapi ulah Sarah yang ngga bisa tenang.

Mendengar jawaban Henry, Sarah pun mulai melunak,

“Maksud Om, masih punya peluru?”

“Udah. Kamu tenang aja. Om akan atur semuanya. Om akan telpon beberapa orang dulu, tapi Om mau kamu mandi dulu.. Supaya kamu segeran dan ga keliatan kumel kaya gini. Emangnya kamu ga cape dari tadi nangis abis 2 ember?!” ujar Henry kembali ke sifat kebapakannya.

Sarah pun mulai tersenyum menanggapi candaan Henry.

“Aah, Om jahat. Gue lagi pusing, masih diledekin juga..”

“Udaah! Mandi dulu gih sana! Make up kamu udah luntur gitu, kalo Om potret bisa seneng tuh wartawan-wartawan temen kamu itu,” ujar Henry sambil mendorong pantat Sarah yang montok untuk segera berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.

“Iih.. pokoknya Sarah ga mau tau. Abis Sarah mandi, Om udah harus bisa bikin Sarah ga bakal nangis lagi, janji?” dengan genit Sarah merajuk namun ia mulai bisa melupakan kesedihannya untuk sementara.

“Kamu itu selaluuuu maen ngancem! Ga kapok apa udah ngancem si Navis?!” dengan gemas Henry membalas ancaman Sarah dengan mengelus dagunya lembut sambil berdiri dan melangkah ke arah ruang tamu untuk segera mengambil telepon.

Sarah keluar dari kamar mandi sambil berbalut kimono sutra berwarna hijau pupus. Persis seperti penampilannya di dalam iklan obat multivitamin untuk pria yang masih dengan gencar ditayangkan di tivi nasional. Sesudah 30 menit ia berendam dan kemudian merasakan hangatnya air shower menyiram tubuh seksinya, akhirnya ia bisa sedikit melepaskan kepenatan dan kegalauan hatinya yang tak kunjung usai, selepas hakim keparat itu mengumumkan vonis bahwa ia harus menjalani hukuman penjara selama 4 bulan.

“4 bulan penjara?! Hhhh… enak aja! Mendingan gue bunuh aja si hakim gebleg itu sekalian daripada gue nginep 4 bulan di penjara sial itu.” pikir Sarah sambil merengutkan mukanya pertanda kesal yang muncul masih sambil mengingat muka sang hakim ketika membacakan vonis untuknya.

Sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah, ia berjalan keluar dengan kimono yang tak menyembunyikan keindahan paha mulusnya. Di ruang tamu, ia tak menjumpai Om Henry yang tadi menemaninya duduk di sofa tengah.

“Om? Om Henry?”, ia pun melangkah ke ruang kerja Om Henry sambil meneriakan namanya.

Ia sudah tak asing lagi dengan semua ruangan di apartemen ini, karena ia sering meminjamnya untuk sekedar bersembunyi dan menginap dua tiga hari untuk menenangkan diri dari kejaran wartawan. Maka dari itu, ia pun tak canggung untuk hanya berjalan mengelilingi apartemen ini dengan hanya mengenakan kimono tidurnya yang mini, toh Om Henry sudah dianggap ayah olehnya, dan perilakunya selama ini juga tak pernah menjurus ke arah hal yang bukan-bukan.

Henry Yosodiningrat dalam bayangannya adalah seorang pengacara yang profesional dan juga seorang yang sangat sabar dalam menghadapi semua keluhan-keluhannya.

Setelah semua ruangan Sarah kelilingi, jejak Henry Yosodiningrat masih belum muncul juga ke hadapannya. Ia pun mencari tas tangannya untuk mencari handphonenya untuk sekedar mencari tahu perginya Henry.

“Mungkin Om Henry turun sebentar ke bawah buat beli makanan,” pikir Sarah tanpa curiga.

Tepat ketika Sarah menemukan handphonenya, suara bel apartemen terdengar menandakan seseorang datang.

“Aah, itu dia! Pasti dia kelupaan kunci lagi”, Sarah pun meletakkan handphonenya lalu berbalik melangkah ke arah pintu apartemen untuk segera membukakan pintu.

“Dasar kakek-kakek pelup….” belum habis Sarah menyelesaikan kalimatnya, pintu pun terbuka dengan keras dan ia pun terdorong ke belakang karena kaget tak menyangka akan sambutan yang akan diterimanya dari balik pintu yang ia buka.

Ketika ia sudah melihat dengan jelas orang yang masuk dengan paksa ke dalam apartemen itu, dan menutup kembali pintu di belakangnya sambil menguncinya, ia pun berteriak histeris.

“Heh! Anjing lo ya?! Masih punya nyali lo dateng ke tempat ini?!”

Di hadapannya berdiri Navis, sang wartawan yang menuntutnya dan juga sekaligus orang yang paling Sarah benci dan ngga pengen ia liat untuk seumur hidupnya, sekarang berdiri tegak sambil tersenyum di hadapannya.

“Masih pake senyum-senyum segala?! Belum puas lo senyum-senyum di depan temen-temen wartawan lo yang bangsat itu, hah?” Sarah pun mulai meracau tak keruan sambil mulai maju ke arah Navis ingin melabraknya kembali seperti yang ia lakukan sebelumnya, yang kemudian menjadi awal perkara Sarah Azhari yang terkenal itu.

Namun Navis dengan tenang tanpa kesulitan berarti menangkap tangan Sarah yang kali ini berusaha menamparnya dengan kencang.

“Tenang dulu neng. Gue ga akan kesini kalo gue ga diundang.” Navis berujar pelan sambil melangkah maju perlahan ke arah ruang tamu.

“Eh, sialan lo! Yang mau ngundang lo kemari cuma setan kuburan yang ga bisa tenang kalo belum ngeliat muka lo ketawa di balik penjara!” teriak Sarah masih histeris sambil ia pun melayangkan tangan yang satu lagi ke arah muka Navis.

Tanpa repot, Navis pun menangkap tangan Sarah yang satu lagi sehingga kini kedua tangannya memegang tangan Sarah yang menggeliat-geliat penuh tenaga dengan mata melotot penuh amarah.

“Ck ck ck.. mulut lo itu beneran kotor ya?! Gue ga bisa ngebayangin apa teriakan lo pas si Om Henry ngerasain memek lo.” balas Navis yang mulai nakal melihat Sarah Azhari di hadapannya hanya berbalut kimono sutra yang dalam geliatan tubuhnya malah semakin membuat lekuk seksi tubuhnya semakin tampak jelas di mata Navis.

“Eh, tai kucing lo! Berani ngatain Om Henry kaya gitu?! Tunggu aja sampe dia datang kemari. Lo bakal dituntut masuk penjara sampe mampus karena berani nganiaya gue kaya begini.” Sarah mulai sedikit menyadari bahwa keadaan agak tidak menguntungkan baginya, karena ia hanya sendirian di ruangan apartemen ini.

Dan matanya menangkap kilatan nakal mata Navis yang menatap belahan dada montoknya yang terbuka lebar karena kimono yang ia kenakan memang tak cukup tinggi untuk menyembunyikan keindahan belahan dadanya.

“Udah deh! Ga usah ngarepin si Om. Sama gue sekarang aja, gue jamin lo bisa kelejotan ngerasain kontol gue ngerobek memek Arab lo!” Navis seperti makin terbuai dengan kata-kata kotor Sarah yang seakan mengundangnya untuk semakin berani.

Masih berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Navis, Sarah pun semakin terdorong mundur ke arah sofa tengah dimana tadi ia duduk. Ia kini semakin yakin bahwa Navis sudah mulai tak terkendali. Ia faham betul arti tatapan mata lelaki yang melotot penuh nafsu ke arahnya sekarang ini, yang disebabkan kimono sutranya tak kuasa menutupi tubuh seksi dan montok yang telah membuai jutaan pria di layar kaca. Di benak lelaki seperti ini, hanya ada nafsu liar penuh birahi yang ia tahu betul kemana arahnya.

Navis pun melepaskan genggaman tangannya sambil mendorong Sarah dengan keras ke arah sofa di belakangnya. Mata wartawannya yang terlatih sekilas melihat bayangan gelap di selangkangan Sarah Azhari yang tersingkap sedikit ketika duduk terjatuh di atas sofa itu. Benaknya langsung menari-menari kegirangan mengetahui Sarah tak mengenakan celana dalam di balik kimono mininya itu.

“Aauw! Oke-oke.. Ga usah maen kasar begini dong..” Sarah mulai melunak menyadari bahwa ia berada di ujung tanduk dan ia tak bisa mengharapkan bantuan orang lain untuk menyelamatkannya saat ini.

Ia harus berpikir keras bagaimana caranya meredam nafsu liar binatang yang berdiri di depannya agar ia bisa mengendalikan situasi.

Melihat Sarah yang mulai melunak, Navis pun berdiri tenang di hadapan Sarah yang duduk mencoba merapikan kimononya yang tersingkap kemana-mana.

“Ga usah dirapiin lah Sar. Bentar lagi tu baju juga udah ga nempel lagi di badan lo!” ujarnya sambil tersenyum penuh arti.

“Nngg. Gini deh. Gue tau persis apa yang lo mau. Tapi lo ga bisa dapetin itu dengan gratis dong. Gue mau lo urus sesuatu di pengadilan, baru deh lo bisa puas-puasin nikmatin badan gue.. ” ujar Sarah pelan sambil tersenyum dipaksakan.

Ia berusaha membujuk Navis agar bisa lebih tenang, dan dengan demikian ia berharap bisa mengendalikan suasana. Toh, sebagai seorang wanita cantik berbodi super seksi yang biasa berakting di sinetron, hal seperti ini adalah hal biasa baginya.

Navis hanya tertawa terbahak mendengar tawaran Sarah Azhari yang kini nampak semakin menggoda dengan senyumnya yang seakan malah mengundang Navis untuk semakin berani melakukan apa saja terhadapnya.

“Sar.. Sar, Lo bukan dalam posisi ngasi tawaran sama gue. Kalo pun gue mau jebol lobang pantat lo sekarang, lo ga bisa apa-apa juga kan?” Navis pun mulai berani nakal, dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh toket Sarah yang benar-benar menantang dibalik kimono tipisnya.

Udara AC yang dingin, membuat kedua puting toket Sarah mengeras dan membuatnya nampak terjiplak jelas dari luar kimononya, Navis pun semakin geregetan dibuatnya.

Sarah Azhari kini sadar bahwa lelaki di hadapannya ga bisa dikuasai dengan mudah. Ia baru ingat bahwa Navis yang mulai menggerayangi toketnya adalah seorang wartawan. Jadi memang bukan hal sulit bagi wartawan untuk bersilat lidah dengan seorang artis.

Otak Sarah berputar keras mencari akal bagaimana caranya ia bisa lepas dari tangan Navis, sementara tanpa ia sadari Navis yang sudah semakin bernapsu kini malah sudah berhasil melonggarkan tali kimono Sarah, sehingga tangannya semakin bebas bermain-main dan meremas-remas toket Sarah yang membusung indah.

“Eeh.. jangan kasar begini dooong.. ” ujar Sarah berusaha memainkan suaranya dengan lihai hingga bernada merayu, walaupun sebenarnya ia benci setengah mati dengan setan busuk yang sekarang malah mulai menjulurkan lidahnya untuk menikmati toketnya dengan ganasnya.

“Sini aku bukain baju lo dulu deh.. biar lo lebih enak,” Sarah mulai menjalankan strateginya dan mulai mendorong Navis perlahan untuk duduk di sofa, dan ia mencoba untuk berdiri mengambil posisi yang lebih menguntungkan baginya untuk mencoba melarikan diri.

Namun tanpa disangka-sangka, Navis malah melayangkan tangannya dan menampar muka Sarah dengan kencangnya. Kontan Sarah Azhari sang artis seksi itu pun terjatuh kembali ke sofa empuk di belakangnya, sehingga ia kini dalam posisi tertidur. Sarah yang kaget bukan main karena Navis malah menyerangnya tiba-tiba, tanpa bisa berkata-kata ia meraba bibirnya yang terasa sedikit berdarah karena tamparan Navis yang sangat kencang barusan.

Navis yang nampaknya belum puas dengan tamparannya barusan, langsung menarik dan merobek kimono yang dipakai Sarah, sehingga kini kedua toket Sarah yang membusung tampak terlihat jelas keindahannya.

Navis pun berada di atas angin, dengan kasar ia pun memaki Sarah.

“Lo pikir lo bisa gampang ngibulin gue hah? Perek sialan! Cewe kaya lo cuma pantes buat diperkosa pake cara kasar. Lo belum pernah kan diperkosa ama orang jalanan kaya gue. Biar lo rasain bedanya laki-laki sejati ama laki-laki bencong yang selama ini ngerasain memek lo!!” sambil menyelesaikan makiannya, Navis pun merangsek dan mengarahkan mukanya ke arah selangkangan Sarah.

Sarah Azhari yang masih syok dengan serangan Navis yang bertubi-tubi tak menyangka bahwa ia sudah nekat dan sekarang sedang mengancam memeknya. Kedua tangannya berusaha menahan muka Navis yang sudah demikian dekat dengan memeknya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melawan kuasa nafsu binatang Navis yang sudah demikian liar.

Namun Navis memiliki tenaga yang luar biasa besar. Walaupun Sarah menahan kepala Navis dengan kedua tangannya, ia tetap saja mampu maju menjulurkan kepalanya hingga akhirnya mulutnya berhasil memagut bibir memek Sarah yang masih terlipat rapi. Dengan buas dan penuh nafsu, ia melalap memek Sarah dan memainkan klitoris Sarah yang masih menguncup dengan lidahnya melalui gerakan naik turun yang lihay.

Sarah yang kalah tenaga, hanya bisa mengerang murka.

“Aaaaahhh… anjiiinnng. Goblok lo! Bangsat bajingan.. Gue ga rela diperkosa ama bangsat kaya elo..!”

Dalam hatinya kini berkecamuk perasaan jijik dan terhina karena dirinya yang artis kelas atas Indonesia bisa dipermainkan oleh pria hina dan tak bermoral seperti Navis. Baru kali ini ia merasa dipermalukan seperti ini. Biasanya ia bisa mentolerir orang-orang seperti Navis yang hanya bisa berkomentar nakal dan menggodanya ketika ia harus berhadapan dengan mereka. Namun ketika kali ini memeknya dilumat-lumat oleh salah seorang dari golongan wartawan yang menurutnya adalah golongan rendah, harga dirinya terkoyak dan ia merasa murka luar biasa.

Kedua tangan Navis kini bekerja dengan giat membuka kedua kaki jenjang Sarah lebar-lebar, sehingga ia bisa dengan lebih leluasa menikmati harumnya memek Sarah.

Ia begitu bernafsu menjilat dan mengulum kelentit Sarah yang cukup besar untuk ukuran wanita Indonesia. Mungkin karena Sarah Azhari memiliki darah keturunan bangsa Arab, sehingga semua organ vitalnya juga mengikuti leluhurnya. Yang pasti wangi dan harum memek Sarah Azhari yang baru saja selesai mandi seperti ini, membuat Navis lupa daratan dan menyapu semua sudut memek Sarah dengan lidahnya dan mulai menusuk-nusuk ke bagian liang dalam dari memek Sarah.

Dan hasilnya memang langsung kelihatan. Walaupun Sarah Azhari meronta-ronta dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan memeknya dari serbuan mulut Navis, namun hati kecilnya dan alam bawah sadarnya mengatakan bahwa jilatan dan kuluman Navis di memeknya mulai membawa rangsangan yang dengan cepat naik ke otaknya.

Mulutnya masih mengeluarkan makian-makian kotor.

“Lepasin gue, Bangsat!!! Gue ga rela!”

Namun jauh di dalam hatinya, ia mengakui bahwa memeknya menikmati semua perlakuan kasar dari lidah Navis di semua area selangkangannya yang sudah lembab dan basah dijelajahi oleh Navis.

Tanpa sadar, Sarah malah mengeluarkan erangan nikmat tak sengaja,

“Hhhhhhh… sshhhsss!”

Tangannya berusaha mendorong kepala Navis agar melepaskan lidahnya dari penyiksaan nikmat terhadap memeknya. Namun mulutnya berkata lain,

“Nnggggghhhh..”

Navis pun sadar betul akan hasil emutannya terhadap memek Sarah. Mendengar erangan dan lenguhan Sarah akan aksinya di selangkangannya, Navis pun semakin pede lalu dengan kedua tangannya, seketika ia mengangkat kedua kaki Sarah, sehingga terangkat ke arah mukanya sendiri. Ia menekan lutut Sarah hingga kini menempel ke bahunya sendiri, membuat posisi memeknya menjadi terbuka lebar sementara Navis yang berada di depannya, kini mulai membuka celananya dan begitu ia terbebas dari belenggu celana dalamnya, tampaklah kontolnya yang sudah tegak berdiri pertanda ia pun sudah terangsang sempurna.

Sarah hanya bisa melongo melihat kontol Navis yang tak disangkanya ternyata berukuran lebih besar dari kebanyakan pria yang sudah pernah menidurinya. Sesaat ia pun lupa bahwa Navis yang berkontol besar dihadapannya ini adalah bajingan yang sesaat lagi hendak memperkosanya.

Melihat Sarah yang dalam kondisi terpana, Navis pun tersenyum.

“Jangan takut Sar.. selama ini belum pernah ada yang kecewa kok ama kontol gue. Gue jamin, lo pasti teriak-teriak minta dikocok lagi!”

Mendengar perkataan Navis, Sarah pun tersadar bahwa ia sudah di ujung tanduk. Sesaat lagi ia akan diperkosa oleh Navis, wartawan pinggiran yang sama sekali tak sepadan dengan status dirinya yang artis papan atas. Ia pun mengerahkan segala tenaganya untuk melepaskan diri dari Navis. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha bangkit dari kurungan Navis,

“Anjiing! Lo ga akan bisa perkosa gue! Bangsaaat..” suara Sarah yang histeris hanya membuat Navis semakin nafsu untuk segera memasukkan kontolnya ke memek Sarah.

Ia pun menindih tubuh Sarah yang gagal untuk melepaskan dirinya. Dengan tangannya yang memegangi kedua betis Sarah, sekaligus mengunci tubuhnya hingga ia tak bisa bergerak bebas, Navis pun mengarahkan ujung kontolnya yang 18 cm panjangnya, tepat diatas lubang memek Sarah Azhari yang sudah basah berkilat-kilat.

“Aaaaahhh… Hhhhgggghhh! Taaaiiiii!!! Gobbloook!” Sarah hanya bisa meracau tak keruan, kesal dan murka karena dirinya tak kuasa untuk menahan Navis yang kini perlahan-lahan sudah memasukkan kontolnya hingga ujungnya kini malah sudah menyentuh dinding dalam memek Sarah.

Navis pun membiarkan kontol panjangnya untuk beradaptasi sejenak dengan sempitnya memek Sarah..

“Lumayan Sar.. memek lo masih bagus. Gue kirain lo punya udah dower karena keseringan dikocok-kocok ama orang laen” sambil kemudian Navis pun menggetarkan pantatnya sehingga kontolnya yang berada dalam memek Sarah ikut bergoyang dan hasilnya Sarah pun berteriak antara murka, kegelian atau keenakan,

“Eehhh, Anjiiing ngggghhhhh… ! Lo ngapain?!”

Navis pun tertawa senang melihat reaksi Sarah yang tidak menyangka akan getaran kontolnya yang seringkali memang menjadi senjata andalannya dalam memulai ritual permainan seksnya. Ia sangat senang, karena biasanya ia hanya bisa mainin kontolnya di memek cewe-cewe panti pijat murahan, namun sekarang ia seakan mendapat rejeki nomplok. Memek Sarah Azhari artis sinetron yang jadi pujaan banyak pria hidung belang, kini berada dalam kuasa kontolnya, dan ia berniat untuk menikmati perkosaan ini selama mungkin.

Kini ia pun mulai mengocok kontol panjangnya, masuk keluar memek Sarah secara perlahan, sambil ia memejamkan matanya dan menikmati betapa sempit dan nikmatnya memek Sarah yang seakan-akan merespon gerakan kocokan kontolnya dengan begitu pas. Memek Sarah mengedut-ngedut dan memijat pelan setiap kali kontol Navis bergerak memasuki lorongnya.

Pijatan memek Sarah terhadap kontol Navis yang sedang mengocoknya, seakan-akan sudah berjalan otomatis, menandakan bahwa memeknya juga menikmati perkosaan ini. Sarah yang kini mulai terpengaruh oleh kenikmatan yang dirasakan memeknya, mulai bingung akan reaksi yang harus ia berikan.

Ia sadar, memeknya sudah menyatakan bahwa kontol Navis memang diatas rata-rata. Pijatan memeknya yang juga menjadi kebanggaannya, hanya muncul secara otomatis bila ia memang juga menikmati permainan seks yang menggebu-gebu seperti sekarang ini. Bedanya kali ini, ia bukan bermain dengan pacar-pacarnya yang biasanya merupakan laki-laki tampan dan wangi. Di hadapannya sekarang ini, adalah Navis, seorang wartawan yang berpakaian kemeja flanel kumal, dan bau. Namun, kondisi Navis sekarang ini malah membuat Sarah mulai kehilangan konsentrasi. Mungkinkah kekontrasan Navis dibanding pacar-pacarnya selama ini malah membuat ia terangsang hebat dengan cepatnya?

Ia akui, biasanya nafsu seksnya ga pernah naik secepat ini. Apalagi semua laki-laki yang biasanya mengemis-ngemis untuk bisa tidur dengannya, pasti memperlakukannya secara lembut seperti seorang putri. Semua lelaki akan takluk dan dengan sopan seperti kucing akan bersedia menuruti segala kemauannya.

Namun perlakuan kasar yang ia terima sekarang dari Navis, sama sekali belum pernah ia rasakan dari lelaki manapun. Kontrol akan lelaki yang biasanya dengan mudah ia kendalikan kini seakan tak berlaku lagi. Hal inilah yang membuatnya beringas sekaligus terangsang dengan hebat. Ia sadar, memeknya sudah takluk akan kocokan kontol Navis yang bergerak bukan saja maju mundur namun sekaligus membor memeknya dengan gerakan berputar yang memberikan kenikmatan sempurna bagi memeknya.

Sekarang tinggal Sarah yang berjuang keras untuk tetap bisa mengontrol dirinya dan tidak melepaskan kendali atas nafsu liar yang sudah demikian meletup-letup didalam dirinya.

“Nnnnggggghhhhh…pp!” Ia berusaha mengendalikan lenguhannya yang seakan memberontak atas kemauan dirinya untuk tidak menikmati pemerkosaan ini.

“Njjing! Lo boleh berhasil perkosa gue.. tapi gue sama sekali ngga..” sebelum Sarah berhasil menyelesaikan kalimatnya, Navis malah membungkam bibir seksinya dengan bibirnya sendiri.

Ia pun melumat gencar bibir Sarah Azhari yang tak menyangka Navis berani meluncurkan serangan ke mulutnya.

Dalam usahanya menghindar dari pagutan Navis, ia malah seakan memberikan kesempatan bagi Navis untuk menikmati bukan saja mulut seksinya, namun juga leher jenjangnya. Hal ini malah membuat Navis semakin senang dan bersemangat menghisap, menjilat dan menciumi sekujur muka dan leher Sarah Azhari. Aroma Sarah Azhari yang begitu harum ia nikmati bukan saja dari mulutnya yang wangi, namun juga dari lekukan leher Sarah yang aromanya begitu bikin ia mabuk dengan birahinya sendiri.

“Aaaahhh… hhheeeuuuhhh..” Sarah kini mulai kehilangan konsentrasinya.

Ia mulai tak tahan akan rangsangan dan ciuman bertubi-tubi Navis di lehernya. Ia harus mengakui, seluruh titik rangsangannya sudah dilalap sempurna oleh Navis. Mulai dari memeknya yang biasanya tak merespon sembarangan kontol dengan pijatan-pijatan khasnya, hingga lehernya yang menjadi titik lemah dari kontrol birahi Sarah.

Pagutan Navis yang membuahkan bekas-bekas merah di lehernya membuatnya mendesah keras, dan mulai menggerakkan tubuhnya seakan ia memang berada dalam permainan seks yang nikmat, dan bukan pemerkosaan yang brutal.

“Nngggghhh.. gue.. ga… taaaahhh… aaann…!” Sarah pun mengeluarkan tanda menyerahnya sambil terengah-engah.

Ia akhirnya harus mengakui bahwa ia juga sepenuhnya menikmati kocokan kontol Navis di memeknya yang sekarang sepertinya sudah sangat dekat akan ledakan orgasme pertamanya.

Navis pun sadar, bahwa Sarah sudah berada dalam genggaman birahi dan permainan seksnya. Ia percaya, sekarang Sarah tak akan memberontak lagi, sehingga ia pun berani melepaskan kunciannya.

“Aaaaahhhh… aaaannnjjiiinnnnggg!” teriak Sarah dengan histeris menandakan bahwa orgasme pertamanya begitu dahsyat, sehingga ia meracau dengan tak terkendali.

Navis pun merasakan kedutan dan semburan cairan orgasme dari memek Sarah yang membuatnya tersenyum lebar.

“Hehehe… enak kan Sar?”

Ia kini menarik tubuh Sarah untuk berdiri. Navis sendiri duduk di sofa empuk yang tadi ia jadikan tempat pemerkosaannya. Sarah yang masih lemas dan tak menyangka orgasme pertamanya begitu dahsyat.. mengikuti dengan pasrah perintah Navis yang mengarahkannya untuk duduk mengangkangi kontolnya. Posisi Sarah yang kini menduduki Navis yang duduk di sofa, membuatnya bebas untuk melarikan diri. Namun hal ini tak ia lakukan. Ia kini tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Yang ia ingin rasakan adalah kenikmatan bertubi-tubi dari kontol Navis yang kini sedang berada di bawah memeknya yang masih mengedut-ngedut ringan akibat pengaruh permainan kontol Navis barusan.

Sambil memegang bahu Navis sebagai pegangan, Sarah pun mulai menurunkan lubang memeknya hingga pas berada di ujung kontol Navis yang masih berdiri tegak dan keras.

“Punya lo kok masih keras gini, hah? Lo pake obat ya?” ujar Sarah yang walaupun sudah tak berontak namun tetap bernada galak.

“Aahh.. udah lah. Lo genjot aja kontol gue.. Ga usah banyak tanya!” jawab Navis sambil tangannya memegang panggul Sarah dan menekannya ke bawah sehingga kontolnya mulai memasuki memek Sarah kembali yang hangat.

“HHmmmppphh! Aaahhhhssss… ” Sarah hanya bisa memejamkan matanya, merasakan betapa nikmatnya kontol Navis yang begitu besar mengisi lorong memeknya dengan sempurna.

Sebagai jawabannya, ia kini mulai menggenjot kontol Navis dengan gerakan yang begitu liar. Naik turun dan putaran pinggulnya membuat pantatnya beradu keras dengan kedua paha Navis, hingga berbunyi “Plak.. plaks… ceplaks!” dengan kencangnya.

“Hmmmmhh.. Ternyata jago juga lo ngebor kontol ya, perek?” Navis berbicara kotor pada Sarah, sambil merem melek keenakan merasakan kocokan memek Sarah atas kontolnya.

Perkataan kotor Navis, malah membuat Sarah semakin bergelora. Ia meraih salah satu toketnya, lalu menyodorkannya ke mulut Navis yang langsung merespon dengan sigap.

Puting Sarah yang memang sudah mengeras karena udara dingin dan juga karena gelora nafsu birahi yang menguasainya, dilumat oleh bibir Navis dengan penuh nafsu. Ia sedot dan jelajahi dengan lidahnya semua area puting toket Sarah yang begitu kenyal dan besar.

“Aahhhhss… Enaaaak… terruusss bangsaaat!” Sarah pun menjawab dengan perkataan yang tak kalah kotornya.

Ia melemparkan kepalanya kekiri dan kekanan, membuat rambut panjangnya berlenggak lenggok dengan indah seperti gadis di iklan shampoo, sebagai pertanda ia begitu menikmati permainan seks yang sudah lama tak ia rasakan dengan begitu liarnya.

Kini Navis praktis hanya duduk manis dan membiarkan Sarah menguasai permainan dengan dahsyatnya lenggak lenggok pinggulnya mengocok kontol yang masih dengan kuat bertahan. Ia setengah mati menahan gejolak kontolnya agar jangan meledak terlebih dahulu. Ia masih ingin merasakan semua kenikmatan yang bisa ia raih dari tubuh Sarah Azhari.

“Shhiiiit! Kontooolll Elo enaaaaakkk bangeeeett! Entooooooootttt guaaaaaaa!” Sarah berteriak histeris dan ambruk merebahkan dadanya ke tubuh Navis di depannya, bersamaan dengan ledakan orgasme kedua yang dirasakan sangat nikmat oleh Sarah mengisi sekujur tubuhnya.

Memeknya berkedut-kedut kencang sekali, sekaligus memijat kontol Navis dengan remasan-remasan mesra. Seluruh tubuhnya kini basah berkeringat dan menempel lengket dengan tubuh Navis yang juga tak kalah basah.

Masih dalam posisi Sarah menduduki kontolnya, Navis pun memeluk Sarah dan mulai mengelus-elus punggung Sarah, lalu bagaikan kekasih yang baik ia mengecup bahu Sarah dengan lembut.

Sarah yang masih terpejam merasakan nikmatnya orgasme keduanya, sejenak melupakan siapa orang yang sedang mengecupnya saat ini. Yang ia tahu, seisi relung tubuhnya sedang bergejolak merayakan perayaan besar yang sudah lama tidak ia rasakan.

Navis pun beranjak dari atas sofa lalu berdiri sambil memegangi Sarah yang masih lunglai lemas sambil terpejam. Ia berdiri di depan Sarah lalu kemudian memutar tubuhnya, sehingga kini ia berada di belakang Sarah. Kedua tangannya mengelus toket Sarah dengan lembut dari belakang, lalu ia pun mengecup leher dan bahu Sarah dengan perlahan dan penuh kemesraan.

Sarah yang masih terlena, pun tersenyum dan melirik sebentar ke arah Navis yang sedang sibuk memberi kenikmatan di titik terlemah di lehernya.

Kontol Navis yang masih juga tegang dan keras terasa menekan belahan pantatnya dari belakang dengan perlahan.

“Lo gelo juga ya? Gue udah kelejotan kaya gini, kontol lo masih belum keluar juga!” Sarah hanya berkata lembut mengomentari gerakan kontol Navis yang bergerak ringan menggoda belahan pantatnya.

“Hmmmm..” Navis hanya menggumam ringan, sambil memandu tubuh Sarah, sehingga kini kedua tangannya berpegangan ke sandaran sofa.

Dengan posisi yang agak menungging seperti ini, Sarah pun segera faham bahwa Navis ingin mengocok memeknya dalam posisi doggie style sambil berdiri.

“Hehe.. anjing lo ya, tau aja kalo gue paling suka kalo di doggy dari belakang.” Sarah sudah lupa daratan.

Yang ia tahu sekarang, ia adalah budak dari Navis. Dan untuk semua kenikmatan yang sudah ia peroleh, ia pasrah akan semua perlakuan Navis kepada tubuh montoknya. Yang ia inginkan adalah kenikmatan demi kenikmatan datang dan meledak di dalam tubuhnya.

“Hehe.. artis perek, lo udah siap buat gue jebol dari belakang?” Navis pun buka suara seakan menandai serbuan kontolnya yang sebentar lagi akan beraksi.

“Ah, rese lo! Buruan masukin kontol gede lo… Memek gue udah dingin lagi nih..” Sarah pun menjawab ancaman Navis dengan nada gurauan.

“Siapa bilang memek lo? Gue mau jebol lobang pantat lo yang seksi ini.. Gue yakin pasti belom ada yang merawanin lobang pantat lo kan, Sar.. hehehe.” Navis pun mulai menggerakan kontolnya ke permukaan dubur Sarah.

“EEEHHHH! Apaan tuh! Gue ga mau dianal!! Anjiiiiiiiing Lo!!” Seketika Sarah pun panik ketika menyadari bahwa Navis telah menjebaknya.

Namun posisinya yang terkunci seperti ini membuatnya tak berdaya untuk melepaskan dirinya.

Navis pun semakin beringas mendengar erangan Sarah yang panik. Birahinya semakin naik, dan dengan cepat ia menusukkan kontolnya yang besar ke lubang dubur Sarah yang masih sempit..

“AAAAAAAAAGGGGHHHHHH!! Sakiiit Bangsaaat!!” Sarah melotot kesakitan akibat tekanan paksa kontol Navis di lubang duburnya yang masih kering.

Ia tak kuasa menahan air matanya yang keluar karena rasa sakit yang teramat sangat. Sementara Navis yang baru berhasil memasukkan 2/3 kontol panjangnya, mendiamkannya sebentar, agar lubang dubur Sarah beradaptasi sejenak dengan batang besar di dalamnya.

“Bang.. gue mohooon, gue jangan dianal bang.. Sakit bangeeet..” dengan memelas Sarah berusaha memohon kepada Navis, yang sekarang malah sudah dipanggilnya abang.

Harga dirinya benar-benar runtuh sekarang. Mendengar hal ini, Navis malah tertawa terbahak-bahak..

“Alaah, udah lah. Bentar lagi juga udah ga sakit. Ntar palingan lo minta nambah. Dasar perek binal!” Sambil kemudian ia memasukkan sisa ujung kontolnya ke dalam dubur Sarah.

“HHHggggghhhhhaaaaaaaaaaanjiiiiiing!” Sarah pun roboh tak bertenaga di atas sofa empuk itu karena rasa sakit yang tak terperi menderanya.

Namun Navis dengan sigap segera memegangi tubuhnya yang lunglai, kedua tangannya langsung mendekap dan menopang toket Sarah yang tergantung indah di balik punggungnya.

Sambil meremas-remas toket Sarah yang kenyal dan montok, Navis pun mulai menggenjot kontolnya maju dan mundur, masuk keluar lubang dubur Sarah yang kali ini sudah menganga lebar karena desakan paksa kontol Navis yang sangat besar di lubang dubur Sarah yang sempit.

Sambil menggigit bibirnya, Sarah merasakan betapa ngilunya lubang pantatnya akibat gesekan kontol Navis yang menggenjotnya tanpa belas kasihan. Semakin dalam Navis memasukkan kontolnya, terasa semakin luar biasa rasa sakit yang dirasakan Sarah hingga akhirnya ia meneteskan air mata, tak tahan dengan rasa sakit yang menderanya.

Gesekan Navis mulai melukai lubang dubur Sarah hingga lecet dan mulai mengeluarkan darah. Namun hal ini malah membuat Navis semakin panas dan bernapsu untuk menggenjot dengan lebih cepat.

“Hmmmmmhhhhh…, gila enak bangeeeet! Pereeek, rapet bangeet!” Navis mulai meracau dan merasakan gelombang birahi erotis di dalam tubuhnya mulai bertalu-talu naik dengan cepat dan segera mencapai klimaksnya.

Sarah sudah tak bisa lagi merasakan lubang duburnya. Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya kebal dan hanya bisa merasakan betapa besarnya kontol Navis yang masih terus menggenjotnya dengan bernapsu. Rasa sakit akibat lecet di duburnya yang mulai menghilang kini berganti dengan rasa birahi yang perlahan mulai menguasai dirinya. Terlebih remasan tangan Navis di kedua toketnya mulai dirasakannya sebagai pijatan lembut yang menenangkan hatinya.

“Hhhh… baaaaangg… ampuuuun baaaang, gue ga tahan niih” Sarah pun mulai bingung antara harus minta ampun atau minta Navis memberikannya klimaks berikutnya.

Ia merasakan bahwa gelombang orgasme di dalam tubuhnya mulai datang dan bagai ombak yang berdebur perlahan, semakin membuatnya terbuai. Tanpa ia sadari, salah satu tangannya mulai meraba klitorisnya sendiri. Lalu seirama dengan genjotan kontol Navis di lubang duburnya, ia pun menggelitik kelentitnya yang sudah menegang dan membesar akibat rangsangan dari tangannya sendiri.

“Nggghhh.. anjiiiing, enaaaak…!” Sarah pun meringis keenakan sambil terpejam dan tersenyum, karena ia tahu, sebentar lagi orgasme yang maha dahsyat akan segera melanda dirinya.

“Anjjis Saaar…. bool elo kenceng banget! Pereeeeeek!!! Rasain peju guaaaaa!”, Navis pun berteriak kencang ketika akhirnya ia meledakkan spermanya bersamaan dengan ditariknya kontolnya dari lubang dubur Sarah Azhari.

Hasilnya, muncratan demi muncratan sperma hangat berhamburan di punggung Sarah yang mulus.

“Hhggghh.. nnnngggghhhh… nnnggggaaaaaaaahhhhh!!!!!” muncratan sperma Navis dipunggungnya seakan memicu ledakan orgasme maha dahsyat yang sudah ditunggu-tunggu oleh Sarah.

Memeknya seakan meledak dan berkedut-kedut dengan liarnya, sembari tangannya masih menggesek kelentitnya secara perlahan, seakan berusaha memperpanjang dan menikmati orgasme yang sedang membuai dan menenggelamkan dirinya.

Melihat Sarah yang sedang dimabuk orgasme, Navis pun membalikkan tubuh Sarah dan mendudukannya di sofa. Lalu ia dekatkan kontolnya yang masih berkedut-kedut ringan memuncratkan sisa-sisa spermanya ke muka Sarah yang masih terpejam.

Seakan mengerti akan cipratan-cipratan hangat di mukanya, sambil masih terpejam, Sarah pun menjulurkan lidahnya mencari sumber cipratan yang tak lain adalah kontol Navis yang masih setengah tegang. Lidahnya dengan telaten menjilati dan membersihkan kontol Navis dari sisa-sisa sperma yang berlelehan di batang kontolnya.

Pemandangan yang indah ini, segera saja dimanfaatkan oleh Navis untuk dijadikan dokumentasi melalui kamera handphonenya.

Sarah yang masih keenakan merasakan orgasmenya sendiri, sembari menjilati dan membersihkan kontol Navis dengan telaten, tak sadar akan kamera hp Navis yang menjeprat-jepret dengan jelas wajahnya yang sedang merem melek mengulum kontol Navis.

Setelah kontolnya bersih dan mengkilat setelah dijilati lidah Sarah Azhari yang hangat, Navis pun segera bangkit dan beranjak berdiri mengambil pakaiannya yang berserakan.

Sarah yang masih telanjang bulat dan diceceri sperma Navis di sekujur muka dan punggungnya kini berselonjor tiduran di sofa, sambil membuka matanya dengan lemah, ia mulai merasakan redanya gelombang orgasme di dalam tubuhnya.

“Heeii.. bangsat, gue ga nyangka kontol lo sedahsyat ini. Anjing lo ya!” ujarnya ringan sambil tersenyum simpul, mengakui kehebatan kontol Navis dengan candaan bahasa kotor yang biasa ia lakukan dengan teman-teman prianya.

Navis pun balik tersenyum lalu berkata.

“Hehe.. sama lah Sar. Memek lo juga enak. Apalagi gue bisa ngejebol bool lo untuk pertama kalinya. Gue ga nyangka bool lo masih perawan.”

“Emang bajingan lo! Sakit banget tauu..” ujar Sarah manja, namun seakan diingatkan, kini Sarah mulai merasakan perlahan lubang duburnya sudah hilang rasa kebalnya dan rasa ngilu dan perih perlahan muncul akibat luka hebat yang masih menganga di bibir duburnya.

Melihat Navis yang melangkah pergi dan menuju pintu apartemen, Sarah pun memanggilnya,

“Heh.. bangsat, maen pergi aja. Kalo gue mau dapet orgasme dahsyat kaya gini lagi.. Gue bisa panggil elo dimana?”, dengan nada centil dan binal yang khas dirinya.

Seperti sudah melupakan apa yang dilakukan Navis dengan paksa terhadap dirinya, kini Sarah sudah menganggap Navis sebagai salah satu teman pria yang baru saja bermain seks dengannya.

Namun jawaban Navis betul-betul di luar dugaan,

“Haha.. sorry perek cakep. Lo ga mungkin gue puasin lagi.. Soalnya kontrak gue cuma sekali ini doang. Tapi gue ga nyesel kok, memek ama bool elo emang kualitas perek kelas satu!” sambil mulai membuka pintu apartemen dan melangkah perlahan keluar.

Sarah yang kebingungan mendengar jawaban Navis pun bangkit duduk dan berteriak.

“Eh…, kontrak? Kontrak apaan bangsat?!”

“Tanya aja ama Om Henry kesayangan elo itu.” jawab Navis sambil berlalu dan menutup pintu apartemen yang kemudian mengunci dengan otomatis.

Jawaban pendek Navis yang terakhir ini seakan menjadi gledek yang menggetarkan tubuh Sarah Azhari yang sekarang duduk terbengong tak percaya. Kedua matanya yang bulat dan nyalang terbuka tampak kosong, sepolos tubuhnya yang mulus yang terduduk di atas lembutnya sofa.

Perlahan ia berusaha memahami apa yang bakal terjadi pada dirinya setelah perkosaan yang dilakukan dengan terencana oleh Navis Qurtubi dan Om Henry Yosodiningrat yang sangat dipercayainya itu.

Jebakan Pak Dhe

Ceritaku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya,
meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang
namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.

Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya
namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku
dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe,
hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.

Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di Malang,
Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan
dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan
aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman laki-lakiku.

Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik,
tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan susu yang gede
tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis.
Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang,
mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat kuat
sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu memuaskan tempikku,
meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang puas!

Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit,
aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul 15.00 tadi,
padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi.

“He..eh” aku pun cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.

“Hallo!” suara perempuan mengagetkanku dari lamunan.

“Ya !” jawabku sambil berdiri.

Sejurus aku memandang kearah perempuan itu, Cantik!

“Nona Rinelda?” dia bertanya sambil mengulurkan tangan mempersilahkan aku kembali duduk.

Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda,
dia memakai jam gede di tangan kanannya,
dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkanku pada teman SMP ku di Malang,
ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model,
setelah berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu modelnya.
Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja,
aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.

Sesampainya di jalan sebelum rumahku,
sekedar Anda tahu bahwa sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari ibuku.
Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya,
mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-temanku
memang mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.

“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !”
ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.

“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.

Sampai di rumah pukul 18.30.
aku langsung mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.

“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” kudengar suara BuDhe Tatik dari dalam kamarnya.

“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.

”Kerja yang benar jangan melawan sama atasan
terima saja perintah atasan karena mencari pekerjaan itu sulit
dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang kamu kerjakan”
kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku.

Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok
apalagi jika berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahunan,
cukup seksi dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS,
dia pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau teman-temannya.
Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke kamar.

Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek.
Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti
di dorong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis,
sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.

Sedikit kubuka pintu kamarku,
betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya
sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantatnya bergerak maju mundur.

“Ougghh...Aagghh..sstthh..” suara yang keluar dari mulut BuDhe.

Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya,
badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana
karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku.
Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil duduk
akhirnya PakDhe menarik Batang Kontolnya dari dalam tempik BuDhe,
ya ampun ternyata Batang Kontolnya lumayan gede
lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku,
akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang kerja,
pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku,
namun ternyata PakDhe tidak peduli
dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku,
namun saat itu PakDhe hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya
yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.

Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangannya memegang kursi di hadapannya.

“Ayo mas cepet keburu tempiknya kering”
pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak mendengar
dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat.

Kulihat kali ini PakDhe mengeloco tongkolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.

“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut.

Akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka membelakangi kamarku.
Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tanganku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai,
ku tekan pada itilnya.

“Ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini.

Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.

“Tempikmu… uenak..Tik pe… res… Batang Kontolku sampe keenakan...”
kata-kata terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.

“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.

“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah berteriak.

Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot dengan lebih giat
kali ini tangannya memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu
dan akhirnya laki-laki itupun menekan tongkolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut.
Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada tongkol
dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot
BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum,

“Hek” aku kaget setengah mati segera kututup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku,
beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi.

Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.

Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi,
“yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.

Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno.
Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar
dan memiliki Batang Kontol yang kokoh tegak berdiri
dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan Batang Kontol laki-laki,
tapi terkadang aku merasa ada yang kurang
dan memang aku butuh Kontol yang sebenarnya,
Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu.
Kulihat jam di dinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besok aku kan mulai kerja!

Sialan gara-gara Kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa?

“Aah sialan!” umpatku dalam hati.

Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam,
pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar,
aku langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi,
terkadang aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan aktivitasku sendiri,
aku merasa adalah suatu yang lumrah karena aku menumpang disini.

Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar,
sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali,
kulihat senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.

Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku
“terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat Batang Kontol yang gede milik PakDhe.

“Aahh” rupanya tanganku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus
dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya,
tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya,

“Sialan!” pikirku dalam hati.

Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiranku.
Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku,
kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.

“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,

“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk.

Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu sampai atas lututnya,
wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.

“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.

“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.

“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan”
katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.

“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.

Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,

“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,

“Ada yang bisa saya bantu mbak?” tanyanya dengan sopan.

Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang
dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.

“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.

“Bu Rifda Miranti? Pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan.
Aku cuma mengangguk.

“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya,
ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling.

“Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.

“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu”
katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar.

Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini,
tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran,
kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku,
tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita.

“Rinelda?”

“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kearah datangnya suara tadi,

“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.

“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kembali bertanya.

“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!”
sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.

“Tunggu sebentar ya” kata Agatha.

Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik,
berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.

“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar.

Ternyata di dalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya .

”Nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda”
kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.

“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka”
aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda.

Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,

“Rif, kami perlu kerja di dalam studio”
kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera.

Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.

“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha.

Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut,
ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis
dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya,
kucoba untuk mendekat pada ruangan itu,
aku semakin penasaran kerja macam apa kok suaranya seperti…
Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi…

“Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.

“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya,
tertulis didepan pintu ruangan tersebut.

“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati.

Di dalam ruangan itu terdapat banyak foto diatas meja.

“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.

“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku.

“Ah..ya..” dia menunjuk kearah belakangnya.

Aku langsung bergerak ke sana,
masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….
” Suara khas air yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samar-samar suara laki-laki.

“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu terdengar suara wanita tertawa,
segera ku ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi.

Setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu Rifda
sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini,
saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian,
kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih
cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.

“Maaf bu” kataku,

“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya,

“Ini bu?” kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri.

“Ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF.

Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.

“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin
karena target penjualan kita adalah kaum Pria” katanya sambil membenahi pakaiannya,

“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi”,
aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya.

“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,

“Kenapa?” dia balik bertanya,

“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,

“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya”
katanya sambil menunjuk sebuah televisi berukuran raksasa di belakangku.

Betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku,
ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di sebuah ruangan kosong
yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu,
setengah tak percaya kembali kulihat kearah bu Rifda,
dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di layer tersebut,
aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar,
tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci!
Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan adegan Agatha
dan laki-laki itu dihadapannya.

“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau
tapi itu tak akan berguna karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.

“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu
atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam.

Aku pun telah paham bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa,
saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu
dan tanpa kusadari dia telah menarik tanganku ke belakang dan mengikatnya dengan tangkas,
aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.

“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu” katanya,
sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku.

Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang,
dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak,
dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,

“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku dalam hati.

Dari layar raksasa dihadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.

‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?”
tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menaikan volume pada remote controlnya.

“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya.

Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu,
tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.

“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.

“Tapi Batang Kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha tak terselesaikan.

“Jangan munafik Rin kamu pasti terangsang kan?”
lagi suara Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…

“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.

Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak

“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!”
kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha.

Kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya
sementara laki-laki itu menekan-nekan tongkolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha
yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu,
cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…

“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!”
nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah
namun si lelaki itu terus mengocok KOntolnya yang masih menegang itu sambil tangannya
memegang bongkahan pantat Agatha,
aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku,
seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.

“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha.

Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata

“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang aku rasakan.

“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.

“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!”
lalu dia menekan kembali remote di tangannya kearah layar raksasa dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!

Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Rifda,
dia sedang sibuk mengulum KOntol seorang laki-laki disebuah ruangan
yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus,
ku lihat pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya,
sementara tangan kiri BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.

“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati tongkol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.

“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.

“Maksudmu?” tanyaku,

“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu,
belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal berbuat dengan orang lain
seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.

“Kontolmu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !”
kali ini BuDhe nampak gemas memegang Batang Kontol besar itu dengan kedua tangannya,
Batang Kontol pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe seperti yang kulihat tadi malam.

“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang”
katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.

“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya”
aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini,
Rifda mengosok-gosokkan Batang Kontol mainan itu ke arah selakanganku,
aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar!

Dia membuka resleting celanaku,
sekali lagi aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu.
Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai,
diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari layar didepanku.

“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!”
kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengangkang
memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak.

Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya.
Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.

“Wah ternyata jembut kamu tebal juga Rin”
kata Rifda kemudian tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya,
kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya,
sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,

Saat Rifda sedang sibuk mengemek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan menjadi sangat terang,
dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini.
Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.

“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini”
ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe!
tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Rifda.

“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini”
kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang.

Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.

Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitarku saat ini,
saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku
dengan menggerakkan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe,
laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.

“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !”
kata Rifda sambil melihatku,
tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut Batang Kontol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang,
sementara tangan PakDhe meremas-remas susu Rifda yang cuma terbuka pada putingnya
sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.

“U… uh” kata Rifda gemas mengocok Batang Kontol di tangannya.

“Sudah, langsung aja masukin Kontolmu pak!”

“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?”
Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda.

Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya membelakangi tubuh PakDhe,
dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang tongkol yang dipegangnya kearah tempik Rifda
yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda
yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya
sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.

“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!”
kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan tongkolnya lebih dalam.

Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak
karena gerakan tubuhnya sementara Batang Kontoll PakDhe yang sedang berusaha
memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.

“Ah….” Batang Kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe
kemudian menarik Batang Kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir Kontol itu menggelantung.

“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kearahku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.

”Tunggu giliranmu”.

“Betapa nikmat kalau Batang Kontol itu bersarang pada tempikku”
kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol.
Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka,
andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!

“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!”
teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri–kanan mengimbangi sentakan PakDhe.

“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda
yang diterjang tongkol gede itu seolah bersorak senang.

Saat kusedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit
kutarik tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan,
namun diluar kesadaranku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri
lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan menghentikanku,
yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu.
Aku butuh keperluan biologis itu!
Aku butuh Batang Kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya
bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi!
Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dan Rifda didepanku,
Rifda nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.

‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”

“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si tongkol menerobos tempik Rifda.

Kulihat tongkat mainan persis tongkol yang diletakkan dimeja oleh Rifda,
tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda,
kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!

Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini,
kali ini aku bermaksud memasukkan tongkol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…

“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda
setiap PakDhe menarik Batang Kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.

Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka
dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum,
sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya.
Kukeluarkan pelan-pelan tongkol mainan dari dalam tempikku.

Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah Batang Kontol besar seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi,
yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan Kontol besar dan panjang itu,
kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku,
aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan,
aku tak pedulikan itu aku cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan!
Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang Batang Kontol laki-laki itu.

“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… tongkolmu… auh… Rudi… say… ang… eh…”
Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe.

Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan Batang Kontolnya kemulut Rifda.

“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ”
tampak mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah pisang yang besar,
aku segera bangkit dan menghampiri mereka,
yaah aku tak rela jika Kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda
dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.

“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!”
Rifda tertawa setelah Batang Kontol dimulutnya terlepas setelah
laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak Kontol besar setengah mengacung itu mengarah padaku.

“Wao…” tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.

“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !”
kata Rifda seolah senang dengan apa yang kuperbuat,
kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur,
kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,

“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermainkan kontolku dengan mulutmu.

“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.

Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu
bahwa mulutku sangat hebat dalam hal ciuman bibir
dan mengulum Batang Kontolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.

“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini!

“Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala Kontolnya,
sambil memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.

“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda,
matanya merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya.

Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan Batang Kontolnya
dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe,
Rudi pelan-pelan menarik Batang Kontolnya dari mulutku,
yah PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda,
aku ragu apakah aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini,
namun PakDhe ternyata langsung menarik pantatku
hingga tubuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan Batang Kontolnya berada tepat didepan tempikku,
mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan Kontol PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit.

“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.

“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..”
kata PakDhe sambil menarik Batang Kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku tertarik.

“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot Batang Kontolnya itu keluar masuk.

Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat.

“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol luar dalam namun ennaak sekali,
sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini,
aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku.

Saat sibuk menikmati sodokan Kontol di tempikku,
sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat
yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat
sehingga memudahkan Kontol  gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya,
tak berapa lama Rifda sudah menggelepar keenakan…

“Sudah Rud… Aahh.. aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya.
sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu.

“Rin… memek… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah”
PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan Kontol nya ke milikku yang memang masih peret,
dia menarik tongkolnya dan mengeluarkan pejunya pada susuku dan wajahku.

“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala Kontol nya.

“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme!

Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan Kontol nya yang mulai mengecil,
saat kupandang Rudi yang mengocok Kontol nya sendiri dia tersenyum padaku
dan akhirnya Kontol  yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku,
aku tahu dia ingin posisi anjing nungging,
kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi,
tak berapa lama tongkol Rudi sudah digesek-gesekkan pada pantatku yang putih mulus,

“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku nakal,
aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini,
akhirnya Rudi pun memasukan batang Kontolnya ke dalam tempikku.

“A… euh… ah… em… ya… ”
Kontol  yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku.

Pantas Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.

“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur Kontolnya
sementara tangannya meremas payudaraku yang menggelantung terlihat tambah besar dan bibirnya mencium punggungku,
cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang,
kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya
dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan Kontol nya dari depan.

“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ”
nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah kulakukan dengan mantan suamiku dulu.

Sensasi yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini,
sentakannya sangat mantab dan sodokkan Kontolnya sangat luar biasa.

“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… dengan kontol besarmu itu… Ter… us… sh… Aagghh”
kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar biasa
dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini.

Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…

“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas!
Jeritku dalam hati ini penis yang aku harapkan setiap masturbasi,
sementara Rudi tetap mengocok Kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,

“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach”
akhirnya Rudi menarik Kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan spermanya ke mukaku.

“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.

Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up mukaku yang tampak ceria!

Akhirnya, aku menikmati semua ini,
semua kulakukan dengan senang hati.
Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan Agatha adalah teman SMPku,
sehingga aku bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.

Andi ngentot mama tirinya

Aku memang punya ‘kelainan’ yaitu Oedipus Complex,
senang dan terangsang bila melihat wanita lebih tua (STW) yang cantik.
Nafsuku akan menggebu-gebu.
Semua itu berpengaruh di tempat tidur karena akan lebih hot karena dasarnya aku suka sekali.
Pengalaman berikut adalah yang aku alamin saat remaja.
Mungkin pula pengalaman ini yang membekas di pikiranku secara psikologis
sehingga aku menjadi lelaki yang suka wanita lebih tua.
Pengalaman di bawah ini nggak akan pernah aku lupa.

Saat usia 10 tahun,
Papa dan Mama bercerai karena alasan tidak cocok.
Aku sebagai anak-anak sih nerima aja tanpa bisa protes.
Saat aku berusia 15 tahun, Papa kawin lagi.
Papa yang saat itu berusia 37 tahun kawin dengan Tante Nuna yang berusia 35 tahun.
Tante Nuna orangnya cantik,
setidaknya pikiranku sebagai lelaki di usia ke 15 tahun
yang sudah mulai merasakan getaran terhadap wanita.
Tubuhnya tinggi, putih, pantatnya berisi dan buah dadanya padat.
Saat menikah dengan Papa, Tante Nuna juga seorang janda tapi nggak punya anak.

Sejak kawin, Papa jadi semangat hidup berimbas ke kerjanya yang gila-gilaan.
Sebagai pengusaha, Papa sering keluar kota.
Tinggallah aku dan ibu tiriku di rumah.
Lama-lama aku jadi deket dengan Tante Nuna yang sejak bersama Papa aku panggil Mama Nuna.
Aku jadi akrab dengan Mama Nuna karena kemana-mana Mama minta tolong aku temenin.
Di rumah pun kalo Papa nggak ada aku yang nemenin nonton TV atau nonton film VCD.
Aku senang sekali dimanja sama Mama baruku ini.

Setahun sudah Papa kawin dengan Mama Nuna tapi belom ada tanda-tanda kalo aku bakalan punya adik baru.
Bahkan Papa semakin getol cari duit dan sering banget keluar kota.
Aku dan Mama Nuna semakin akrab aja.
Sampai-sampai kami seperti tidak ada batasan sebagai anak tiri dan ibu tiri.
Kami mulai sering tidur di satu tempat tidur bersama.
Mama Nuna mulai nggak risih untuk mengganti pakaian di depanku walaupun tidak bener-bener telanjang.
Tapi terkadang aku suka menangkap basah Mama Nuna lagi berpolos ria mematut di depan kaca sehabis mandi.
Beberapa kali kejadian aku jadi hapal kalo setiap habis mandi
Mama pasti masuk kamarnya dengan hanya melilitkan handuk dan sesampai di kamar handuk pasti ditanggalkan.

Beberapa kali kejadian aku membuka kamar Mama yang nggak dikunci
aku kepergok Mama Nuna masih dalam keadaan tanpa sehelai benang sedang bengong di depan cermin.
Lama-lama aku sengajain aja setiap selesai Mama mandi beberapa menit kemudian
aku pasti pura-pura nggak sengaja buka pintu dan pemandangan indah terhampar di mata mudaku.
Sampai suatu ketika,
mungkin karena terdorong nafsu laki-laki yang mulai menggeliat di usia 16 tahun,
aku menjadi bernafsu besar ketika melihat Mama sedang tiduran di kasur tanpa pakaian.
Matanya terpejam sementara tangannya menggerayang tubuhnya sendiri sambil sedikit merintih.
Aku terpana di depan pintu yang sedikit terbuka dan menikmati pemandangan itu.
Lama aku menikmati pemandangan itu.
Kontolku berdiri tegak di balik celana pendekku.
Ah, inikah pertanda kalo anak laki-laki sedang birahi? batinku.
Aku terlena dengan pemandangan Mama Nuna yang semakin hot menggeliat-geliat dan melolong.
Tanpa sadar tanganku memegang dan memijit-mijit si otong kecil yang sedari tadi tegang.
Tiba-tiba aku seperti pengen pipis dan ahh koq pipisnya enak ya.
Akupun bergegas ke kamar mandi seiring Mama Nuna yang lemas tertidur.

Kejadian seperti jadi pemandanganku setiap hari.
Lama-lama aku jadi bertanya-tanya.
Mungkinkah ini disengaja sama Mama?
Dari keseringan melihat pemandangan ini rupanya terekam di otakku
kalau wanita cantik itu adalah wanita yang lebih dewasa.
Wanita berumur yang cantik di mataku terlihat sangat sexy dan sangat menggairahkan.

Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku.
Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama.
Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas.
Kuberanikan untuk mendekat.
Mumpung perempuan cantik ini lagi tidur, batinku.
Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu
kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada di depanku.
Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama.
Aahh.., si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas.
Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa dibendung,
kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna… pelan… pelan.
Mama diam aja, aku semakin berani.
Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama tiriku.
Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF.
Aku bertindak lebih lanjut dengan mengisap puting susu Mama. Mama masih diam, aku makin berani.
Terinspirasi film blue yang kutonton bersama temen-temen,
aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk.
Aku tiduran di samping Mama sambil memeluk erat.

Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba-tiba bergerak dan membuka mata.
Mama Nuna menatapku tajam.

“Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?” tanya Mama.

“Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu” jawabku takut-takut.

“Kamu mulai nakal ya” kata Mama sambil tangannya memelukku erat.
“Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah lama Mama nggak dipeluk papamu.
Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk” jelas Mama.

Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku.
Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam.
Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu.
Aku membalas ciuman Mama tiriku yang cantik.
Semuanya berjalan begitu saja tanpa direncanakan.
Lidah Mama kemudian berpindah menelusuri tubuhku.

“Kamu sudah dewasa ya Ndy, gak apa-apa kan kamu Mama perlakukan seperti papamu”
gumam Mama disela telusuran lidahnya.
“Punya kamu juga sudah besar, sebesar punya papamu tapi lebih keras dan tegang”, cerocos Mama lagi.

Aku hanya diam menahan geli dan nikmat.
Mama lebih banyak aktif menuntun (atau mengajariku).
Kontolku kemudian dijilatin Mama.
Ini membuat aku nggak tahan karena kegelian.
Lalu punyaku dikulum Mama. Oh indah sekali rasanya.
Lama aku dikerjain Mama cantik ini seperti ini.

Mama kemudian tidur telentang,
mengangkangkan kaki dan menarik tubuhku agar tiduran di atas tubuh indahnya.
Mama kemudian memegang KONTOLku,
mengocoknya sebentar dan mengarahkan ke selangkangan Mama.ke lubang memek Mama.
Aku hanya diam saja.
Terasa punyaku sepertinya masuk ke vagina Mama
tapi aku tetep diam aja sampai kemudian Mama menarik pantatku dan menekan.
Berasa banget punyaku masuk ke dalam punya Mama.
Pergesekan itu membuat merinding.
Secara naluri aku kemudian melakukan gerakan maju mundur biar terjadi lagi gesekan.
Mama juga menggoyangkan pinggulnya.
Mama yang kulihat sangat menikmati bahkan mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya
sehingga aku seperti sedang naik kuda di atas pinggul Mama.

Tiba-tiba Mama berteriak kencang sambil memelukku erat-erat,
“Andyy..,aahh... Mama enak Ndy...sshh.. aahh..Kontol kamu enak ..banget..sshh..” teriak Mama.

“Ma, Andy juga enak nih mau muncrat. memek Mama seret banget kek perawan...Aahh.....”
dan aku ngerasain sensasi yang lebih gila dari sekedar menonton Mama kemarin-kemarin.

Aku lemes banget, dan tersandar layu di tubuh mulus Mama tiriku.
Aku nggak tau berapa lama, rupanya aku tertidur, Mama juga.
Aku tersadar ketika Mama mengecup bibirku dan menggeser tubuhku dari atas tubuhnya.
Mama kemudian keluar kamar dengan melilitkan handuk, mungkin mau mandi.
Akupun menyusul Mama dalam keadaan telanjang.
Kuraba punyaku, lengket sekali, aku pengen mencucinya.
Aku melihat Mama lagi mandi, pintu kamar mandi terbuka lebar.
Uhh, tubuh Mama tiriku itu memang indah sekali.
Nggak terasa punyaku bergerak bangkit lagi.
Dengan posisi punyaku menunjuk aku berjalan ke kamar mandi menghampiri Mama.

“Ma, mau lagi dong kayak tadi, enak” kini aku yang meminta.

Mama memnandangku dan tersenyum manis, manis sekali. Kamipun melanjutkan kejadian seperti di kamar.

Kali ini Mama berjongkok di kloset lalu kontolku yang sedari tadi mengacung
aku masukkan ke vagina Mama yang memerah.
Kudorong keluar masuk seperti tadi.
Mama membantu dengan menarik pantatku dalam-dalam.
Nggak berapa lama Mama mengajak berdiri
dan dalam posisi berdiri kami saling memeluk dan batang Kontolku menancap erat di vagina Mama.
Aku menikmati ini, karena punyaku seperti dijepit.
Mama menciumku erat.
"Ouugghh..Ndy, Kontol kamu sshh.. enak banget...aahh...Memek Mama kenakan sayang,..sshh..."
racau Mama sejadi jadinya.
"Terruuss.. Ndy, sodok yg kencang, puasin Mama sayang..sshh..Ouugghh..."
Mama terus teriak terik keenakan akibat sodokan Kontol besarku di memeknya.
Baru kusadari kalau badanku ternyata sama tinggi dengan mamaku.
Dalam posisi berdiri...
"..Aahh..Mammaa...Memekk..kamu eennaaaakkk banget...Ma...Ougghh..."
aku kemudian merasakan kenikmatan ketika cairan kental kembali muncrat dari punyaku
sementara Mama mengerang dan mengejang sambil memelukku erat,
"..sshh.. AAaahhh...Kontol kamu Ndy..aahh..lebih enak punya..kamu dari pada Papamu...sshh..
berasa banget di lubang memek mama...aahh..aku mau ..sshh..keluarrrr...Shit !!.. "
teriak Mama histerisnya, sambil tersengal sengal tanda mencapai klimaksnya yang kedua...
Akhirnya Kami sama–sama lunglai.

Setelah kejadian hari itu,
aku selalu melakukan persetubuhan dengan Mama tiriku.
Hampir setiap hari sepulang sekolah, bahkan sebelum berangkat sekolah.
Lebih gila lagi kadang kami melakukan walaupun Papa ada di rumah.
Sudah tentu dengan curi-curi kesempatan kalo Papa lagi tidur.
Kehadiran Papa di rumah seperti siksaan buatku karena aku nggak bisa melampiaskan nafsu terhadap Mama.
Aku sangat menikmati.
Aku senang kalo Papa keluar kota untuk waktu lama, Mama juga seneng.
Mama terus melatih aku dalam beradegan sex.
Banyak pelajaran yang dikasih Mama,
mulai dari cara menjilat vagina yang bener,
cara mengisap buah dada, cara menggenjot yang baik.
Pokoknya aku diajarkan bagaimana memperlakukan wanita dengan enak.
Aku sadar kalo aku menjadi hebat karena Mama tiriku.

Sekitar setahun lebih aku menjadi pemuas Mama tiriku menggantikan posisi ayah.
 Aku bahkan jatuh cinta dengan Mama tiriku ini.
Nggak sedetikpun aku mau berpisah dengan mamaku, kecuali sekolah.
Di kelas pun aku selalu memikirkan Mama di rumah, pengen cepet pulang.
Aku jadi nggak pernah bergaul lagi sama temen-temen.
Sebagai cowok yang ganteng, banyak temen cewek yang suka mengajak aku jalan tapi aku nggak tertarik.
Aku selalu teringat Mama.
Justru aku akan tertarik kalo melihat bu guru Ratna
yang umurnya setua Mama tiriku
 atau aku tertarik melihat bu Henny tetanggaku dan temen Mama.

Tapi percintaan dengan Mama hanya bertahan setahun lebih karena kejadian tragis menimpa Mama.
Mama meninggal dalam kecelakaan.
Ketika itu seorang diri Mama tiriku mengajak aku nemenin tapi aku nggak bisa karena aku ada les.
Mama akhirnya pergi sendiri ke mal.
Di jalan mobil Mama tabrakan hebat dan Mama meninggal di tempat.
Aku merasa sangat berdosa nggak bisa nemenin Mama tiriku tercinta.
Aku shock.
Aku ditenangkan Papa.

“Papa tau kamu deket sekali dengan Mama Nuna,
tapi nggak usah sedih ya Ndy, Papa juga sedih tapi mau bilang apa” kata papaku.

Selama ini papaku tau kalo aku sangat deket dengan Mama.
Papa senang karena Papa mengira aku senang dengan Mama Nuna dan menganggapnya sebagai Mama kandung.
Padahal kalau Papa tau apa yang terjadi selama ini.
Aku merasa berdosa terhadap Papa yang dibohongi selama ini.

Tapi semua apa yang diberikan Mama Nuna, kasih sayang, cinta dan pelajaran sex sangat membekas di pikiranku.
Sampai saat ini,
 aku terobsesi dengan apa semua yang dimiliki Mama Nuna dulu.
Aku mendambakan wanita seumur Mama, secantik Mama,
sebaik Mama dan hebat di ranjang seperti Mama tiriku itu.
Kusadari sekarang kalo aku sangat senang bercinta dengan wanita STW semuanya berawal dari sana.
Akhir kumulai perjalanku dengan bercinta dengan wanita wanita setangah baya...

Tammat.